Gejolak Masa Muda 2

Gejolak Masa Muda 2
Martin Datang


__ADS_3

Di lobi rumah sakit, Rani dan Miko bertemu dengan orang yang tidak disangka-sangka. Martin. Dia berdiri di dekat pintu depan, dan begitu melihat Rani dan Miko, Martin langsung berjalan menghampiri keduanya.


Miko refleks memasang sikap defensif—berdiri sedikit di depan Rani, memelototi Martin. Tapi yang dipelototi tampaknya tidak sadar, atau tidak peduli, karena Martin terus saja berjalan. Martin baru berhenti setelah jaraknya dirasanya cukup dekat dengan Rani dan Miko.


”Ngapain lo ke sini?” desis Miko tidak senang.


”Gue mau bicara sama Rani,” kata Martin.


”Jangan ngimpi!” bentak Miko. ”Gue nggak akan ngizinin lo bicara sama Rani.”


Martin menatap langsung kepada Rani. ”Rani, please,” pintanya. ”Gue janji nggak akan makan waktu lama.”


Martin tampak begitu memelas sehingga Rani jadi tidak tega menolaknya. Rani memang membenci Martin karena Martin telah memukuli Ghevin, tapi akan memberinya kesempatan untuk menjelaskan.


”Lima menit,” cetus Rani.


Miko terkejut karena Rani masih mau bicara dengan Martin. ”Rani, dia bisa melukai lo,” Miko memperingatkan.


”Gue nggak akan melukai Rani,” protes Martin.

__ADS_1


”Setelah lo menyanderanya, apa lo pikir gue bakal percaya?” balas Miko.


Rani buru-buru menengahi mereka. ”Lo bisa mengawasi kami,” usulnya pada Miko. ”Jadi kalo dia berani macam-macam, lo akan melihatnya.”


Miko masih tampak keberatan, tapi akhirnya setuju juga. Dia menjauh dari Rani dan Martin, memberi mereka privasi, tapi tetap di tempat dia bisa mengawasi mereka.


Setelah ditinggal berdua, atmosfer di antara Rani dan Martin langsung berubah canggung. Tentu saja. Belum lama, Rani disandera olehnya. Bagaimana mereka jadi tidak canggung?


Akhirnya Martin yang terlebih dulu membuka mulut. ”Gimana keadaan Ghevin?” tanyanya.


”Dia masih lemas, tentu saja,” Rani memberitahunya. ”Tapi dia nggak apa-apa.”


”Gue nggak bermaksud melukai Ghevin sampai separah itu, Ran,” gumam Martin tiba-tiba. ”Gue emang udah sesumbar bakal bikin dia babak belur. Tapi niat gue memukulinya hanya untuk membalasnya, bukan untuk... membunuhnya.”


”Gue tahu lo nggak berniat membunuhnya,” tanggap Rani. ”Lagi pula, yang terjadi sama Ghevin juga bukan sepenuhnya salah lo. Itu salah gue juga. Lo emang menepak tangan gue, tapi gue yang menabrak rak itu dan menyebabkan potongan-potongan kayu itu jatuh.”


”Makasih atas pengertian lo, Ran,” ucap Martin.


"Wow, seorang Martin Julian mengucapkan terima kasih sama gue!"

__ADS_1


”Sekarang gue sadar bahwa kata-kata lo saat di markas geng Chebol tadi emang benar. Gue emang nggak ada bedanya dengan orang-orang yang menyebabkan kakak gue meninggal. Gue ingin membalas orang-orang seperti mereka, tapi dalam prosesnya, gue malah berubah menjadi seperti mereka juga.”


”Seenggaknya kan sekarang lo udah sadar,” kata Rani menghibur Martin. ”Jadi jangan lo ulangi lagi perbuatan lo itu.”


”Gue juga udah kapok,” cetus Martin. ”Gue akan menghentikan rencana gue untuk menghancurkan geng Ghevin. Termasuk foto-foto Ghevin, yang akan segera gue hapus. Lo tahu tentang foto-foto itu, kan? Salah satu anggota geng Chebol bilang, lo mengambil laptop gue, dan gue tebak alasannya pastilah karena foto-foto itu.”


Sepertinya preman berkepala botak itu sudah siuman, makanya dia bisa mengadu pada Martin bahwa salah satu bidadarinya mengambil laptop Martin. Omong-omong, di mana laptop itu sekarang? Terakhir Rani menjatuhkannya begitu saja di kaki tangga pabrik.


”Lo benar-benar akan menghapus foto-foto itu?” selidik Rani.


Martin mengangguk. ”Selain di laptop, gue juga menyimpan foto-foto itu di flash drive,” akunya. ”Tapi jangan khawatir, akan gue hapus semuanya.”


Berarti masalah Ghevin sudah selesai. Betapa senangnya Rani. Rani mungkin akan memeluk Martin kalau tidak ingat ada Miko yang mengawasi mereka.


”Cukup tentang Ghevin,” kata Martin. ”Sekarang gue mau bicara tentang lo.”


"Tentang gue? Nggak apa-apa deh. Belum sampai lima menit, jadi Martin masih punya waktu untuk menumpahkan unek-uneknya."


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2