
Tekad Rani, sebelum kencannya dengan Ghevin, dia sudah harus berhasil membuka laptop Martin. Maka itu, ketika dia datang ke SMA Garuda dan lagi-lagi mendapati Martin duduk di pinggir lapangan, dia langsung menghampirinya dan dengan blak-blakan menanyakan soal password.
”Teman gue nyimpan foto memalukan gue di HP-nya,” karang Rani. ”Gue ingin menghapusnya diam-diam, tapi ternyata HP-nya dikunci password. Kira-kira apa ya password yang digunakannya, supaya gue bisa membuka HP-nya?”
”Emangnya foto memalukan lo yang kayak gimana yang disimpannya?” tanya Martin, benar-benar salah fokus.
Rani berpikir-pikir sejenak. ”Mmm... foto gue lagi tidur,” putus Rani akhirnya.
”Kalo sampai lo menganggapnya memalukan, berarti lo pasti mangap pas tidur,” tebak Martin.
"Sialan Martin. Tidur gue kan imut kayak bayi."
”Gue nggak mangap pas tidur!” sentak Rani. ”Dan jangan omongin foto itu lagi! Yang mau gue tahu password-nya. Kalo lo nih, misalnya, apa yang akan lo gunakan sebagai password? Apa kombinasi angka?”
”Kalo nggak diharuskan pakai angka, gue nggak akan pakai angka.”
"Oke, jadi angka bisa disisihkan dari kemungkinan password Martin. Gue akan coba pancing lagi, dan semoga dia nggak sadar."
__ADS_1
”Jadi apa dong? Kata-kata acak?”
”Gue bisa lupa kalo pakai kata-kata acak.”
Tanpa angka dan kata-kata acak, seharusnya Rani bisa lebih mudah menebak password Martin. Tapi tetap saja masih ada sejuta kemungkinan lainnya.
”Daripada kata-kata acak,” lanjut Martin, ”mendingan pakai sesuatu yang akan selalu lo ingat, dan nggak akan pernah terlupakan.”
"Ya, ya."
Tapi mungkin, bagi orang-orang yang tahu betapa tergila-gilanya Rani pada Ghevin, akan bisa menebak password-nya pasti ada hubungannya dengan Ghevin. Serbasalah juga sih, jadinya.
Rani baru akan menanggapi Martin, tapi urung melakukannya begitu melihat wajah Martin mendadak berubah sendu.
"Lho, apa itu hanya karena Martin membicarakan password?"
Lalu Rani pun sadar, dengan kata-katanya tadi, Martin mungkin sedang membicarakan password-nya. Apa kiranya sesuatu yang akan selalu diingatnya, dan tidak akan pernah dilupakannya, yang bisa membuatnya mendadak berubah sendu begitu?
__ADS_1
Jawabannya, tentu saja kakak Martin yang sudah meninggal itu. Rani yakin sekali jika Martin menggunakan nama kakaknya sebagai password-nya. Tapi untuk lebih memastikannya, dia harus mencobanya langsung pada laptop milik Martin.
Sayangnya, Martin tidak membawa laptop. Sebelum pulang, Rani sempat mengintip ke dalam mobil Martin, dan melihat laptopnya tergeletak begitu saja di jok belakang.
Rani berdecak. "Itu kan nggak aman, bisa mancing pencuri. Contohnya ya gue. Bukan, bukan gue mau nyuri laptop Martin. Gue cuma mau pinjam sebentar."
Keesokan harinya, Matin tetap tidak membawa laptopnya, dan laptop itu tetap berada di jok belakang mobilnya. Jadi keesokan harinya lagi, dengan nekat Rani datang diantar oleh Billy. Rencananya Rani akan meminta Martin untuk mengantar dirinya pulang, dan di tengah jalan nanti, dia akan berpura-pura sakit. Begitu Martin turun untuk membelikannya obat, Rani akan mencoba membuka laptop Martin.
Sekarang harapan Rani hanyalah, semoga Martin mau mengantarnya pulang, dan semoga Martin tidak memindahkan laptopnya dari jok belakang mobilnya. Kalau tidak, bisa-bisa dia harus pulang naik ojek.
Rani lupa, seharusnya tadi dia meminta Billy menunggu sampai dirinya benar-benar diantar pulang oleh Martin.
.
.
(Bsb)
__ADS_1