
Jelas, Rani harus mencari cara sendiri untuk menghadapi Martin. Dia tidak mau lagi ditinggal seperti kemarin.
Jadi kali selanjutnya ke SMA Garuda, dia langsung ke pelataran parkir. Rani mendekati mobil Martin, dan menunggu pemiliknya sambil bersandar di pintu pengemudi. Dengan begitu Martin tidak akan bisa masuk mobil tanpa melewatinya. Yah, kecuali kalau Martin nekat masuk melalui pintu lain dan kemudian mau bersusah payah memanjat ke jok pengemudi.
Nyaris tidak ada orang di pelataran parkir itu kecuali satpam yang berada di posnya, dan pria yang sedang mengelap motor. Ketika Rani perhatikan lebih lanjut, ternyata itu pria berkumis lebat yang ditabraknya kemarin. Rani pun langsung membuang muka, berpura-pura tidak melihatnya. Rani tidak mau pria itu sampai mengenalinya dan berpikir kemarin dia terlalu baik melepaskannya pergi begitu saja, lalu memutuskan untuk mengonfrontasinya sekarang.
Hari ini cuaca begitu terik, membuat keringat Rani mengucur deras bak air dari baju yang sedang diperas. Kerongkongannya kering kerontang, dan rasanya semakin parah ketika mendadak dia teringat iced cappuccino di Kafe 69. Rani bagaikan mengalami fatamorgana—ke mana pun dia memandang, yang dilihat adalah iced cappuccino. Jika harus lebih lama lagi dijemur seperti itu, bisa-bisa dia berubah menjadi ikan asin.
Untung tidak lama kemudian Martin muncul. Kali ini Rani tahu Martin mengingatnya, sebab kadar kejutekannya bertambah dua kali lipat. Tadinya, Rani pikir orang dengan wajah jutek tidak bisa menjadi lebih jutek lagi, tapi nyatanya bisa.
"Ngapain lo ke sini lagi?" tuntut Martin tidak senang.
"Gue kan udah bilang gue mau berterima kasih sama lo," kata Rani, mencoba tidak terintimidasi oleh Martin.
"Dan bukannya gue juga udah bilang bahwa gue nggak butuh ucapan terima kasih dari lo?" Martin membalikkan.
"Nggak bisa begitu," sergah Rani. "Gue orang yang tahu berterima kasih, jadi seenggaknya gue harus melakukan sesuatu untuk membalas kebaikan lo itu."
Martin tampak begitu frustrasi. Mungkin dia berusaha mengingat kebaikan yang dilakukannya pada Rani, yang membuat dia harus meladeni kengototan Rani untuk berterima kasih.
"Oke," desah Martin, akhirnya sedikit melunak. "Emangnya apa yang akan lo lakukan untuk membalas kebaikan gue itu?"
Sebenarnya Rani belum memikirkannya. Tapi ketika muka Martin mendadak berubah menjadi iced cappuccino—efek dari fatamorgana yang belum sepenuhnya menghilang—Rani pun tahu apa yang harus dilakukannya.
"Gue mau traktir lo di Kafe 69."
Martin tertawa sinis. "Gue nggak butuh ditraktir," tolaknya. "Gue punya cukup banyak duit."
__ADS_1
"Malah pamer lagi."
"Tapi lo harus mau," paksa Rani. "Gue nggak peduli meskipun harus nyeret lo. Yang jelas lo harus mau ke Kafe 69 bareng gue."
Rani berharap, semoga saja dirinya tidak perlu menyeret Martin, sebab dia tidak akan kuat. Meskipun tubuh Martin tidak begitu besar, tapi menyeretnya sama saja seperti menyeret seekor sapi. Tapi bukan berarti Rani mengatai dia mirip sapi ya.
"Lo bukan anak sekolah ini, kan?" tanya Martin tiba-tiba.
"Bukan," geleng Rani. "Gue anak SMA Galaxy."
Wajah Martin langsung berubah. Dia tampak terkejut mendengar nama sekolah Rani. Lalu, begitu dia berhasil menguasai diri, sikapnya pada Rani jadi lebih kooperatif.
"Kalo lo emang maksa traktir gue, oke, gue mau ditraktir," kata Martin, langsung ngeloyor pergi.
Rani jadi bingung. Sebelumnya cowok itu begitu berkeras menolak traktirannya, tapi begitu mendengar nama sekolahnya, mendadak dia langsung menerimanya. Apa ada sesuatu dari sekolah Rani yang membuat Martin berubah pikiran?
"Jadi lo anak SMA Galaxy," kata Martin. "Berarti lo kenal Tristan Ivander, kan?"
"Tentu aja kenal," sahut Rani. "Dia kan—" Rani baru akan mengucapkan, "—pacar sahabat gue", tapi setengah jalan mengubahnya menjadi, "—ketua geng di sekolah gue."
"Apa lo bisa bikin dia mau ngomong sama gue?" tanya Martin.
Rani mengernyit, heran. "Kenapa lo nggak ngomong sendiri aja sama dia?"
"Udah gue coba," kata Martin. "Tapi dia tetap nggak mau ngomong sama gue."
"Emang lo mau ngomong apa sama dia?" selidik Rani.
__ADS_1
"Itu bukan urusan lo," sergah Martin. "Kalo lo bisa bikin Tristan mau ngomong sama gue, itu akan jadi ucapan terima kasih yang jauh lebih baik daripada lo traktir gue kayak gini."
"Ih, apa yang salah sih dengan mentraktir"
"Adik Tristan kan sekolah di SMA Garuda," kata Rani. "Jadi seharusnya lo minta tolong sama dia aja."
"Amanda? Dia bilang dia nggak mau ikut campur," kata Martin. "Dan gue nggak akan memaksanya."
Melihat betapa pengertiannya Martin pada penolakan Amanda untuk ikut campur, sepertinya Martin menyukai atau setidaknya pernah menyukai Amanda. Tidak mengherankan kalau kecantikan Amanda pasti mampu menaklukkan kejutekan Martin.
"Siapa nama lo?" Martin menanyakan nama Rani, itu sungguh peningkatan pesat.
"Rani,"
"Mana HP lo?" Martin mengulurkan tangan, meminta ponsel Rani.
Meskipun bingung, Rani memberikan ponselnya pada Martin. Martin mengetikkan sesuatu di ponsel Rani, dan ketika ponsel itu kembali padanya, dia melihat sebaris nomor tertera di layarnya.
"Itu nomor HP gue." Martin memberikan nomor ponselnya pada Rani adalah peningkatan yang lebih pesat lagi. "Gue tunggu kabar baik dari lo." Lalu setelah itu dia langsung meninggalkan Rani, padahal iced cappuccino-nya baru saja datang.
Rani tidak akan mengejar Martin. Rani pasti sudah gila kalau lebih memilih mengejarnya daripada menikmati iced cappuccino. Lagi pula, pembicaraan mereka sepertinya sudah final. Jadi Rani menggeser iced cappuccino mendekatinya, menggenggam gelasnya yang berembun dengan kedua tangan, dan menatapnya dengan perasaan mendamba.
Rani meletakkan bibirnya di sedotan, dan ketika dia mulai menyedotnya, dia merasakan cairan dingin itu menyejukkan kerongkongan.
"Ternyata seperti ini rasanya surga..."
(Bersambung)
__ADS_1