Gejolak Masa Muda 2

Gejolak Masa Muda 2
Melihat Keadaan Ghevin


__ADS_3

Om Williams sibuk mengisi data-data yang diperlukan dan membayar deposit untuk biaya rumah sakit, jadi hanya Tante Widia dan Melly yang menemani Ghevin di ruang rawat inap. Tante Widia berada di dalam sebentar, lalu keluar dan mempersilakan yang lain masuk.


Tristan dan Miko pun segera masuk, dan diikuti oleh Shandy perwakilan dari geng Ghevin. Rani sendiri tidak langsung masuk karena ingin bicara dengan Tante Widia terlebih dahulu sementara Amanda dengan setia mendampinginya.


Rani ingin minta maaf pada Tante Widia seperti tadi dia minta maaf pada Melly.


”Maafin saya, Tante,” kata Rani tidak enak. ”Ghevin jadi begitu karena mau nyelametin saya.”


”Kamu nggak perlu minta maaf,” kata Tante Widia. ”Yang penting kamu nggak apa-apa, dan Ghevin juga nggak apa-apa. Lagi pula, Tante juga sudah berkali-kali nasihatin Ghevin supaya berhenti main geng-gengan begitu. Nggak ada bagusnya kan, malah yang ada berantem melulu. Tapi anaknya benar-benar kepala batu, susah dibilanginnya, nggak pernah mau dengar perkataan Tante. Sekarang, dengan kejadian ini, mungkin dia akan kapok. Semoga bisa jadi pembelajaran buat dia, supaya ke depannya bisa lebih menjaga diri.”


Rani mengamini kata-kata Tante Widia, dia juga berharap kejadian seperti itu terakhir kalinya terjadi. Rani tidak ingin melihat Ghevin celaka lagi, apalagi gara-gara dirinya.


”Ya sudah, Tante nyusul Om Williams dulu ya,” pamit Tante Widia. ”Kamu masuk saja. Ghevin nyariin kamu dari tadi.”


Sepeninggal Tante Widia, Rani dan Amanda berjalan masuk ke ruang rawat inap Ghevin. Ada dua ranjang di sana, dan Ghevin menempati ranjang di samping jendela, sementara ranjang yang satunya kosong.


Ketika Rani dan Amanda masuk ke dalam ruang rawat inap Ghevin, ternyata Melly sedang sibuk mengomeli Ghevin. Suara Melly terdengar keras sekali, padahal mereka sedang berada di rumah sakit. Tapi tampaknya Ghevin tidak mendengarkan Melly, perhatiannya terpecah pada Rani. Sejak Rani masuk, sampai dia berhenti di dekat kaki ranjang yang satunya, Ghevin tidak henti-hentinya menatap Rani.


Bukan hanya Ghevin, Rani pun demikian. Meski lega karena Ghevin masih hidup, tak pelak Rani merasa sedih saat melihat keadaan Ghevin. Wajah Ghevin tampak pucat, tubuhnya diperban di sana-sini, termasuk kepalanya.

__ADS_1


”Ghev, lo ngedengerin gue nggak sih?” omel Melly, mau tak mau membuat perhatian Ghevin sepenuhnya kembali pada Melly. ”Pokoknya udah cukup ya. Nggak ada lagi yang namanya geng-gengan. Lo harus segera berhenti jadi ketua geng.”


Ghevin mendesah. ”Masa jabatan gue emang tinggal beberapa bulan lagi kok,” katanya.


”Terlalu lama kalo harus nunggu beberapa bulan,” protes Melly. ”Harus secepatnya. Kalo bisa malah hari ini juga.”


Tristan tersenyum puas mendengar Ghevin diomeli Melly, dan sampai disuruh berhenti menjadi ketua geng segala. Tapi senyum Tristan itu tertangkap sudut mata Melly.


”Jangan senyam-senyum!” bentak Melly pada Tristan. Tristan nyaris terlompat saking kagetnya, bahkan senyum dengan segera menghilang dari wajahnya. ”Itu juga berlaku buat kamu. Kamu pun harus segera berhenti jadi ketua geng.”


Tristan menunjukkan wajah keberatan, tapi untuk amannya, dia hanya manggut-manggut. Kalau dia sampai berani mendebat Melly, bisa-bisa pulang-pulang dia hanya tinggal nama.


Puas mengomel, Melly berbaik hati memberi Rani dan Ghevin privasi. Dia pamit pada Ghevin, secara tidak langsung juga mengusir yang lain supaya segera keluar dari ruang rawat inap Ghevin.


”Awas ya kalo lo nggak cepat sembuh!” ancam Melly pada Ghevin, sebelum berlalu bersama Tristan.


Giliran Amanda selanjutnya. ”Cepat sembuh ya, Ghev,” ucapnya.


"Thanks, Amanda,” balas Ghevin.

__ADS_1


Bagi Rani ini bukan saat yang tepat untuk merasa cemburu. Jadi dia berusaha menahan rasa cemburu yang sempat menggelegak, dan memaksakan senyum di wajahnya ketika Amanda berpaling padanya. Bagaimanapun, Rani sudah berutang banyak pada Amanda malam ini.


”Baik-baik ya, Rani,” kata Amanda—terdengar tulus.


"Thanks," gumam Rani kikuk.


Amanda tidak lupa pada Miko. ”Gue pulang dulu ya, Mik,” pamitnya.


”Lo mau pulang naik apa, kalo kunci mobil lo masih di gue?” goda Miko.


Amanda menepuk kening. ”Astaga, gue lupa!” cetusnya. Dengan tersipu malu, dia mengambil kunci mobilnya dari tangan Miko. "Thanks ya, Mik.”


Miko dan Amanda pasti akan menjadi pasangan yang cocok. Seharusnya mereka cepat-cepat berpacaran saja.


Shandy juga ikut pamit, dan yang terakhir adalah Miko. Miko sempat berbisik-bisik dengan Ghevin, entah tentang apa, dan baru kemudian meninggalkan ruang rawat inap Ghevin.


Setelah satu per satu pamit. Yang tersisa di ruang rawat inap itu hanyalah Rani dan Ghevin.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2