
Seharusnya wahana ketiga yang Rani dan Ghevin naiki adalah Tornado, tapi batal karena ulah segerombolan cewek genit yang mengantre di depan keduanya. Cewek-cewek itu terus berbisik-bisik seraya melirik-lirik Ghevin dengan tatapan memuja. Mungkin menurut mereka Ghevin cowok terganteng yang pernah mereka lihat, tapi tetap saja Rani tidak suka mereka menunjukkan ketertarikan mereka secara terang-terangan begitu.
Kalau Ghevin pacarnya, Rani pasti sudah memeluknya di depan mereka sebagai tanda kepemilikannya. Tapi karena Ghevin bukan pacarnya, jadi yang bisa Rani lakukan hanyalah sebatas memelototi cewek-cewek itu agar mereka sadar dan bisa menjaga mata mereka. Parahnya, mereka tidak sadar-sadar juga. Bahkan salah satu dari cewek-cewek itu malah balik memelototinya.
"Sialan."
Akhirnya Rani memutuskan untuk menyelamatkan Ghevin dari cewek-cewek itu. Kepadanya Rani berkata, ”Gue nggak mau naik ini.”
”Lho, kenapa?” tanya Ghevin bingung. Jelas dia tidak sadar sedari tadi dirinya dijadikan objek cuci mata cewek-cewek itu.
Rani hanya menggeleng dan segera keluar dari antrean. Mau tak mau Ghevin pun mengikutinya. Cewek-cewek itu pasti kecewa karena objek cuci mata mereka pergi.
”Bukannya tadi lo mau naik ini?” kejar Ghevin.
Rani menatap Tornado dengan penuh damba. Dia memang kepingin sekali menaikinya. Tapi baginya, menyelamatkan Ghevin jelas lebih penting.
”Nggak jadi,” kata Rani dengan terpaksa. ”Gue mau naik yang lain aja.”
__ADS_1
Kora-kora akhirnya menjadi wahana ketiga yang mereka naiki. Wahana berbentuk perahu raksasa yang mengayun maju-mundur itu sekilas memang tampak tidak menantang, tapi justru selalu berhasil membuat Rani agak keder. Setiap ayunannya menghasilkan ngilu tidak tertahankan di perutnya, dan akibatnya dia jadi mual.
Ghevin turun dari Kora-kora dengan segar bugar, sementara Rani justru kepingin muntah. Rani kemudian mengajak Ghevin duduk sebentar di bangku panjang.
”Lo sakit, Ran?” tanya Ghevin khawatir. ”Muka lo pucat banget.”
”Cuma mual sedikit,” sahut Rani. ”Istirahat sebentar juga bakal hilang. Efek naik Kora-kora buat gue emang selalu kayak begini.”
”Asal lo jangan pingsan beneran aja,” komentar Ghevin.
Setelah merasa agak enakan, Rani pun berdiri dan berniat melanjutkan ke wahana berikutnya, tapi Ghevin mengajaknya makan dulu. Rani baru sadar jam makan siang sudah lewat.
Melihat senyum Ghevin, rasanya Rani jadi ingin membalikkan meja dan menerobos kerumunan orang di antara mereka, lalu memeluknya erat-erat dan tidak pernah melepaskannya lagi. Sumpah, pengaruh senyum Ghevin pada Rani memang benar-benar dahsyat!
Sepertinya Rani dan Ghevin sama-sama lapar, kalau dilihat dari betapa fokusnya mereka pada makanan masing-masing. Selesai makan, begitu melihat pasangan di meja sebelah selfie, mendadak Rani terinspirasi untuk melakukan hal serupa.
”Ghev, selfie yuk,” ajak Rani.
__ADS_1
”Di sini?” tanya Ghevin tidak yakin.
Asal dengan Ghevin, selfie di toilet pun Rani mau. Tapi selama ini Rani memang sudah sering selfie di toilet sih. Sendiri, maksudnya. Bukan dengan Ghevin.
”Iya, di sini,” tegas Rani.
Rani pindah ke kursi di sebelah Ghevin, lalu dia mengeluarkan ponselnya. Dengan memakai kamera depan, mereka pun mulai berpose. Kepala dan bahu mereka sampai menempel satu sama lain saking dekatnya posisi mereka.
Begitu foto sudah berhasil diambil, Rani cukup puas dengan hasilnya. Mereka tampak seperti pasangan kekasih sungguhan. Dan ketika Ghevin tidak melihat, diam-diam Rani menjadikan foto itu sebagai wallpaper ponselnya.
.
.
(Bersambung)
Masih berlanjut keseruan mereka di Dufan. Ikutin terus ya.
__ADS_1