
Rani menangis meraung-raung, membuat beberapa orang yang sedang melintasi trotoar memandanginya dengan heran, tapi tahu apa mereka? Mereka tidak merasakan apa yang Rani rasakan, betapa luar biasanya sakit di hatinya karena Ghevin pergi meninggalkannya.
”Ghev, j-jangan pergi,” tangis Rani. ”Jangan tinggalin gue. Jangan setega itu sama gue.”
Salah satu dari beberapa orang yang berada di trotoar—ibu penjaga warung—turun ke jalan dan menghampiri Rani. Mungkin Rani terlihat begitu menyedihkan sehingga ibu penjaga warung itu menjadi tidak tega.
”Neng, jangan nangis di tengah jalan begini,” kata ibu penjaga warung itu, seraya membantu Rani berdiri. ”Nanti ada mobil.”
Sedari tadi jalanan memang sepi, tidak ada mobil lewat. Kalau sampai ada, mungkin Rani sudah tertabrak mobil karena kecerobohannya.
Sekembalinya mereka ke trotoar, Rani menggumamkan terima kasih pada ibu penjaga warung itu dan segera berjalan pergi. Entah arah mana yang dituju, tidak akan mengherankan kalau dia sampai tersasar.
Hanya insting yang menuntunnya hingga Rani bisa sampai di rumah, sebab sepanjang perjalanan, dia sibuk menangis. Untung Papa dan Mama-nya sudah tidur. Tapi ketika Rani menuju kamarnya, dia berpapasan dengan Billy.
”Rani?” panggil Billy, terkejut melihat air mata di wajah Rani. ”Kenapa lo nangis?”
__ADS_1
Rani tidak bisa menjawab. Karena kalau menjawab, berarti dia harus menceritakan pada Billy soal Ghevin yang sudah menolak cintanya. Padahal dia belum siap untuk menceritakannya. Setidaknya, tidak malam ini.
”Karena Ghevin, ya?” Ternyata Billy bisa menebaknya sendiri. ”Pasti dia kan, yang bikin lo nangis?”
Mulut Rani tetap tertutup. Dan Billy menganggap diamnya Rani sebagai tanda bahwa Rani membenarkan tebakannya.
”Keterlaluan si Ghevin,” geram Billy. ”Terus terang ya, Ran, gue jadi mulai nggak respek sama dia. Gue merasa dia nggak pernah menghargai lo. Padahal dia beruntung karena disukai sampai segitu dalamnya sama lo.”
"Ya, kenapa Ghevin nggak menyadari betapa beruntungnya dia? Mungkin emang masih banyak cewek yang menyukainya, tapi apakah mereka menyukainya sedalam gue?"
”Gue tahu Ghevin jauh lebih kuat dari gue,” kata Billy. ”Dan sekali dia mukul gue, mungkin gue bakal langsung semaput. Tapi kalo gue bisa memberi dia satu-dua pukulan aja, untuk membalas perlakuannya ke lo, gue cukup puas.”
Sedikit terhibur dengan ulah Billy, akhirnya Rani juga masuk ke kamarnya. Saat akan naik ke ranjang, Rani baru menyadari dia masih mengenakan sepatu hak tinggi. Dia pun membukanya, dan ternyata akibat dirinya berjalan kaki lumayan jauh, tumitnya terluka parah. Mungkin rasa sakit di hatinya membuat dia tidak merasakan sakit di tumitnya.
Karena terlalu malas untuk mengambil obat luka dan plester, Rani hanya membaringkan tubuhnya di ranjang. Tiba-tiba dia teringat janjinya pada Ghevin bahwa dia akan meneleponnya begitu sampai di rumah, dia pun mengambil ponsel. Saat dia menatap layar ponselnya, ternyata ada delapan missed calls dari Ghevin. Ponselnya memang di-silent sehingga dia tidak tahu Ghevin meneleponnya.
__ADS_1
Rani tidak pernah menerima delapan missed calls Ghevin sebelum ini? Bahkan satu missed call pun tidak pernah. Ghevin nyaris tidak pernah meneleponnya, kecuali untuk mencari Melly saat Melly tidak bisa dihubungi.
Baru saja Rani akan menelepon balik Ghevin, tapi Ghevin sudah terlebih dulu meneleponnya. Setelah menarik napas panjang-panjang—berusaha menguatkan dirinya—Rani pun mengangkatnya.
”Halo?”
”Rani?” Terdengar kelegaan dalam suara Ghevin, mungkin karena Rani akhirnya mengangkat teleponnya. ”Lo udah sampai rumah?”
”Udah,” sahut Rani singkat.
”Syukurlah,” desah Ghevin. Ada jeda sejenak sebelum dia melanjutkan, ”Rani, gue benar-benar minta maaf.”
Tanpa menanggapi permintaan maaf Ghevin, Rani langsung mematikan telepon. Dia kemudian membenamkan wajahnya ke bantal, dan membasahinya dengan air mata. Meski merasa sangat lelah, sepertinya dia tidak akan bisa tidur.
Sekeluarnya dari danau, salju segera menyambutnya, menemani Rani yang tetap berkeras menunggu Ghevin kembali, meski dia tahu semua itu hanya sia-sia saja.
__ADS_1
.
Tbc