Gejolak Masa Muda 2

Gejolak Masa Muda 2
Rani Minta Maaf


__ADS_3

Bel tanda pulang akhirnya berbunyi. Tepat seperti dugaan Rani, Tristan sempat mengajukan keberatan karena Melly harus pulang naik motor dengan Rani. Tapi setelah Rani meyakinkan Tristan bahwa Melly akan baik-baik saja, dengan berat hati Tristan pun mengizinkan.


Tidak ingin mendapat protes kembali dari Melly karena memacu motornya dengan sangat pelan sekali seperti waktu itu, kali ini Rani langsung memacunya dengan kecepatan normal. Setibanya di rumah Melly, Rani duduk di beranda sementara Melly masuk untuk memanggil Ghevin. Debaran jantung Rani mulai menggila, sama seperti ketika dirinya akan mengajak Ghevin berkencan.


"Oh, kencan itu... Andai saja gue bisa kembali ke hari itu..."


Tak lama kemudian Ghevin keluar, dan jika biasanya Rani senang melihatnya, kali ini tidak demikian. Rasa senang itu masih ada, sedikit, tapi terasa begitu samar karena didominasi rasa sedih.


Tidak ada sapaan yang biasa dari Ghevin. Dia hanya menatap Rani, sedikit lebih lama pada mata Rani yang bengkak, lalu duduk. Tahu Ghevin menunggu Rani mengutarakan maksud kedatangannya ke situ, Rani pun segera berbicara.


"Gue mau minta maaf untuk yang tadi malam, Ghev," mulai Rani. "Gue seenaknya ngungkapin perasaan gue ke lo padahal lo udah nyuruh gue berhenti."


"Lo nggak perlu minta maaf untuk hal itu," kata Ghevin. "Hak lo untuk ngungkapin perasaan lo ke siapa pun yang lo mau."


Tidak kepada siapa pun. Rani hanya pernah mengungkapkan perasaannya pada Ghevin seorang, yang sayangnya tidak berakhir baik.

__ADS_1


"Kalo begitu gue mau minta maaf untuk hal lainnya," kata Rani. "Gue udah bikin Melly nangis tadi."


Ghevin menoleh pada Rani dengan cepat. "Kalian bertengkar?"


"Cuma sebentar," sahut Rani. "Gue segera minta maaf sama dia."


"Lo udah minta maaf sama dia," kata Ghevin. "Jadi nggak perlu minta maaf sama gue."


"Masih ada lagi," tambah Rani buru-buru. "Gue juga mau minta maaf karena untuk sementara gue nggak bisa ketemu sama lo dulu. Kalo misalnya kita nggak sengaja ketemu, berpura-puralah kita nggak saling mengenal. Lo akan sangat membantu gue untuk ngelupain perasaan gue sama lo dengan cara itu. Dan tentang Melly, lo jangan khawatir, karena gue akan tetap sahabatan sama dia seperti biasa."


Kenapa Ghevin tidak memprotes bahwa dia tetap ingin bertemu dengan Rani? Sebegitu mudahnyakah baginya untuk melepas Rani pergi dari hidupnya?


Mungkin memang sejak awal Ghevin memang tidak pernah menganggap Rani ada dalam hidupnya. Lagi pula, tidak seharusnya Rani berharap padanya lagi, sebab harapan hanya akan membuatnya jatuh ke dalam air dingin lagi.


Rani mengangkat tangan, berniat menghapus air mata yang mulai terbit di sudut matanya, dan saat itulah dia menyadari keberadaan gelang di pergelangan tangannya—kado ulang tahun dari Ghevin.

__ADS_1


Keraguan mulai melanda Rani. Haruskah dia mengembalikan gelang itu pada Ghevin? Sepertinya memang iya, karena dia jelas tidak bisa memakainya lagi tanpa teringat pada Ghevin. Jadi dengan berat hati dia melepaskan gelang itu dan mengulurkannya pada Ghevin.


"Gue mau ngembaliin gelang ini sama lo," kata Rani.


"Gue kan udah ngasih gelang itu buat lo," tolak Ghevin, tidak ingin menerima gelang itu kembali.


"Kalo gue tetap memakai gelang ini," kata Rani, "maka akan terus keingetan sama lo."


"Nggak usah lo pakai, cukup disimpan aja," saran Ghevin. "Atau kalo lo emang nggak mau simpan, bisa lo buang aja."


Daripada membuang gelang itu, Rani lebih memilih untuk menyimpannya. Jadi dia memasukkan gelang itu ke tasnya, sambil memikirkan di mana dia akan menyimpannya nanti. Mungkin di bawah tumpukan pakaiannya, atau di kolong ranjang—pokoknya yang penting dia tidak bisa melihatnya. Dia sempat berpikir untuk menguburnya di dalam tanah, tapi menurutnya itu terlalu ekstrem.


.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2