
Melly duduk di sebelah Ghevin, sedangkan Rani di belakang Melly. Begitu mobil berjalan, Melly lantas mengeluarkan tas yang tadi dibelinya untuk Amanda dari kantong kertas dan menunjukkannya pada Ghevin.
”Bagus nggak, Ghev?” tanya Melly meminta pendapat Ghevin.
Ghevin hanya melirik sekilas dan mengangkat bahu. ”Gue nggak ngerti soal gitu-gituan.”
”Tapi kira-kira Amanda bakalan suka, nggak?” kejar Melly.
”Mungkin,” kata Ghevin singkat.
”Semoga aja Amanda suka,” harap Melly sembari memasukkan kembali tas itu ke kantong kertas. ”Seenggaknya kan kado gue jauh lebih baik daripada kado Rani. Tahu nggak, Ghev, Rani beliin apa buat Amanda?” Dan sebelum Rani sempat membungkam mulut Melly, Melly sudah keburu melanjutkan, ”Boneka ular!"
Rani langsung mencubit pinggang Melly, karena berani-beraninya membongkar isi kado yang dibelinya untuk Amanda pada Ghevin. Melly pun mengaduh dan berusaha membalasnya, tapi Rani berhasil mengelak.
”Amanda kan paling takut sama ular,” komentar Ghevin.
Di luar ketidaksukaan Rani karena Ghevin tahu apa yang paling ditakuti Amanda, Rani mendesah kecewa. ”Yaaaahhhh... berarti gue mesti beliin Amanda kado lain dong.”
Padahal niat Rani membeli boneka ular itu untuk menjaili Amanda, dan bukan untuk menakutinya.
”Syukurin!” cetus Melly. ”Kan udah gue bilang jangan boneka ular. Lo-nya aja yang ngeyel.”
Rani pun cemberut. Karena Melly, sama sekali tidak bersimpati padanya yang harus mengeluarkan uang lagi. Rani lantas mengeluarkan boneka ular itu dari kantong kertas dan melemparkannya pada Melly.
__ADS_1
”Buat lo aja deh bonekanya,” kata Rani.
Tidak sampai sedetik, boneka ular itu sudah kembali pada Rani. Jelas Melly tidak menginginkannya.
”Ogah!” tolak Melly mentah-mentah.
Sia-sia saja deh Rani membeli boneka ular itu. Seharusnya tadi dia membeli boneka beruang saja. Tidak mungkin kan Amanda takut pada beruang juga?
Rani lalu menyampirkan boneka ular itu di tengkuknya. Dipegangnya bagian kepala dan ekor boneka itu dengan kedua tangannya, lalu ditarik bergantian, sehingga boneka itu menggosok-gosok tengkuknya. Sembari melakukannya, Rani pun memikirkan hal lain yang jauh lebih penting daripada sekadar kado ulang tahun Amanda, yaitu tempat yang tepat untuk kencannya dengan Ghevin kalau Ghevin menerima ajakannya. Entah sudah berapa lama Rani berpikir, tapi tahu-tahu saja mobil Ghevin sudah berhenti di depan rumahnya.
Rani kemudian turun, dan Ghevin pun ikut turun, sementara Melly tetap di dalam mobil. Jantung Rani berdebar-debar begitu keras mengingat setelah ini dia akan mengajak Ghevin berkencan.
Wajah Ghevin mengernyit heran melihat Rani saat mereka berdiri di depan pintu pagar rumahnya. Mulanya Rani pikir itu karena dia tidak juga membuka pintu pagar, tapi setelah dirinya perhatikan lagi, ternyata tatapan Ghevin jatuh pada boneka ular yang tanpa sadar masih tersampir di tengkuknya.
Dengan boneka ular itu di tangannya, Rani berusaha mengumpulkan keberanian. ”Mmm... Ghev,” panggil Rani.
"Sial, kenapa suara gue bergetar begini?"
"Mungkin lo nggak tahu, Minggu ini gue ultah.”
”Gue tahu kok,” kata Ghevin.
"Ghevin tahu? Jadi selama ini dia ingat ulang tahun gue? Iya juga sih, pada ulang tahun gue yang lalu-lalu, dia juga selalu ngucapin selamat ke gue."
__ADS_1
"Melly yang ngasih tahu,” lanjut Ghevin.
Harapan Rani langsung pupus. Ternyata Melly yang memberitahu Ghevin. Rani sudah ke-GR-an saja.
”Rencananya gue mau ke Dufan,” kata Rani. Dia memang sudah memutuskan untuk ke Dunia Fantasi saja, karena itu salah satu tempat favoritnya. ”Apa lo mau nemenin gue ke sana?”
Ghevin tampak agak terkejut dengan ajakan Rani. Dia tidak langsung menjawab, dan itu membuat Rani langsung berkeringat dingin. Rani tidak pernah merasa setegang itu seumur hidupnya. Itu jauh lebih tegang daripada saat dirinya berebutan bakwan yang tinggal satu-satunya di kantin sekolah dengan kakak kelasnya—Vionna.
”Oke,” jawab Ghevin akhirnya, melegakan hingga ke sumsum tulang Rani. ”Nanti detailnya kita bicarain lebih lanjut aja, ya.”
Rani mengangguk dengan penuh semangat. Begitu Ghevin membalikkan badan menuju mobilnya, Rani pun langsung mengacungkan jempol ke arah Melly. Meski tidak bisa melihat Melly karena gelapnya kaca mobil, Rani tahu Melly pasti bisa melihatnya.
Setelah mobil Ghevin menghilang dari pandangan, Rani pun mengangkat boneka ular yang ada di tangannya dan menghadapkan kepala boneka itu ke arahnya.
”Ular, lo pasti ngiri deh sama gue,” kata Rani pada boneka ular itu. ”Gue bakal nge-date sama Ghevin.”
Lalu, merasa kegirangan sendiri dengan kata-katanya, Rani pun langsung meloncat-loncat untuk melampiaskannya.
Rani tidak peduli dengan apa kata tetangganya nanti, kalau mereka sampai melihatnya. Karena menurutnya, bukan mereka yang akan berkencan dengan Ghevin, jadi mereka tidak akan mengerti kenapa dirinya bisa sampai segirang itu.
.
.
__ADS_1
(Bersambung)