Gejolak Masa Muda 2

Gejolak Masa Muda 2
Rani Vs Amanda


__ADS_3

Sekarang bangku di sebelah Ghevin yang satu lagi kosong. Anggota geng yang tadinya duduk di situ baru saja pergi. Dengan tekad tidak akan membiarkan Ghevin dan Amanda terus bermesra-mesraan, Rani segera bangkit dari bangkunya dan pindah ke bangku itu.


"Hai, Ghev," sapa Rani sambil menepuk bahu Ghevin, membuat Ghevin langsung menoleh padanya dan membelakangi Amanda. "Kok lo nggak main?"


"Sebentar lagi gue main," kata Ghevin. "Lagi gantian dulu."


"Lo pasti jago ya mainnya?" goda Rani.


"Bukannya gue sombong, tapi emang jago," seloroh Ghevin. "Lo nggak mau nyobain main?"


"Gue nggak bisa," aku Rani. "Lo ajarin dong."


Sebelum Ghevin sempat menanggapi Rani, Amanda mencoleknya, mengembalikan perhatian Ghevin padanya. Rani pun memelototinya, sementara yang dipelototi tidak sadar dan malah sibuk menunjukkan ponselnya pada Ghevin.


"Diana balas WhatsApp-ku," celetuk Amanda.


"Benar kan tebakanku," komentar Ghevin. "Terus dia bilang apa?"


"Dia bilang dia usahain datang," kata Amanda. "Aku masih nggak percaya. Kupikir dia udah lupa sama aku."


"Yah, nggak mungkinlah dia lupa sama kamu," tukas Ghevin. "Kalian kan pernah temenan lumayan lama."


"Tapi selama ini kami benar-benar nggak pernah kontak-kontakan lagi."

__ADS_1


Kali ini Rani yang memanggil Ghevin, sehingga lagi-lagi Ghevin membelakangi Amanda. "Rasain Amanda!"


"Apa lo sering ke sini?" tanya Rani.


"Lumayan," sahut Ghevin singkat.


"Kalo Melly, apa dia pernah ke sini?" tanya Rani lagi.


Ghevin hampir menggeleng, tapi kemudian memikirkannya sebentar, baru setelahnya menyahut, "Sekali. Waktu itu Miko juga yang bawa dia ke sini."


Rani baru akan menanyakan pertanyaan lain lagi ketika datang interupsi dari Amanda.


"Aku harus balas apa ya, Ghev?" tanya Amanda sambil menimang-nimang ponselnya. "Nanya alamatnya gitu, buat ngirim undangan?"


"Rumahnya sih aku tahu, tapi alamat pastinya aku nggak ingat."


"Kalo begitu kamu tanya aja alamatnya."


Kesibukan Amanda dengan ponselnya dimanfaatkan Rani untuk merebut perhatian Ghevin dari Amanda. Tapi baru beberapa detik Rani berbicara, Amanda sudah balik merebutnya. Hal itu berlangsung terus-menerus sampai tidak terhitung lagi berapa kali Ghevin harus bolak-balik bicara di antara Rani dan Amanda. Mungkin Ghevin merasa lega ketika akhirnya tiba gilirannya bermain. Setidaknya dia jadi tidak perlu takut otot lehernya terkilir karena kecerewetan dua cewek itu.


Sepeninggal Ghevin, Rani sama sekali tidak melirik ke arah penghuni bangku yang hanya berjarak satu bangku di sebelahnya itu. Dia lebih tertarik untuk mengamati Ghevin yang sedang bermain. Posenya ketika memegang stik dan wajahnya yang begitu berkonsentrasi melihat bola, bagi Rani terlihat sangat seksi. Sayangnya, keasyikan Rani mengagumi keseksian Ghevin terganggu suara menyebalkan Amanda.


"Apa lo ke sini bareng Miko?" tanya Amanda, jelas sekali dia hanya ingin berbasa-basi.

__ADS_1


Rani hanya mengangguk. Dia tidak sudi mengeluarkan barang satu kata pun untuk Amanda. Biar Amanda tahu kalau Rani malas berbicara padanya. Selama beberapa saat Amanda memang kembali diam. Tapi sepertinya kejutekan Rani sama sekali tidak berpengaruh padanya, karena Amanda mulai mencerocos lagi.


"Oh iya, Ran," kata Amanda. "Dua minggu lagi gue ultah, dan gue ngadain pesta. Lo datang, ya."


Rani tidak peduli kalau dua minggu lagi Amanda ulang tahun. Karena ulang tahun Rani sendiri lebih cepat seminggu dari Amanda, meskipun dia tidak mengadakan pesta. Rani bahkan tidak rela mereka lahir pada bulan yang sama. Hanya berbeda seminggu pula.


"Apa tadi kata Amanda? Dia ngundang gue ke pesta ulang tahunnya? Ih, amit-amit. Gue nggak akan mau datang. Pokoknya gue nggak akan—"


"Ghevin juga akan datang." lanjut Amanda.


"Oke, gue pasti akan datang!"


Mana mungkin Rani tidak akan datang kalau Ghevin datang? Pintar sekali Amanda, membawa-bawa Ghevin supaya Rani mau datang.


"Nanti undangannya gue titipin sama Melly, ya."


Lagi-lagi Rani hanya mengangguk. Setuju datang ke pesta ulang tahun Amanda rasanya seperti setuju untuk berdamai dengannya, padahal dia tidak ingin berdamai. Tapi jangan salahkan dia karena terpaksa setuju.


.


.


[Bersambung]

__ADS_1


__ADS_2