
Meskipun bukan kabar baik yang akan Rani beritahukan pada Martin, tapi Rani tetap menelepon Martin. Awalnya Rani sempat menyangka Martin tidak akan mengangkat telepon darinya sebab masih di tengah-tengah jam pelajaran, tapi ternyata Martin mengangkatnya.
"Siapa nih?"
"Lho, kok Martin nggak tahu gue yang nelepon dia? Apa dia nggak nyimpan nomor HP gue?"
Rani sempat merasa heran kenapa Martin tidak tahu dia yang meneleponnya. Rani mengira Martin tidak menyimpan nomor ponselnya. Lalu kemudian Rani teringat bahwa Martin tidak meminta nomor ponselnya, Martin hanya memberikan nomor ponsel miliknya sendiri pada Rani. Bagaimana Martin akan menyimpan nomor ponsel Rani, kalau Martin sendiri tidak tahu nomornya?
"Ini Rani."
"Rani? Apa lo nelepon gue buat ngasih kabar baik?"
"Kabar buruk, lebih tepatnya."
"Gue mau ngajak lo ketemuan," kata Rani. "Soalnya lebih enak kalo kita ngomong langsung."
Sebenarnya bukan supaya lebih enak sih. Tapi menurut Rani, kalau dia memberitahu kabar buruk lewat telepon, Martin pasti akan langsung menutup telepon. Dengan begitu Rani akan kehilangan kesempatan bicara padanya lagi. Dan Rani tidak ingin itu terjadi.
"Oke. Jam empat di Kafe 69," kata Martin.
***
Pukul empat kurang sepuluh menit, Rani sudah nongkrong di Kafe 69. Di antara murid-murid SMA Garuda yang memenuhi kafe, Rani melihat pria berkumis lebat itu lagi. Pria itu seperti penampakan saja, dia muncul di mana-mana.
Rani kembali memesan iced cappuccino, dan hanya minuman itulah yang menemaninya sampai pukul setengah lima, ketika Martin menampakkan diri. Padahal Martin yang menentukan jamnya, tapi dia juga yang terlambat setengah jam. Dan Martin sama sekali tidak meminta maaf.
"Jadi gimana?" tanya Martin langsung.
__ADS_1
"Tristan nggak mau ngomong sama lo," kata Rani.
Martin mendengus, begitu kerasnya sampai-sampai rasanya bisa mengalahkan kebisingan di kafe. "Kalo begitu ngapain lo ngajakin gue ketemuan?" tuntutnya.
"Gue kan nggak bisa bikin Tristan mau ngomong sama lo, jadi gue tetap harus traktir lo," kata Rani.
"Jangan balik ke soal traktir-mentraktir itu lagi!" bentak Martin. Beberapa pasang mata sampai menoleh ke arah mereka, terutama mata pria berkumis lebat itu—begitu intens menatap mereka. "Lo cuma buang-buang waktu gue aja. Seharusnya dari awal gue udah bisa menduga bahwa lo cuma cewek nggak berguna." Dengan kata-kata menyakitkan itu, Martin pun meninggalkan Rani.
Ini sih sama saja seperti Martin menutup telepon. Malah lebih parah karena mereka sampai menjadi tontonan.
Setelah Martin pergi. Rani pun kemudian membayar iced cappuccino-nya dan berjalan keluar kafe. Namun baru beberapa langkah dirinya berjalan di selasar kafe, dia melihat Martin berdiri sambil menelepon, tidak jauh darinya. Martin membelakangi Rani, jadi dia tidak menyadari akan kehadiran Rani. Dengan nekat Rani mengendap-endap mendekatinya, berusaha mencuri dengar.
"Sepertinya nggak bisa SMA Galaxy. Kita harus cari sekolah lain."
Hanya itu yang sempat Rani dengar sebelum Martin mulai berjalan menjauh. Rani tidak berani mengikuti Martin sebab menurutnya itu terlalu berisiko. Jadi yang dia lakukan setelahnya adalah menelepon Miko.
"Halo?"
"Apa dia nyebut nama sekolahnya?" tanya Miko.
"Nggak," sahut Rani. "Tapi gue akan mencari tahu."
"Tetap hati-hati ya, Ran," pesan Miko. "Gue juga akan mendiskusikannya sama Ghevin. Mungkin dia tahu sekolah mana yang kira-kira diincar Martin."
Baru saja Rani menutup telepon, tapi ponselnya sudah berbunyi lagi. Ternyata Melly yang menelepon. Rani pun langsung mengangkatnya.
"Ha—"
__ADS_1
"RANNNIIIII…!!!" Rani pun langsung menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Gila si Melly, bikin kuping gue pengang aja. Kenapa sih dia harus teriak-teriak kayak gitu? Itu kan ciri khas gue. Jadi yang seharusnya teriak-teriak yah gue, bukan dia."
"Kenapa sih lo teriak-teriak begitu?" tuntut Rani.
"Gimana nih, Ran? Ghevin ngajakin gue sama Tristan makan malam bareng," kata Melly.
"Bagus dong," komentar Rani. "Itu berarti dia mau mendekatkan diri sama Tristan."
"Nggak, itu sama sekali nggak bagus," tukas Melly. "Dan Ghevin juga bukannya mau mendekatkan diri sama Tristan. Dia mau menginterogasi kami. Sebenarnya udah dari berminggu-minggu lalu dia mau melakukannya, tapi gue selalu menunda-nundanya. Sekarang gue nggak bisa menundanya lagi karena Ghevin keukeuh banget."
"Lebih baik lo nggak usah menundanya lagi," kata Rani. "Siapa tahu dengan menginterogasi kalian, Ghevin akhirnya sadar bahwa kalian emang cocok satu sama lain dan kemudian memutuskan untuk sepenuhnya merestui hubungan kalian."
"Gue juga kepinginnya begitu," kata Melly. "Tapi Ghevin kan nggak bisa diprediksi. Ntar dia malah berantem, lagi, sama Tristan."
"Emangnya Tristan mau diajakin makan malam bareng Ghevin?"
"Tristan terpaksa mau," sahut Melly. "Itu juga setelah gue bujuk rayu selama berjam-jam. Sekarang, setelah dia mau, tinggal gue-nya yang stres."
Mendengar suara Melly begitu kalut, Rani jadi kasihan padanya. Kalau Ghevin sampai mengatur makan malam segala, berarti dia serius. Dua musuh bebuyutan dipertemukan dalam satu meja, apa yang akan terjadi?
Tapi sepertinya Rani mengetahui jawabannya dari kata-kata Melly selanjutnya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....