Gejolak Masa Muda 2

Gejolak Masa Muda 2
Gara-gara Amanda


__ADS_3

Begitu Tristan dan Melly menghilang dari pandangan, Rani berpaling pada Miko.


”Lo udah nggak marah lagi kan sama gue?” tanya Rani. Dia memang belum sempat berbicara pada Miko sejak Miko memarahinya di telepon.


”Tergantung lo masih bandel kayak kemarin atau nggak,” sahut Miko.


”Gue kadang-kadang aja kok bandelnya,” kata Rani. ”Jadi kalo pas bandel gue kumat, lo maklumin aja ya.”


Miko mendengus. ”Gue nggak mau maklumin.”


"Ya udah deh, terserah lo aja."


Yang terpenting buar Rani, Miko tidak membuka mulut pada Ghevin. Karena dia masih ingin menjalankan tugasnya sebagai mata-mata Ghevin, apalagi dia masih belum tahu kenapa Martin dan empat anggota gengnya datang ke pabrik terbengkalai yang penuh preman itu. Memang hanya dua preman yang dilihat oleh Rani, tapi dia yakin masih ada banyak preman lagi di dalam pabrik itu.


Omong-omong soal Martin, Rani tidak melihatnya dari tadi. Amanda kan mengundang teman satu sekolah, jadi seharusnya Martin juga diundang.


”Apa lo ngelihat Martin?” tanya Rani pada Miko.


”Nggak,” geleng Miko. ”Gue rasa dia nggak bakal datang. Entah bagaimana dia tahu Ghevin akan ada di sini.”

__ADS_1


"Bagus deh kalo Martin nggak datang. Dia kan nggak boleh sampai ngelihat gue bersama Ghevin."


Ghevin mendatangi Rani dan Miko tidak lama kemudian. Dia bertukar sapa sejenak dengan Miko, lalu penerangan di ballroom mulai meredup—tanda acara akan segera dimulai.


Setelah penampilan DJ, MC pun naik ke panggung dan memanggil Amanda. Pintu di samping panggung terbuka, dan dari dalamnya muncullah Amanda. Terdengar desah kagum dari para tamu begitu melihat penampilan Amanda.


Meski tidak ingin memuji Amanda, tapi Rani akui, Amanda memang terlihat seperti putri. Amanda mengenakan gaun brokat pink dengan bagian bawah seperti kelopak bunga mawar. Rambutnya ditata dalam sanggul modern, dan mahkota kecil di kepalanya.


Diam-diam Rani melirik Ghevin, dia ingin mengetahui reaksinya. Mata Ghevin tidak pernah lepas dari Amanda. Memang wajar sih. Tidak ada cowok normal yang tidak terpukau melihat penampilan Amanda. Rani saja yang tadinya sudah merasa cantik langsung merasa biasa-biasa saja. Kecantikan Amanda memang sulit ditandingi.


Kata-kata selamat datang dari Amanda disusul salam dan sedikit cerita dari orangtuanya. Sebelum ini, Rani hanya pernah melihat orangtua Amanda lewat foto keluarga yang dipajang di ruang tamu rumahnya.


Saat makan malam, Amanda pun turun dari panggung dan berbaur dengan para tamu. Rani hanya makan berdua dengan Ghevin, sementara Miko menghilang—entah untuk berburu makanan lain, atau mencari Melly kembali.


Ketika melihat Rani dan Ghevin, Amanda langsung menghampiri mereka. Senyum mengembang di wajahnya, terutama ditujukan pada Ghevin.


"Happy birthday, Princess," ucap Ghevin, setelah Amanda menyapa mereka.


Princess? PRINCESS? Apa itu memang panggilan kesayangan Ghevin untuk Amanda, atau dia hanya memanggilnya begitu hari ini karena penampilan Amanda seperti putri?

__ADS_1


"Thank you, Ghev,” balas Amanda, masih dengan senyumnya.


Kini giliran Rani. "Happy birthday", ucapnya, dengan sedikit jutek. Dia bahkan sampai harus menggigit lidah untuk mencegah dirinya dengan sinis menambahkan "Princess" di akhir kalimatnya.


"Thank you, Rani,” balas Amanda. Senyumnya sedikit menghilang karena kejutekan Rani. Kemudian dengan cepat dia berpaling pada Ghevin, dan berkata, ”Ghev, ikut aku sebentar yuk.”


Sebelum Ghevin sempat menyahut, Rani sudah angkat bicara terlebih dahulu. ”Emang lo mau ajak dia ke mana?” tuntutnya. ”Dia kan lagi makan.”


Amanda menatap piring berisi makanan yang berada di tangan Ghevin seakan tidak menyadarinya sebelumnya. ”Oh, ya udah,” katanya pada Ghevin. ”Kamu habisin dulu aja makananmu.”


”Nggak apa-apa,” kata Ghevin, tidak memedulikan usaha Rani untuk membuatnya tetap tinggal. ”Aku bisa lanjut makan nanti.”


Dengan kecewa Rani memperhatikan Ghevin meletakkan piringnya ke meja kecil terdekat, lalu berjalan pergi bersama Amanda.


"Ini semua emang gara-gara Amanda. Dari sekian banyak tamu di pestanya, masih aja Ghevin yang diganggunya. Nyebelin… nyebelin… nyebelin."


.


(Tbc)

__ADS_1


__ADS_2