Gejolak Masa Muda 2

Gejolak Masa Muda 2
Mencari Laptop Martin


__ADS_3

”Tristan nggak tahu markas geng Chebol,” lanjut Melly. ”Dia nggak pernah ke sini, jadi minta alamatnya sama Ghevin, dan Amanda ikut mencatatnya.” Tepuk tangan untuk Amanda. ”Karena penasaran dengan apa yang akan terjadi, juga khawatir, gue dan Amanda memutuskan untuk ikut datang ke sini. Tadinya kami mau masuk lewat pintu depan, tapi begitu melihat preman pingsan di sana, kami jadi takut. Kami nyari pintu lain, dan ketemu pintu samping. Belum lama kami masuk, kami dengar ada yang masuk juga dari pintu lainnya. Kami buru-buru sembunyi, dan baru belakangan kami tahu ternyata yang masuk lo dan Ghevin. Sebenarnya kami mau langsung nyamperin kalian, tapi kayaknya kalian lagi terlibat pembicaraan serius. Ujung-ujungnya, kalian malah ci—”


Rani langsung menutup telinganya rapat-rapat. ”Udah, nggak usah disebut-sebut lagi!” potongnya malu.


Selesai memberi penjelasan, Melly menuntut hal yang sama dari Rani. Dia menatap Rani dengan pandangan menyelidik. ”Kenapa lo bisa disandera geng Martin dan geng Chebol?” tuntutnya. ”Gue bahkan nggak pernah ngedengar lo menyebut-nyebut mereka. Apa itu ada hubungannya dengan sesuatu yang lo rahasiakan dari gue itu?”


Tepat sekali! Berhubung Melly sudah mengungkitnya, maka Rani pun memutuskan untuk menceritakannya. Karena memang sudah saatnya Melly tahu.


Rani memulainya dari awal—dari pertama kali dia bertemu Martin, berlanjut ke niat Martin untuk menghancurkan geng Ghevin, sampai tugasnya sebagai mata-mata Ghevin. Untuk yang terakhir itu, Rani sengaja tidak menceritakan detailnya, terutama bagian dirinya menguntit Martin sampai ke situ. Karena Rani tidak mau membuat Melly marah.


Meski Rani sudah melewatkan bagian itu, tetap saja Melly marah. Seperti yang Rani duga, dia tidak mau Rani membahayakan dirinya.


”Lo benar-benar ceroboh, bego, dan nekat,” rutuk sahabat sejati Rani itu. Ceroboh, bego, dan nekat—benar-benar kombinasi hebat. ”Kalo lo sampai kenapa-kenapa, gimana, Ran?”


”Gue kan melakukannya demi Ghevin.” Rani berusaha membela diri dengan sengaja menyebut-nyebut Ghevin, karena siapa tahu Melly akan melunak. ”Justru gue nggak mau dia kenapa-kenapa.”

__ADS_1


”Gue juga nggak mau dia kenapa-kenapa,” tandas Melly. ”Tapi itu kan masalah gengnya. Dia pasti bisa mengatasinya sendiri.”


”Mungkin bisa, tapi lebih cepat dengan bantuan gue.”


”Rani!”


”Iya, iya, gue tahu.” Akhirnya Rani mengalah. ”Miko juga udah marahin gue kok.”


”Bagus itu,” tanggap Melly puas. ”Lo emang harus dimarahin. Tapi gue juga harus marahin Miko karena dia mau-mau aja jadi rekan lo.”


Amanda ikut menimbrung. ”Pantas aja beberapa kali gue ngelihat lo lagi ngobrol bareng Martin di SMA Garuda,” komentarnya pada Rani. ”Padahal tadinya gue pikir lo sering ke SMA Garuda hanya karena adik lo mau sekolah di sana, tapi ternyata juga karena—”


”Karena apa? Karena gue tertarik sama Martin?” potong Rani judes.


”Apa lo tertarik sama Martin?” cetus Melly kaget.

__ADS_1


Dua orang itu sebentar lagi benar-benar akan membuat Rani gilaaaaaa. ”Mana mungkin sih gue tertarik sama cowok lain selain Ghevin?” sergah Rani bete. ”Udah deh. Daripada ngomongin hal yang nggak penting begitu, mendingan kalian berdua temenin gue ke atas.”


Melly tampak keberatan. ”Ke atas? Ngapain?”


Rani jadi heran. "Sebenarnya tujuan Melly—Amanda juga sebenarnya, tapi dia nggak gue sebut karena cuma Melly yang menunjukkan keberatannya—datang ke sini untuk apa sih? Kalo Melly memang penasaran, seharusnya dia justru bersemangat untuk menjelajahi tempat ini, apalagi dia juga belum melihat pertempuran yang sedang terjadi. Apa Melly cuma ingin duduk-duduk di sini sambil ngopi-ngopi cantik? Padahal di sini nggak ada kopi."


”Gue mau nyari laptop Martin,” jelas Rani. ”Dia nyimpan foto-foto Ghevin yang lagi ngebobol SMA Ganesha. Ghevin dijebak. Dia bisa dikeluarkan dari sekolah kalo Martin sampai menyebarkan foto-foto itu, jadi gue harus menghapusnya.”


Rani sendiri baru teringat perihal laptop Martin ketika tadi bercerita pada Melly, sehubungan dengan tugasnya sebagai mata-mata Ghevin. Itu termasuk bagian yang dilewatkan, tapi akhirnya dia menceritakannya juga pada Melly. Tadi anggota geng Martin membawa laptop itu ke lantai atas, mungkin untuk menyembunyikannya. Rani pun ingin menemukannya dan menghapus foto-foto itu. Soal apakah Martin juga menyimpan foto-foto itu di tempat lain atau tidak, baginya itu urusan belakangan.


Mendengar Ghevin bisa dikeluarkan dari sekolah, Melly langsung setuju untuk menemani Rani ke lantai atas. Dia bahkan meminta Rani agar buru-buru menunjukkan jalan. Sementara Amanda hanya mengikuti saja.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2