Gejolak Masa Muda 2

Gejolak Masa Muda 2
Rani Menyerah


__ADS_3

Mata Rani yang bengkak karena menangis semalaman langsung menarik perhatian Melly begitu mereka bertemu di kelas. Sewaktu dulu Melly baru putus dengan Tristan, Melly yang datang ke sekolah dengan mata bengkak, dan sekarang malah giliran Rani.


Tampaknya Ghevin tidak menceritakan tentang penolakannya karena Melly tampak bingung melihat mata Rani yang bengkak. Dia malah mulai menebak-nebak apa yang menyebabkan Rani menangis.


"Apa lo dimarahin sama bokap-nyokap lo?" tebak Melly.


"Terakhir kali gue nangis karena dimarahin bokap-nyokap gue adalah ketika mereka nggak ngizinin gue sekolah di SMA Ganesha," tanggap Rani. "Tapi saat itu gue nggak sampai nangis semalaman."


"Lantas kenapa dong lo sampai nangis semalaman?" tuntut Melly.


"Lo pasti tahu kenapa," kata Rani.


Melly mengernyit, berpikir, dan kemudian bisa menebaknya seperti Billy. "Apa karena... Ghevin?"


"Siapa lagi selain Ghevin yang bisa bikin gue nangis semalaman?" kata Rani, membenarkan tebakan Melly. "Gue ngungkapin perasaan gue ke dia tadi malam, tapi dia nolak gue."


"Lo ngungkapin perasaan lo ke dia?" ulang Melly kaget. "Tapi kenapa? Selama tiga setengah tahun ini kan lo udah diam-diam aja. Kenapa tiba-tiba lo mutusin buat ngungkapin perasaan lo ke dia?"


"Dulu kan gue udah pernah janji untuk mengembangkan hubungan gue dengan Ghevin," jelas Rani. "Nah, gue udah

__ADS_1


mengusahakannya, tapi ternyata gagal."


"Lantas sekarang lo dan Ghevin gimana?" tanya Melly.


"Yah nggak gimana-gimana," jawab Rani. "Gue dan Ghevin nggak akan pernah bisa pacaran selama status gue masih sahabat lo, karena itulah alasan dia nolak gue. Andai gue bukan sahabat lo, maka gue akan punya kesempatan untuk pacaran sama dia. Jadi kenapa, Mell? Kenapa kita harus sahabatan?"


Air mata mulai menggenangi mata Melly. "Rani, jangan ngomong begitu," pinta Melly lirih.


Melihat air mata Melly membuat air mata Rani sendiri mendesak keluar. Jadi Rani segera berlari ke luar kelas, dan menyembunyikan dirinya di bilik toilet. Di sana, dia lagi-lagi menumpahkan air matanya.


"Apa yang udah gue lakukan? Bukan salah Melly kalo Ghevin nolak gue, jadi kenapa gue malah nyakiti dia? Padahal yang ingin dihindari Ghevin adalah rusaknya persahabatan gue dengan Melly."


Melly pasti terpukul mendengar kata-kata Rani tadi. Sebelumnya Rani memang pernah beberapa kali bertengkar dengan Melly, tapi tidak sampai membuatnya menangis.


Karena merasa bersalah, akhirnya Rani mendekati mereka. Tristan dan Melly langsung berdiri begitu menyadari kehadiran Rani. Setelah memberi Rani tatapan penuh peringatan, Tristan pun meninggalkan Rani berdua dengan Melly.


Selama sesaat, Rani dan Melly hanya bertatapan. Lalu, tanpa dikomando, mereka saling menghambur ke pelukan masing-masing—dengan diiringi suara tangisan mereka.


"M-maafin gue ya, Mell," tangis Rani. "Nggak seharusnya gue ngomong kayak tadi.'

__ADS_1


"Nggak apa-apa kok," balas Melly. "Gue ngerti lo cuma lagi sedih."


Pengertian Melly memperparah tangisan Rani. "Gue baru tahu beginilah rasanya patah hati," tangis Rani lagi. "Sakit, Mell... S-sakit banget..."


Bukannya menghibur, Melly malah menangis lebih keras dari Rani. Melly juga pasti tahu rasanya patah hati, sebab pernah mengalaminya dengan Tristan dulu.


Selesai dengan acara tangis-menangis, mereka pun kembali ke kelas, karena mereka sudah terlambat untuk mengikuti upacara bendera. Paling-paling kalau nanti ketahuan guru BK, mereka akan dimarahi.


"Nanti lo pulang sama gue aja ya, Mell, soalnya gue mau ke rumah lo sepulang sekolah," kata Rani pada Melly setelah mereka duduk di bangku masing-masing. "Gue mau ketemu Ghevin untuk... menyelesaikan semuanya secara baik-baik."


Melly hanya mengangguk. Sehubungan Melly akan pulang dengan Rani, Tristan pasti akan mengajukan keberatannya lagi, karena Melly harus naik motor. Tapi Rani tidak peduli dengan Tristan, seperti dulu, Melly akan tetap pulang dengannya.


Untuk memastikan Ghevin ada di rumah nanti, Melly menghubungi Ghevin terlebih dulu dan memintanya tidak ke mana-mana sepulang sekolah. Melly bilang Ghevin mengiakannya dan akan menunggunya. Rani pun berterima kasih pada Melly karena mau membantunya, bahkan tanpa diminta.


Rani tidak bisa berkonsentrasi selama pelajaran hari ini, sebab dia terlalu tegang menantikan pertemuannya dengan Ghevin. Sebenarnya bukan tiba-tiba dia merencanakan pertemuan itu, melainkan sudah dari tadi malam. Meski menyakitkan, tapi Rani mulai bisa menerima keputusan Ghevin. Menurutnya daripada memaksa Ghevin menerimanya, dan membuat perasaannya hanya menjadi beban untuk Ghevin, lebih baik dia pasrah saja.


"Mungkin memang sudah saatnya gue menyerah."


.

__ADS_1


.


(Bersambung)


__ADS_2