Gejolak Masa Muda 2

Gejolak Masa Muda 2
Kesimpulan Ghevin


__ADS_3

Ruang rawat inap Ghevin langsung terasa sepi, kontras dengan saat dipenuhi omelan Melly tadi. Rani masih berdiri di dekat kaki ranjang yang satunya, sedikit salah tingkah karena hanya tinggal berdua dengan Ghevin.


”Rani,” panggil Ghevin. ”Sini. Jangan jauh-jauh begitu.”


Rani pun menurut, dan berpindah ke samping ranjang Ghevin. Semakin dekat jaraknya dengan Ghevin, semakin Rani menyadari betapa tidak berdayanya Ghevin—hanya terbaring di ranjang, dan tampak begitu lemas. Tanpa Rani inginkan, air matanya mulai mengalir lagi.


”Rani, jangan nangis,” bujuk Ghevin. ”Gue kan udah nggak apa-apa.”


”Tapi gue benar-benar nggak tega ngelihat lo,” aku Rani. ”Lo pasti kesakitan banget.”


”Cuma sedikit kok,” kilah Ghevin.


Rani mendengus. ”Nggak mungkin cuma sedikit, karena lo sampai pingsan begitu,” sergahnya. ”Gue takut banget tadi. Gue takut lo mati. Kalo... kalo lo benar-benar mati—" tangis Rani semakin menjadi-jadi "—mendingan gue mati juga.”


”Rani, nggak baik ngomong soal kematian,” nasihat Ghevin.


”Gue serius,” tandas Rani. ”Pokoknya, lain kali lo nggak boleh lagi membahayakan diri lo demi gue. Nggak peduli apa pun yang akan terjadi sama gue, lo tetap harus mengutamakan keselamatan lo sendiri.”


”Gue sama sekali nggak menyesali apa yang udah gue lakukan tadi,” kata Ghevin. ”Selama ini gue sangat sering melukai hati lo. Gue nggak ingin melihat lo terluka lagi.”

__ADS_1


”Kalo gue sampai terluka pun, itu semua karena salah gue sendiri,” kata Rani. ”Lo udah nyuruh gue berhenti menjalankan tugas gue sebagai mata-mata lo, tapi gue nggak melakukannya. Akibatnya gue malah disandera sama geng Martin dan geng Chebol, dan membuat lo terpaksa nyelametin gue.”


”Jadi yang kemarin malam di bioskop, lo nge-date sama Martin emang buat menjalankan tugas lo sebagai mata-mata gue?” tanya Ghevin. ”Bukan karena lo... mmm... jatuh cinta sama dia?”


”Gue cuma mau lo berpikir bahwa gue udah move on,” aku Rani.


Entah perasaan Rani saja atau bukan, tapi Ghevin tampak lega. ”Syukurlah,” gumam Ghevin.


"Syukurlah? Kenapa Ghevin mengatakan itu?"


”Rani, gue mau jujur sama lo,” kata Ghevin tiba-tiba.


”Sejak nolak lo, gue merasa kehilangan lo. Kita emang nggak selalu ketemu setiap hari, tapi gue udah begitu terbiasa dengan kehadiran lo. Sehingga ketika lo nggak ada, rasanya seperti ada yang... kurang.” ungkap Ghevin.


"Ketidakhadiran gue berdampak pada Ghevin? Gue kira nggak akan ada bedanya untuk dia, baik gue ada maupun nggak."


”Beberapa hari ini gue merasa seperti ada di neraka,” lanjut Ghevin. ”Setiap hari gue selalu memikirkan lo, dan kangen sama lo, tapi nggak bisa ketemu lo. Bisa, sebenarnya, andai aja gue nggak menyanggupi permintaan lo supaya untuk sementara kita nggak saling ketemu dulu.”


"Wajar kalo gue yang selalu memikirkan dan merindukan Ghevin, tapi kalo sebaliknya? Pikiran Ghevin pastilah sudah penuh dengan banyak cewek, nggak akan ada tempat lagi untuk gue. Jadi nggak mungkin dia memikirkan gue, apalagi sampai merindukan gue, nggak peduli meski dia sendiri yang mengatakannya."

__ADS_1


”Gue senang banget ketika kemarin malam kita nggak sengaja ketemu di bioskop,” kata Ghevin. ”Tapi ternyata lo malah bersama Martin, dan gue ngelihat lo menggandeng tangannya. Sumpah, Rani, rasanya gue harus mati-matian menahan diri supaya nggak langsung menyerang Martin saat itu juga. Mungkin gue... cemburu. Entahlah. Yang jelas, gue nggak rela kalo lo jadi milik cowok lain.”


Mulut Rani sampai menganga. "Ghevin? Cemburu? Padahal dulu bahkan dia yang menyuruh gue untuk mencari pacar. Kalo dia cemburu, berarti kan..."


"Ah, nggak, nggak. Jangan berpikir macam-macam. Ingat, gue nggak boleh berharap pada Ghevin lagi. Bisa-bisa gue patah hati untuk yang kedua kalinya, oleh orang yang sama, padahal gue belum pulih dari patah hati gue yang pertama."


”Gue udah mempersiapkan geng gue untuk melawan geng Martin dan geng Chebol,” kata Ghevin. ”Sayangnya gue nggak nyangka mereka akan menyandera lo. Terang aja gue langsung kalang kabut, hingga memutuskan untuk meminta bantuan Tristan. Dibanding geng lainnya, geng Tristan-lah yang paling kuat. Saat gue yakin lo udah aman, gue malah ngelihat lo hampir kejatuhan potongan-potongan kayu dari rak. Tanpa berpikir panjang, gue langsung melompat ke arah lo. Gue nggak ingin kehilangan lo, Rani. Membayangkannya aja begitu menyakitkan. Kalo gue sampai gagal nyelametin lo, gue nggak akan pernah bisa memaafkan diri gue sendiri.”


Jika Rani yang tertimpa potongan-potongan kayu itu, mungkin dia akan mati, karena tidak sekuat Ghevin. Ghevin memiliki dua pilihan: menyelamatkan Rani dan mengorbankan dirinya sendiri, atau tidak menyelamatkan Rani dan membiarkan Rani mati. Dua-duanya tidak ada yang enak.


”Gue memikirkan ulang semua kejadian itu,” beber Ghevin. ”Dari sana, cuma ada satu kesimpulan.”


Baik atau burukkah kesimpulan Ghevin itu? Rani bahkan tidak berani mengambil kesimpulan sendiri.


Ghevin menatap Rani lurus-lurus dan berkata, ”I think i’m falling in love with you, Miss Adellia.”


Seketika, Rani langsung jatuh. Tidak main-main, dia langsung menghantam lantai. Rani merasakan pandangannya kabur karena begitu derasnya aliran air matanya, sementara tubuhnya gemetaran tak terkendali.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2