
Masih di kafe Bob Rock. Setelah beberapa saat mereka sibuk dengan minuman mereka masing-masing, mereka pun kemudian melanjutkan pembicaraan.
"Sebenernya kenapa sih lo begitu ngotot mau ngebantu geng kami?" tanya Miko penasaran.
Rani terus menyesap jus jeruk sambil memikirkan jawabannya, tapi sepertinya Rani akan jujur saja pada Miko.
"Karena gue suka sama Ghevin," ceplos Rani.
Miko tercengang. "Lo yakin?"
"Emang kenapa gue harus nggak yakin?"
"Habis lo kan udah kenal Ghevin sejak lama, dan tahu betapa playboy-nya dia," kata Miko. "Kok lo tetap mau sama dia?"
"Melly juga pernah nanyain hal yang sama," kata Rani. "Waktu itu gue bilang sama dia bahwa gue nggak peduli, karena gue telanjur suka Ghevin. Gue yakin gue akan bisa mengubah dia menjadi cowok yang setia."
"Kayaknya akan sulit deh, Ran," tanggap Miko.
"Gue tau," kata Rani. "Tapi gue nggak akan menyerah sebelum mencobanya. Gue udah berjanji pada diri gue sendiri akan mengembangkan hubungan gue dengan dia."
"Semoga aja lo berhasil," kata Miko.
"Lo setuju nggak kalo Ghevin sama gue?"
Rani pikir wajar bertanya begitu pada sahabat Ghevin. Meskipun mau dia setuju atau tidak setuju, Rani akan tetap jalan terus.
Miko tertawa. "Gue mah setuju-setuju aja," katanya.
__ADS_1
"Ada kemungkinan nggak sih, Mik, kalo Ghevin suka sama gue?" tanya Rani dengan nada berharap.
"Gue nggak tahu, Ran," jawab Miko. "Gue sama Ghevin kan nggak pernah ngomongin masalah gitu-gituan."
"Selama ini gue udah cukup sering menunjukkan perasaan gue ke dia lho," kata Rani. "Tapi Ghevin-nya tetep cuek-cuek aja."
"Mungkin dia cuma pura-pura nggak tahu," tebak Miko.
"Ya, tapi kenapa?" tuntut Rani. "Apa karena gue bukan tipenya? Sebenernya tipe cewek Ghevin itu kayak gimana sih?"
"Kalo dilihat dari cewek-cewek yang pernah dipacarinya, kayaknya tipenya bermacam-macam deh," kata Miko. "Tapi kalo boleh muji, dibanding mereka, lo nggak kalah cantik kok."
Sepertinya harus ada yang memegangi Rani supaya dia tidak terbang. Bisa-bisa Rani menabrak langit-langit di atasnya saking GR-nya dipuji oleh Miko.
"Oh iya, omong-omong, sekarang Ghevin lagi punya pacar nggak sih?" tanya Rani ingin tahu.
Rani mengerutkan kening. "Tapi kemarin dia lagi mau nge-date sama cewek."
"Berarti ceweknya lain lagi," kata Miko.
"Cepet amat move on-nya," komentar Rani. "Emang udah berapa lama dia pacaran sama tuh cewek?"
"Lima hari."
"Terus putusnya kenapa?"
"Bosan," kata Miko.
__ADS_1
"Baru pacaran lima hari dan Ghevin udah bosan?" pekik Rani kaget.
"Masih mending lima hari," kata Miko. "Dulu bahkan ada yang cuma bertahan tiga jam."
Kalau nanti Rani sudah berhasil pacaran dengan Ghevin, Rani akan memastikan hubungan mereka akan bertahan sampai ke jenjang pernikahan. Kan ironis juga kalau dia sudah menyukainya selama tiga setengah tahun tapi cuma pacaran dengan Ghevin selama tiga jam.
"Kalo cewek yang namanya Tania siapa?" tanya Rani, masih penasaran dengan cewek genit itu.
"Tania?" ulang Miko. Dia berpikir sejenak, kemudian berkata, "Waktu geng kami lagi ngumpul, ada segerombolan cewek yang ngajak Ghevin kenalan. Tania salah satunya."
"Ih, emang bener-bener cewek genit!'
"Kayaknya dia ngebet banget sama Ghevin," kata Miko. "Dia nyampe minta nomor HP Ghevin ke gue. Terpaksa deh gue kasih."
"Ternyata lo yang ngasih," gerutu Rani. "Lain kali kalo ada cewek yang minta nomor HP Ghevin, jangan dikasih. Bilangin juga ke anggota geng kalian yang lain."
"Tapi kayaknya Ghevin-nya oke-oke aja," kata Miko.
"Guenya yang nggak oke-oke aja," tukas Rani. "Pokoknya, cuma gue cewek yang boleh lo dukung buat jadi pacar Ghevin."
Kalau Miko tidak menyudahi, rasanya Rani bisa membicarakan Ghevin sampai malam. Setelah Miko membayar minuman mereka, dia pun mengajak Rani pulang.
Di selasar kafe, Rani mengingatkan Miko supaya merahasiakan soal dirinya menjadi mata-mata Ghevin dari siapa pun. Miko hanya mengangguk, lalu beranjak menuju Kawasaki Ninja hijaunya, sementara Rani menuju Yamaha Mio pink kesayangannya.
Rani sudah berhasil menjadikan Miko rekannya. Mulai besok dia akan menjalankan misinya sebagai mata-mata Ghevin.
(BERSAMBUNG)
__ADS_1