Gejolak Masa Muda 2

Gejolak Masa Muda 2
Melly Dan Amanda Datang


__ADS_3

Otak Rani langsung nge-hang. Serius, rasanya dia sama sekali tidak bisa berpikir. Tubuhnya membeku, dengan mata terbuka lebar. Seiring dengan kerja otaknya yang kembali normal, dia pun menyadari apa yang sedang terjadi, bibir siapa yang sedang berada di keningnya. Perlahan, Rani pun menutup mata.


Jantung Rani saat ini tidak hanya sekadar berdebar keras seperti saat Ghevin menggandengnya tadi, tapi juga sekalian melakukan somersault. Berkali-kali.


Ciuman Ghevin berlangsung cukup lama sampai Ghevin sendiri yang menghentikannya. Ketika Rani merasakan sentuhan tangan Ghevin di pipinya, dia pun membuka mata, dan melihat Ghevin sedang tersenyum padanya.


Mendapat senyuman dari Ghevin, membuat Rani merasakan dirinya akan meleleh…


"Kita bicarakan ini nanti," kata Ghevin. Kali ini dia tidak menunggu sampai Rani berlari ke pintu samping, melainkan langsung menghilang ke balik pintu tempat mereka masuk tadi—kembali ke pertempuran.

__ADS_1


Ghevin pasti tahu, dibanding berlari, yang lebih mungkin adalah Rani jatuh pingsan. Dan Rani memang benar-benar jatuh, meski tidak sampai pingsan. Rani merasakan lututnya sudah berubah menjadi keju, tidak kuat lagi menopang tubuhnya, sehingga dia langsung jatuh terduduk.


Rani kemudian memegang keningnya, masih merasa seperti sedang bermimpi. Dia bahkan sampai mencubit pipinya keras-keras, merasakan sakitnya yang menyengat, untuk meyakinkan dirinya bahwa itu bukan mimpi. Ini pertama kali cowok mencium keningnya, dan cowok itu Ghevin.


"Tapi kenapa Ghevin nyium gue? Maksud gue, dia kan nggak suka sama gue. Apa dia nyium gue supaya gue diam? Ah, untuk apa merusak kesenangan? Yang penting Ghevin melakukannya dalam keadaan sadar, dan nggak ada yang memaksanya. Mungkin memang sangat mendadak, dan sangat mengejutkan, tapi gue nggak keberatan."


Rani masih berada di awang-awang ketika mendengar ada yang memanggil namanya. Dia pun menoleh, dan melihat dua orang yang tidak disangka-sangka akan berada di tempat itu.


"Kok kalian berdua bisa ada di sini?" tuntut Rani. Sebelum salah satu dari Melly atau Amanda sempat menjawab, mendadak Rani teringat akan hal yang lebih penting lagi, yang membuat wajahnya sedikit memerah dan dirinya jadi tergagap saat melanjutkan, "A-apa kalian sempat m-melihat apa yang terjadi antara g-gue dan Ghevin tadi?"

__ADS_1


Wajah Melly ikut memerah saat menyahut, "Sedikit. Paling cuma beberapa detik pertama. Tapi habis itu gue langsung tutup mata kok. Beneran. Tanya aja sama Amanda."


Amanda hanya mengangguk, mendukung kata-kata Melly. Terlihat senyum geli di wajahnya, mungkin menganggap reaksi Rani dan Melly lucu. Rasanya Rani jadi ingin membenamkan dirinya ke bawah tumpukan kotak kayu dan tidak keluar-keluar lagi sampai sejuta tahun mendatang. Bagaimana tidak, ciumannya dengan Ghevin ternyata dilihat oleh adik dan mantan pacar Ghevin. Adakah yang lebih memalukan lagi?


"Mendingan sekarang jelasin kenapa kalian berdua bisa ada di sini," ulang Rani, sebab Melly dan Amanda belum sempat menjawabnya. Rani berharap dengan begitu Melly dan Amanda bisa sekalian melupakan adegan yang mereka lihat tadi.


"Amanda nelepon gue tadi," cerita Melly. "Dia bilang Ghevin datang ke rumahnya dan nemuin Tristan. Dia nguping pembicaraan mereka sehingga tahu Ghevin minta bantuan Tristan untuk melawan geng Martin dan geng Chebol. Ghevin nggak mau ambil risiko melawan mereka sendiri, sebab mereka menyandera lo. Tristan sih sempat jual mahal sedikit, tapi akhirnya mau juga ngebantuin Ghevin. Baguslah. Kalau nggak, gue tendang dia."


Ternyata Melly benar-benar mau menendang Tristan. Padahal tadi Rani cuma asal bicara.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2