Gejolak Masa Muda 2

Gejolak Masa Muda 2
Bertemu Amanda


__ADS_3

Ketika mendengar suara pintu toilet terbuka, Rani menoleh ke arah toilet cowok, tapi ternyata pintunya masih tertutup. Dia pun berpaling ke arah toilet cewek, dan melihat seseorang melangkah ke luar dari sana, seseorang yang baru saja mereka bicarakan tadi. Amanda.


Dari sekian banyak restoran yang ada di Jakarta, Amanda kok bisa-bisanya memilih untuk makan di restoran itu? Mungkin dulu Amanda sering diajak Ghevin makan di situ ketika mereka masih berpacaran, dan karena itulah restoran itu menjadi favoritnya. Apa pun alasannya, menurut Rani tidak seharusnya Amanda berada di situ saat ini—saat Ghevin hanya berada beberapa langkah darinya.


Rani buru-buru membuang muka. Berharap Amanda tidak melihatnya, atau kalaupun Amanda melihatnya, Rani mendoakan semoga mata Amanda mendadak siwer.


"Rani?" sapa Amanda.


"Sial, tajam sekali sih mata Amanda!"


Rani terpaksa berbalik, dan melihat wajah Amanda dipenuhi senyum.


"Rani, kan?" tanya Amanda memastikan. "Sahabat Melly?"


"Bukan, gue alien dari planet Venus," jawab Rani dalam hati.


"Udah lama ya kita nggak ketemu," kata Amanda ramah, meskipun Rani tidak menjawab pertanyaannya.


Tiba-tiba terdengar suara pintu toilet terbuka lagi, dan kali ini Ghevin yang melangkah ke luar. Dia berhenti mendadak saat menyadari Rani tidak sendirian.


Di depan mata-kepala Rani, Ghevin dan Amanda bertemu kembali. Senyum langsung menghilang sepenuhnya dari wajah Amanda sementara dia bertatapan dengan Ghevin. Ekspresi keduanya bisa dibilang sama—mata mereka membesar penuh keterkejutan.

__ADS_1


Sorot mata Amanda perlahan berubah menjadi sorot mata penuh kerinduan. Dia terlihat senang sekaligus sedih. Mungkin dia senang karena bisa bertemu kembali dengan Ghevin, dan sedih karena mengingat perlakuan Ghevin padanya dulu.


Ghevin lebih dulu menguasai diri. Dia berdeham dan berkata, "Hai, Amanda."


Amanda pun membuka mulut, seakan bermaksud membalas sapaan Ghevin, tapi tak ada suara yang keluar. Jadi dia menutup mulut lagi dan hanya terus menatap Ghevin. Mungkin dia mendadak bisu.


"Sama siapa?" tanya Ghevin. Rani pikir Ghevin tidak benar-benar ingin tahu dan hanya berbasa-basi saja.


"Sama Hellen dan Patricia," jawab Amanda.


Ternyata Amanda tidak bisu. Tapi suaranya pelan sekali sampai nyaris menyerupai bisikan. Rani bahkan tidak yakin Ghevin mendengarnya, tapi ternyata suara Amanda sampai juga ke telinga Ghevin.


"Oh," tanggap Ghevin singkat.


Rani tidak bisa membiarkan pertemuan itu berlangsung lebih lama lagi. Dia bahkan merasa sudah berbaik hati dengan memberi sedikit waktu pada mereka untuk saling berbicara. Rani tidak ingin Ghevin menyuruhnya pulang naik taksi sementara Ghevin kembali merajut kasih dengan Amanda, Rani pun segera mengambil tindakan.


"Ghev, gue harus pulang sekarang," kata Rani pada Ghevin.


Untuk pertama kalinya sejak bertemu kembali dengan Amanda, Ghevin berpaling pada Rani. Ghevin sempat terlihat tidak fokus, tapi menyahut, "Oke."


"Tunggu!" cegah Amanda panik. Dia sampai memegang lengan Ghevin, mungkin takut Ghevin akan tiba-tiba menghilang. "Ghev, bisa aku bicara sama kamu sebentar?"

__ADS_1


Ghevin tampak terlihat ragu. Dan Rani pun memanfaatkan keraguan Ghevin untuk membuatnya menolak permintaan Amanda.


"Billy sendirian di rumah," tambah Rani. Padahal, meski Billy sendirian di Papua Nugini pun, Rani akan cuek saja. Karena Billy memang lebih suka sendirian daripada bersama Rani, yang hanya bisa mengganggunya.


"Please," desak Amanda. Dia tidak melepaskan tangannya dari lengan Ghevin. "Lima menit aja."


Ghevin menatap Rani dan Amanda bergantian, mungkin bingung permintaan siapa yang harus diturutinya. Setelah beberapa saat, dia pun mendesah. Sepertinya Ghevin sudah menentukan pilihannya.


"Sebentar ya, Ran," kata Ghevin, membuat Rani langsung lemas. Ghevin mengajak Amanda berjalan ke arah ruang VIP yang tadi mereka tempati.


"Nggak... ini nggak mungkin! Ghevin nggak boleh milih Amanda. Pokoknya nggak boleh! Harusnya dia ngantar gue pulang, dan bukannya malah ngomong sama mantan pacarnya yang nggak bisa move on itu."


Merasa akan jatuh, Rani pun buru-buru bersandar kembali di dinding. Dia berusaha menenangkan diri. Akhirnya, Rani memberikan Ghevin dan Amanda waktu lima menit. Kalau sampai lima menit mereka belum juga kembali, Rani akan masuk ke ruangan itu dan menyeret Ghevin ke luar dari sana.


Tapi ternyata tidak sampai lima menit, Ghevin sudah kembali. Ghevin terlihat hanya sendirian, tanpa Amanda. Apa pembicaraan mereka tidak berjalan lancar? Rani harap begitu.


Ghevin segera mengajak Rani pulang. Tidak seperti saat pertama kali dia mengantar Rani pulang dulu, kali ini suasana di mobil sangat sunyi. Dilihat dari kekalutan di wajah Ghevin, Rani tahu Ghevin sedang memikirkan Amanda.


Sebenarnya Rani ingin menanyakan apa yang Ghevin dan Amanda bicarakan tadi, tapi dia takut mendengar jawabannya.


.

__ADS_1


.


(Bersambung)


__ADS_2