
Rani langsung terdiam, tidak tahu bagaimana harus menanggapi kenyataan menyedihkan itu. Dia tidak menyangka kalau kakak Martin sudah meninggal.
"Sori," gumam Rani akhirnya. "Gue nggak tahu."
Tanpa menanggapi permintaan maaf dari Rani, Martin berbicara mengenai kakaknya. "David, kakak gue itu, anak baik-baik. Dia sama sekali nggak pernah berantem, tapi tiga tahun lalu, dia justru meninggal karena tawuran. Ironisnya, dia bahkan nggak ikut tawuran. Dia cuma berada di tempat yang salah pada waktu yang salah."
"Tawuran? Tentunya bukan yang melibatkan SMA Ganesha, kan?"
Maksud Rani, kalau sampai ya, berarti secara tidak langsung Ghevin sudah menyebabkan kakak Martin meninggal. Akan benar-benar mengerikan kalau Martin berniat menghancurkan geng Ghevin karena ingin balas dendam atas kematian kakaknya.
"Apa yang tawuran itu SMA Ganesha?" Masa bodo Rani membawa-bawa SMA Ganesha, yang penting dia tahu kenyataannya.
"Bukan," sahut Martin. "Bukan SMA Ganesha."
"Oh, untunglah. Berarti Ghevin emang nggak terkait dengan kematian kakak Martin. Pokoknya dia nggak boleh sampai terkait dengan kematian siapa-siapa."
"Sejak saat itu," kata Martin, "gue jadi benci banget kalo ada orang yang seenaknya mukulin orang lain tanpa alasan masuk akal, apalagi kalo orang itu nggak salah apa-apa. Gue jadi merasa harus membalas orang yang seperti itu."
Nah, kalau soal itu, apakah terkait dengan Ghevin? Ghevin kan pernah memukuli anggota geng Martin untuk membela anggota gengnya sendiri, bahkan pernah memukuli Martin juga. Apa karena itu Martin berniat menghancurkan geng Ghevin?
"Apa saat ini ada orang yang mau lo balas?" pancing Rani.
__ADS_1
"Ada," aku Martin. "Dan gue sedang dalam proses melakukannya."
Pasti orang yang ingin dibalas Martin adalah Ghevin. Rani pun ingin mencoba-coba membujuk Martin agar tidak melakukannya.
"Lo harus menghentikannya," bujuk Rani. "Nggak baik membalas orang."
"Habis kalau nggak, mereka nggak akan jera," tukas Martin. "Selain itu, dengan begini, gue juga bisa sekalian melindungi SMA Garuda."
Kalau Martin sudah membawa-bawa soal melindungi SMA Garuda segala sih, susah deh. Tidak akan mempan, meski Rani membujuknya seperti apa pun.
Martin mendadak berdiri. "Gue harus pergi," katanya.
"Tunggu!" seru Rani. "Gue nggak bisa berdiri."
Martin mendengus, tapi bersedia juga menarik Rani berdiri dengan paksa. Nyaris Rani jatuh lagi karena kesemutan membuatnya tidak bisa berdiri normal.
"Oh iya," kata Rani, mendadak teringat sesuatu. Dia mengambil dompetnya dari tas dan mengeluarkan beberapa lembar uang. "Ini kembalian waktu lo traktir gue."
"Pegang aja," kata Martin, menolak menerimanya. "Lo butuh itu buat traktir gue nanti."
"Kalo begitu sama aja lo yang traktir gue lagi dong," protes Rani.
__ADS_1
"Itu kan jumlahnya nggak seberapa," kata Martin. "Lo pasti akan ngeluarin duit buat nambahin."
Wah, jangan-jangan Martin memang berencana untuk membuat Rani mentraktirnya yang mahal-mahal. Gawat. Sepertinya memang lebih baik kalau Rani menyimpan sisa uang itu saja.
"Ya udah deh," kata Rani akhirnya, mengalah. "Gue pegang duitnya. Tapi lo nggak boleh ngambil lagi ya. Kalo emang mau ngambil, sekarang masih belum terlambat. Ayo, sebelum gue masukkin lagi ke dompet."
Selama sedetik—hanya selama sedetik—Rani melihat setitik senyum muncul di wajah Martin. Senyum itu membuat kejutekan di wajahnya menghilang tak berbekas, dan dia jadi terlihat—yah—ganteng. Tapi lewat sedetik, senyum itu lenyap secepat munculnya, dan dia jadi jutek kembali.
"Ampun deh."
"Jangan mamer-mamerin dompet lo kayak gitu," omel Martin. Mulanya Rani pikir, Martin mengomel begitu karena khawatir ada pencuri yang berniat mencuri dompetnya, tapi dia keliru saat mendengar Martin melanjutkan, "Kayak isinya banyak aja."
"Sialan Martin. Isi dompet gue emang nggak banyak, tapi kan nggak perlu diumbar-umbar begitu."
Rani pun memasukkan dompetnya kembali ke tas sambil cemberut.
Tanpa menunggu Rani naik ke motornya, Martin lebih dulu menuju mobilnya. Sebelum masuk ke mobilnya, Martin sempat menoleh ke arah Rani. Rani pun berbaik hati melambai padanya, tapi Martin malah melengos.
.
(Bersambung)
__ADS_1