
Rani membuka sedikit pintu tempatnya dan Ghevin masuk tadi, untuk mengintip suasana di dalam. Tanpa dikomando ternyata Melly dan Amanda ikut-ikutan mengintip juga. Mereka tampak terkejut dengan apa yang mereka lihat, mungkin tidak menyangka pertempurannya sebesar itu. Sekarang barulah mereka panik, setelah tadi tenang-tenang saja.
Pertempuran masih berlangsung seru. Kalau Rani, Melly, dan Amanda berjalan menuju tangga di sudut kiri, apa kira-kira mereka akan ketahuan oleh geng Martin dan geng Chebol? Tapi mereka tetap harus mencobanya, karena cuma itu satu-satunya jalan yang Rani tahu untuk mencapai lantai atas. Mungkin ada jalan lain, tapi karena tidak mengenal tempat itu, Rani tidak mau membuang-buang waktu untuk berputar-putar mencari jalan lain.
Setelah memastikan—sebenarnya tidak bisa disebut memastikan, karena jumlah mereka cukup banyak untuk diperhatikan satu per satu, apalagi mereka juga bercampur baur dengan geng Ghevin dan geng Tristan—tidak ada anggota geng Martin dan anggota geng Chebol yang melihat, Rani pun buru-buru memimpin Melly dan Amanda masuk.
Selain anggota geng Martin dan geng Chebol, sebenarnya ada satu orang lagi yang Rani tidak ingin sampai melihat mereka, terutama melihatnya. Orang itu tentu saja Ghevin. Tadi Ghevin sudah menyuruh Rani langsung pulang, tapi dia justru sok-sokan jadi Dora the Explorer di tempat itu.
Rani, Melly, dan Amanda berbelok ke kiri, lalu mengendap-endap menuju tangga. Mereka berada di tengah-tengah tangga ketika tiba-tiba terdengar seruan tertahan Amanda, membuat Rani langsung memasang kuda-kuda untuk menendang siapa pun—terbatas pada geng Martin dan geng Chebol—yang memergoki mereka.
”Sori,” bisik Amanda tidak enak. ”Barusan gue hampir jatuh.”
__ADS_1
Ternyata tidak ada yang perlu Rani tendang. "Bikin kaget aja si Amanda. Ceroboh banget, bisa hampir jatuh begitu."
Sejujurnya Rani sendiri tidak peduli, meskipun Amanda jatuh terguling-guling. Mau Amanda jadi kambing guling pun Rani akan cuek saja, yang penting Amanda tidak membuat mereka sampai ketahuan.
”Hati-hati dong!” desis Rani memperingatkan. Dia kembali melanjutkan langkah menaiki tangga sementara dari sudut matanya tetap mengawasi Amanda yang berada beberapa anak tangga di bawahnya. ”Nanti di atas lo jangan sampai kesandung ini-itu dan bikin heboh. Gue butuh ketenangan supaya bisa konsentrasi nyari laptop Martin yang mungkin disembunyiin di tempat yang sulit ditemukan.”
”Maksud lo kayak di sana?” tunjuk Melly. Tidak jauh dari puncak tangga, terdapat meja, di mana di atasnya laptop Martin nongkrong dengan gagahnya.
Oke, lupakan saja kata-kata Rani soal tempat-tempat yang sulit ditemukan. Tidak disangka ternyata Rani hanya tinggal mencomot laptop Martin dari atas meja?
Baru saja Rani tiba di depan meja itu, bahkan sebelum dia sempat membuka laptop Martin, tiba-tiba muncul preman berkepala botak. Preman itu, dengan cepat Rani sadari, adalah preman yang pernah memergokinya ketika pertama kali dirinya datang ke pabrik itu. Kini preman itu kembali memergokinya—kali ini bersama Melly dan Amanda, yang berdiri di belakangnya. Mereka agak terlambat tiba karena tidak ikut berlari seperti dirinya.
__ADS_1
”Wah, ini kan Neng Cantik yang dulu,” kata preman itu, lagi-lagi sambil menyeringai mengerikan. Ternyata dia juga mengingat Rani. ”Sekarang bawa dua Neng Cantik lain.” Seringai mengerikannya berpindah ke Melly dan Amanda. ”Beruntung banget Abang, malam-malam begini kejatuhan tiga bidadari.”
"Bidadari gundulmu," sungut Rani dalam hati. Kebetulan preman itu memang gundul. Bukannya Rani tidak mau disebut bidadari. Hanya saja, lihat-lihat dulu yang menyebutnya begitu siapa. Mungkin kalau Ghevin yang menyebutnya bidadari, lain lagi ceritanya.
Dengan gesit tangan Rani mengambil laptop Martin, lalu dia, Melly, dan Amanda berlari cepat menjauhi preman itu. Preman itu mengejar, tentu saja. Mana mungkin dia membiarkan tiga bidadarinya lolos begitu saja?
Di pertigaan koridor, mereka memutuskan untuk berpencar—Rani lurus, Melly ke kiri, dan Amanda ke kanan. Dan tebak, siapa yang tetap dikejar preman itu?
Yup. Rani.
Rani merasa benar-benar sebal. Padahal ada Amanda yang begitu cantik, dan Melly yang tidak kalah cantiknya, tapi preman itu dengan setia tetap memilih mengejar dirinya. Apa karena dia membawa laptop Martin? Atau karena preman itu memang menyukainya?
__ADS_1
.
Bersambung...