
Setelah mencari-cari, Martin akhirnya berhasil menemukan ponsel Rani. Dilihat dari cara dia tersenyum puas saat menatap layarnya, Rani langsung tahu harapannya tidak menjadi kenyataan, bahkan sebelum dia memperlihatkan nama Ghevin yang tertera di layar ponsel pada Rani. Martin kemudian mengangkat dan menyalakan loudspeaker-nya. Belum sempat Martin mengatakan apa pun, terdengar suara panik Ghevin.
"Rani?" seru Ghevin panik. "Lo di mana?"
"Ini bukan Rani."
Hening sejenak. Mungkin Ghevin kaget karena bukan Rani yang mengangkat telepon, dan berusaha menebak suara siapa yang didengarnya.
"Martin," desis Ghevin setelah itu. "Mana Rani? Kenapa lo yang mengangkat teleponnya?"
"Rani ada di sini," sahut Martin. "Tapi dia sedang dalam keadaan nggak bisa mengangkat telepon."
"Gue peringatkan sama lo, Martin," geram Ghevin. "Sedikit aja lo berani menyentuh Rani, meski hanya sehelai rambutnya pun, gue bersumpah akan menghabisi lo."
Dengan dibuat-buat, Martin mendesah. "Entahlah, Ghev," katanya. "Gue nggak yakin gue bisa menahan diri untuk nggak menyentuh Rani." Setelah itu dia langsung mematikan telepon, lalu melemparkan ponsel Rani ke atas tas.
__ADS_1
Mendengar ucapan Martin, Rani bertekad akan menggigit tangan Martin kalau dia berani menyentuhnya. Serius. Maka itu, demi kebaikan tangannya, lebih baik Martin tidak macam-macam.
"Apa Ghevin benar-benar udah bikin lo patah hati?" tanya Martin. "Karena dari caranya mengancam gue, rasanya nggak mungkin kalo dia nggak suka sama lo."
"Ghevin nggak suka sama gue," tegas Rani. "Jadi percuma aja lo menyandera gue di sini. Dia nggak akan terpengaruh."
"Dari percakapan kami di telepon tadi, jelas Ghevin terpengaruh," kata Martin. "Tapi sebenarnya, baik gue menyandera lo atau nggak, dia tetap akan datang ke sini. Beberapa hari lalu gue menantangnya, apa dia berani melawan geng gue dan geng Chebol, dan dia menerima tantangan gue itu. Waktunya udah ditentukan hari ini. Dan ini juga sekalian untuk menjawab pertanyaan lo tadi—gue akan menghajar Ghevin dan anggota gengnya habis-habisan, memastikan mereka akan pulang dalam keadaan babak belur."
Selain jumlah anggotanya lebih banyak, geng Ghevin juga lebih kuat dibanding geng Martin. Tapi kalau dibantu geng Chebol, bukan tidak mungkin geng Martin bisa mengalahkan geng Ghevin.
"Jangan," pinta Rani. "Jangan lakukan itu. Jangan sakiti Ghevin. Gue nggak mau dia terluka. Please, Martin."
"Mau lo memohon sampai berlutut pun, gue tetap akan melakukannya," tandas Martin, hatinya tidak tergerak sedikit pun.
Mungkin Rani benar-benar akan berlutut seandainya dia tidak sedang diikat. Rani jelas akan mengusahakan berbagai cara supaya Martin tidak menyakiti Ghevin.
__ADS_1
Martin berbalik, berjalan ke arah beberapa anggota gengnya yang berkumpul di depan rak terdekat. Sebagai usaha terakhirnya, Rani mengungkit orang yang begitu disayangi Martin.
"Kakak lo pasti nggak mau lo melakukannya," seru Rani. Langkah Martin langsung terhenti. Dia membeku selama beberapa saat sementara Rani melanjutkan kata-katanya.
"Lo pasti sangat membenci orang-orang yang terlibat di tawuran itu, terutama orang yang menyebabkan kakak lo meninggal," kata Rani. "Tapi kalo lo menghajar Ghevin dan anggota gengnya, maka lo nggak akan ada bedanya dengan orang-orang itu."
"Jangan samakan gue dengan mereka!" bentak Martin. Dia kembali berbalik dan memelototi Rani. "Mereka hanya orang-orang bodoh yang tawuran karena hal sepele—nggak dibagi rokok. Hanya karena sepuntung rokok sialan, kakak gue meninggal. Meski orang yang menyebabkan kakak gue meninggal udah dipenjara, tetap aja, nggak bisa menghidupkan kakak gue kembali. Jadi untuk mencegah ada korban lagi seperti kakak gue, gue pun membalas orang-orang seperti mereka, agar mereka jera. Dan orang-orang itu, termasuk Ghevin dan anggota gengnya."
"Lo hanya mencari pembenaran untuk tindakan lo, yang jelas-jelas salah," kata Rani.
"Terserah bagaimana lo menilainya," kata Martin. "Tapi satu hal yang harus lo ingat, Rani, jangan pernah bersikap seolah lo tahu apa yang dipikirkan kakak gue."
Rani memang tidak tahu. Hanya saja dulu Martin pernah bilang, kakaknya anak baik-baik. Jadi dia hanya berusaha menebak-nebak pendapat kakaknya tentang tindakan yang akan dilakukan Martin—jika kakaknya masih hidup.
.
__ADS_1
Bersambung...