
”Sebenarnya alasan utama gue menyandera lo adalah karena gue begitu marah dan kecewa sama lo,” beber Martin. ”Gue kira lo tulus mau temenan sama gue. Tapi ternyata lo hanya mau membantu Ghevin.”
Rani jadi tidak enak. ”Gue emang nggak memikirkan dampaknya ke lo,” gumamnya.
”Dampaknya jauh lebih besar dari yang lo kira, Rani,” kata Martin. ”Apalagi, karena lo cewek pertama yang pernah gue kasih waktu lebih dari seminggu.”
Kening Rani berkerut, tidak mengerti maksud Martin. Tapi kemudian kata-kata Martin saat untuk ketiga kalinya mereka berada di Kafe 69 terngiang-ngiang di benaknya.
”Biasanya, kalo gue suka sama cewek, gue akan kasih waktu seminggu untuk melihat apakah dia ada sedikit perasaan yang sama dengan gue.”
"Martin bahkan ngasih gue waktu lebih dari seminggu. Apa itu berarti dia suka sama gue, melebihi cewek-cewek lain yang pernah disukainya? Ah, nggak mungkin. Dia kan selalu jutek sama gue."
”Entah sejak kapan, gue selalu memikirkan lo, dan itu membuat gue heran,” lanjut Martin. ”Lo emang cantik, tapi juga pemaksa dan superberisik. Jadi seharusnya mudah bagi gue untuk menyingkirkan lo dari pikiran gue.”
"Sialan Martin. Muji gue, tapi ujung-ujungnya justru ngatain gue."
”Tapi justru sifat-sifat lo yang seperti itulah yang membuat hidup gue jadi lebih berwarna,” kata Martin. ”Gue jadi nggak bisa memungkiri lagi bahwa gue emang memiliki perasaan ke lo.”
"Martin nggak serius suka sama gue, kan? Sebab kalo dia serius, berarti dia menyembunyikan perasaannya dengan sangat baik di balik kejutekannya."
”Gue suka sama lo, Rani,” ungkap Martin.
__ADS_1
"Astaga. Ternyata Martin memang benar-benar suka sama gue."
Jelas ini rekor untuk Rani—dua cowok menyatakan cinta padanya pada hari yang sama. Masalahnya, cowok pertamalah yang sudah pasti diterima cintanya. Sebelumnya Rani sudah beberapa kali menolak cowok, tapi sepertinya inilah yang tersulit. Mungkin karena dia sudah merasakan sendiri sakitnya ditolak, sehingga tidak ingin Martin merasakan hal yang sama dengannya, meski sebenarnya itu tidak bisa dihindari.
”Gue sangat menghargai perasaan lo ke gue,” tanggap Rani. ”Tapi gue nggak bisa—”
”Gue tahu lo nggak bisa membalas perasaan gue,” potong Martin. ”Gue juga tahu cinta lo cuma untuk Ghevin seorang. Tapi tetap aja, itu nggak menghentikan gue untuk mengungkapkan perasaan gue ke lo. Gue nggak mengharapkan jawaban apa pun dari lo. Gue cuma ingin lo tahu.”
"Oh. Baguslah."
”Mungkin ini karena gue udah melanggar prinsip yang gue buat sendiri,” kata Martin. ”Andai gue nggak melanggarnya, dan tetap kasih lo waktu seminggu, gue nggak akan patah hati begini.”
"Tuh kan, Martin jadi patah hati. Gue harus menghiburnya. Patah hatinya nggak boleh sampai berkepanjangan—walau gue ragu dia akan menangis berhari-hari kayak gue."
”Tunggu sebentar, ya,” kata Rani. ”Tetap di sini, jangan kemana-mana.” Lalu, tanpa memedulikan kebingungan Martin, Rani segera berlari ke arah kafeteria itu.
Bukan hanya Martin yang kebingungan, melainkan juga Miko. Miko sudah akan mengikuti Rani, tapi Rani mengangkat
tangan, memintanya tetap diam di tempatnya.
Mungkin karena sudah malam, makanan di kafeteria tinggal sedikit. Akhirnya Rani hanya membeli tiga kroket, tiga lemper, dan sebotol Akua. Secepat kilat, Rani berdiri kembali di depan Martin. Rani kemudian mengulurkan kantong plastik berisi makanan dan minuman yang dipegangnya pada Martin.
__ADS_1
”Berkali-kali gue mau traktir lo, tapi selalu gagal, dan baru kesampaian hari ini,” kata Rani. ”Nggak bisa dibilang traktir juga sih, sebenarnya, karena sebagian besar gue belinya pakai duit lo—kembalian waktu lo traktir gue. Intinya, gue udah nggak ada utang apa-apa lagi sama lo. Oh, dan satu lagi.” Rani mengaduk-aduk tasnya, mengeluarkan saputangan Martin, kemudian mengulurkannya pada Martin. ”Udah gue cuci kok. Sekarang udah kembali bersih dan wangi.”
Awalnya Martin hanya bisa terpana menatap kantong plastik dan saputangan yang kini sudah berada di tangannya. Lalu dia tersenyum, dan tidak seperti senyumnya yang Rani lihat sebelumnya, senyumnya kali ini bertahan lebih dari sedetik. Rani terkagum-kagum melihat betapa gantengnya Martin kalau tersenyum begitu.
”Lo seharusnya lebih sering tersenyum kayak begitu,” komentar Rani. ”Dijamin deh, banyak cewek yang bakal berlomba-lomba memperebutkan hati lo.”
Senyum Martin langsung lenyap. Salah Rani. Seharusnya Rani tidak berkomentar apa-apa.
”Makasih untuk traktirannya, Ran, dan makasih juga karena lo udah mau bicara sama gue,” ucap Martin. Total sudah tiga kali dia mengucapkan terima kasih pada Rani. ”Meski cuma lima menit, gue udah cukup senang.”
Ditambah dengan waktu yang diperlukan Rani untuk ke kafeteria, sebenarnya sudah lebih dari lima menit. Tapi, kalau bisa lebih menghibur Martin, Rani akan memberi lima menit waktu tambahan. Bahkan lebih dari itu, satu jam pun tidak apa-apa. Paling-paling Miko yang lumutan.
Bahu Martin merosot ketika pamit pada Rani dan berjalan menuju pintu depan. Rani merasa sedih melihat Martin begitu, apalagi Martin jadi begitu karena dirinya.
”Kenapa lo ngebeliin Martin makanan dan minuman?” tanya Miko, yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Rani.
”Buat ngehibur dia, sekaligus ngelunasin utang gue sama dia,” jawab Rani.
Mengikuti Martin. Rani dan Miko kemudian juga berjalan menuju pintu depan. Martin menghilang dengan cepat, karena begitu Rani dan Miko tiba di selasar rumah sakit, Martin sudah tidak terlihat di mana-mana.
.
__ADS_1
Bersambung...