
Tanpa bisa dicegah, pekikan kaget keluar dari mulut Rani. Dia tidak menyangka Martin berdiri di belakangnya. Rani pikir Martin sudah pergi. Tadi dia memang tidak begitu memperhatikan ke mana Martin pergi, sebab perhatiannya terfokus pada anak Ganesha itu. Sama sekali tidak terlintas dalam pikirannya bahwa Martin akan kembali dalam waktu singkat.
Apa dia sempat melihat Rani berbicara pada cowok itu? Kalau memang ya, Rani berharap Martin tidak curiga padanya.
Kekagetan membuat tubuh Rani menjadi limbung ke belakang. Kalau Martin tidak buru-buru menangkapnya, pasti Rani sudah jatuh ke tanah. Tapi karena Martin menyentakkan tubuh Rani dengan begitu keras ke arahnya, Rani justru jatuh ke pelukannya. Ini memang bukan pertama kalinya terjadi. Pertama kali bertemu Martin, Rani juga nyaris jatuh, dan Martin juga yang menolongnya. Tapi saat itu tangan Martin hanya sekadar melingkar di punggung Rani, bukan memeluknya seperti sekarang ini.
Rani tahu seharusnya dia melepaskan pelukan Martin. Tapi lagi-lagi, karena kekagetannya, dia jadi tidak bisa bereaksi cepat. Dia malah hanya diam dan memandangi wajah Martin yang berada begitu dekat dengan wajahnya sementara Martin juga balas memandangi wajahnya dengan begitu... intens.
"Salah si Martin. Dia kan tahu gue lagi kaget, jadi seharusnya dia yang ngelepasin pelukannya."
Tapi ketika kesadaran Martin mendadak pulih dan dia pun segera melepaskan pelukannya, Rani justru yang tidak siap. Kehilangan pegangannya pada Martin membuat Rani kali ini benar-benar jatuh ke tanah. Siku-nya langsung terasa perih, dan ketika Rani memeriksanya... ternyata berdarah—mungkin karena tergores batu.
"Kenapa lo bisa ada di sini?" tanya Martin pada Rani, tanpa ada niat sama sekali untuk membantu Rani berdiri. Dia juga tidak benar-benar menatap Rani. Mungkin dia malu karena tadi memeluk Rani. "Apa lo nguntit gue?"
"Nggak," dusta Rani. "Gue cuma kebetulan lewat."
Rani kembali memeriksa luka di siku-nya. Sepertinya tanpa sadar dia mengaduh, sehingga Martin berjongkok di sebelahnya dan ikut memeriksanya.
"Sebentar," kata Martin. Dia kembali berdiri, lalu setengah berlari menuju apotek di seberang jalan. Ketika kembali, dia membawa Betadine dan plester. Dengan hati-hati, dia meneteskan Betadine dan memasangkan plester ke siku Rani.
"Thanks," kata Rani kikuk.
"No problem," balas Martin. Dia duduk di sebelah Rani, sehingga mereka sama-sama duduk di bawah pohon tempat Rani mengintip tadi. "Jadi, kenapa lo bisa kebetulan lewat sini? Emangnya lo mau ke mana?"
__ADS_1
"Ke rumah teman gue," dusta Rani lagi. "Rumahnya emang ada di dekat sini."
"Apa teman lo anak SMA Ganesha?"
Rani pun langsung panik. "Kenapa Martin bawa-bawa SMA Ganesha?"
Tapi Martin menyalahartikan kepanikan Rani sebagai kebingungan, sehingga menjelaskan pertanyaannya.
"Ini kan wilayah SMA Ganesha," jelas Martin. "Jadi kalo rumah teman lo emang ada di dekat sini, mungkin dia anak SMA Ganesha."
"Oh," kata Rani, lega karena Martin tidak mengaitkannya dengan Ghevin. "Nggak kok. Dia udah kuliah."
Entah siapa teman Rani yang dimaksud sudah kuliah itu?
"Gue juga udah lama penasaran," kata Martin. "Urusan apa sih yang membawa lo ke SMA Garuda?"
"Adik gue sih yang sebenarnya ada urusan." Oke, itu kan memang benar. "Dia mau sekolah di SMA Garuda."
"Adik lo cowok atau cewek?"
"Cowok," sahut Rani. Dan ketika teringat Billy berharap dirinya bersikap hormat pada Martin, sekalian saja Rani menyampaikan keinginan Billy pada ketua geng SMA Garuda itu. "Dia bilang dia mau jadi anggota geng di SMA Garuda."
Martin tampak tertarik. "Oh, ya?"
__ADS_1
"Iya," angguk Rani. "Tapi menurut gue, dia nggak cocok jadi anggota geng. Habis selain dia emang nggak jago berantem, fisiknya juga nggak mendukung."
Maaf-maaf saja pada Billy, Rani kan cuma berkata jujur.
"Terkadang bukan cuma kemampuan yang penting, tapi juga semangat," kata Martin. "Kalo adik lo emang semangat mau melindungi SMA Garuda, kenapa nggak?"
"Ah, kayaknya nggak sampai sekeren itu deh tujuannya," tukas Rani. "Dia mah paling cuma mau keren-kerenan aja."
"Lo sama adik lo sebenarnya akur nggak sih?" tanya Martin, mungkin heran karena Rani sama sekali tidak membela Billy.
"Akur kok," sahut Rani. "Gue cuma jujur aja menilai dia."
"Enak ya, lo punya adik," komentar Martin.
"Lo sendiri, apa punya saudara?" tanya Rani.
"Gue punya satu kakak cowok."
"Terus, sekarang dia masih kuliah atau udah kerja?"
"Udah meninggal."
.
__ADS_1
.
(Bersambung)