
#POV RANI
Sungguhkah Ghevin jatuh cinta padaku? Ini bukan sembarang orang, ini Ghevin Joachim Alexander—cowok yang sudah kutaksir sejak tiga setengah tahun lalu. Mendengarnya menyatakan cinta padaku rasanya begitu aneh, begitu tak nyata, sehingga aku sulit untuk memercayainya.
Untuk kedua kalinya hari ini, aku mencubit pipiku keras-keras. Sakit. Ini juga bukan mimpi.
Aku langsung mendongak ketika mendengar erangan kesakitan Ghevin, dan melihat ia dalam posisi setengah duduk sambil memegangi kepalanya. Sepertinya dia khawatir karena aku jatuh tiba-tiba, dan berusaha duduk supaya bisa melihatku lebih jelas, tapi usahanya itu membuat kepalanya sakit.
Tidak ingin Ghevin kesakitan, buru-buru aku berdiri, meski dengan susah payah. Aku membantunya untuk berbaring kembali.
”Rani, kenapa lo jatuh?” tanya Ghevin.
”H-habis lo bercandanya ngagetin begitu,” sahutku.
”Gue nggak lagi bercanda kok,” bantah Ghevin. ”Yang gue bilang itu emang benar, dan langsung dari hati gue.”
”Tapi... tapi kenapa gue?” tanyaku tidak mengerti. ”Kan masih banyak cewek lain.”
”Mungkin emang banyak cewek lain.” Ghevin setuju. ”Tapi cuma ada satu Rani Adellia Lynn, kan?”
Cewek-cewek lain bisa mengucapkan selamat tinggal, karena Ghevin tidak menginginkan mereka. Ghevin-cuma-menginginkanku.
__ADS_1
”Dulu lo nolak gue dengan alasan gue sahabat Melly.” Aku mengingatkan kakak temanku itu. ”Sekarang kan gue masih sahabat Melly. Jadi apa yang membuat lo berubah pikiran?”
”Gue kepingin cari pacar yang serius,” Ghevin beralasan. ”Dan siapa yang lebih tepat dibanding sahabat Melly?”
Astaga, pacar yang serius! Ghevin berniat serius denganku!
Katakan padaku, kalau sudah begini, bagaimana aku bisa berhenti menangis? Aku begitu bahagia sampai-sampai air mataku terus mengalir. Mengingat begitu seringnya aku menangis hari ini, juga hari-hari sebelumnya, aku heran air mataku tidak habis-habis.
”Oh iya, gue juga mau minta maaf untuk ciuman tadi,” tambah Ghevin, membuat wajahku langsung memerah. ”Gue udah lancang karena mencium lo tanpa seizin lo. Mungkin karena gue begitu kangen sama lo, jadi melampiaskannya seenaknya begitu.”
”N-nggak apa-apa kok,” gumamku, malu. Sebenarnya Ghevin tidak perlu minta maaf padaku. Tapi akan sangat memalukan kalau aku mengakui padanya bahwa aku senang dia menciumku.
Sekali lagi aku melihat Ghevin memegangi kepalanya, dan meski kali ini tidak terdengar erangan kesakitannya, aku tahu kepalanya pasti sakit lagi. Bodohnya aku. Aku sudah membuat Ghevin banyak bicara, padahal kan dia butuh istirahat.
”Tentu aja gue nggak keberatan,” kata Ghevin. ”Gue malah kepingin lo datang. Tapi lo datangnya sama Miko, ya.”
”Gue bisa sendiri kok,” kataku.
”Jangan,” larang Ghevin. ”Pokoknya selama beberapa hari ini, lo jangan ke mana-mana sendiri dulu. Takutnya Martin masih mengincar lo. Gue akan nyuruh anggota geng gue untuk gantian jagain lo. Kalo nanti gue udah keluar dari rumah sakit, gue sendiri yang akan jagain lo.”
Aku ragu Martin masih mengincarku. Tapi daripada Ghevin jadi khawatir, dan malah melarangku datang, aku mengangguk saja.
__ADS_1
Kakiku tidak mau bergerak dari samping ranjang Ghevin sehingga aku harus mati-matian memaksanya supaya mau melangkah ke pintu ruang rawat inap Ghevin. Sampai aku sudah membuka pintu itu pun, aku masih berkali-kali menengok ke arah Ghevin. Wajahnya terakhir kulihat sebelum akhirnya dengan berat hati aku menutup pintu itu.
Miko langsung bangkit dari kursi yang sedang didudukinya ketika melihatku keluar. Ternyata dia belum pulang.
”Kok lo masih di sini?” tanyaku heran.
”Ghevin nyuruh gue nganterin lo pulang,” jawab Miko.
Kapan Ghevin menyuruhnya? Ah, pasti saat mereka berbisik-bisik tadi. Ternyata penjagaanku sudah dimulai dari malam ini.
”Tapi kita pulangnya naik taksi aja ya, soalnya motor gue kan masih di markas geng Chebol," kata Miko. "Kuncinya juga masih lo pegang kan, Ran?”
Kalau Amanda lupa mengambil kunci mobilnya dari Miko, aku lupa mengembalikan kunci motor Miko pada Miko. Kunci itu masih tersimpan di saku celanaku. Aku mengeluarkannya dan mengembalikannya padanya.
”Terus kapan lo mau ambil motor lo?” tanyaku. ”Mobil Ghevin juga masih di sana, kan?”
”Gue ambil nanti, setelah nganterin lo pulang,” jawab Miko. ”Tadi Ghevin juga udah ngasih kunci mobilnya ke Shandy, nyuruh dia ambil mobilnya. Sekarang Shandy dalam perjalanan balik ke sana.”
Masih sambil membicarakan motornya dan mobil Ghevin, aku dan Miko berjalan menuju pintu depan rumah sakit. Miko berharap motornya dan mobil Ghevin masih dalam keadaan utuh, dalam artian tidak dirusak anggota geng Martin atau anggota geng Chebol.
*
__ADS_1
####