Gejolak Masa Muda 2

Gejolak Masa Muda 2
Ghevin Mencium Amanda


__ADS_3

Terbagi antara rasa lapar dan rasa penasaran akan tujuan Ghevin dan Amanda, Rani memutuskan untuk buru-buru menyuap makanan banyak-banyak ke mulutnya sebelum mengikuti mereka. Rani sempat kehilangan jejak mereka, tapi untungnya segera menemukan mereka lagi. Matanya sampai membelalak ketika menyadari ternyata Amanda mengajak Ghevin menemui orangtuanya.


Wajar bagi Tristan untuk mengenalkan Melly pada orang tuanya, sebab mereka memang berpacaran. Nah, kalau Amanda? Ghevin kan mantan pacarnya, jadi untuk apa, coba? Apa jangan-jangan kini mereka memang sudah berpacaran kembali? Ah, sudahlah. Jangan soal itu lagi.


Ghevin jelas berhasil merebut hati orangtua Amanda—atau setidaknya ibunya—sebab mereka tampak berbincang-bincang dengan akrab. Dia bahkan berhasil membuat ibu Amanda tertawa.


"Dasar si penakluk wanita itu! Pesonanya memancar ke mana-mana, bahkan tanpa memedulikan usia targetnya."


Rani begitu fokus mengamati perbincangan mereka sampai-sampai dirinya tidak menyadari kehadiran Melly di sebelahnya. Nyaris saja dia terlompat kaget ketika merasakan sentuhan tangan Melly di lengannya.


”Serius amat sih lo,” komentar Melly. ”Lagi ngelihatin apa sih?”


Rani hanya mengedikkan kepala ke arah Ghevin, Amanda, dan orangtua Amanda sebagai jawabannya, dan Melly bisa mengerti dengan sendirinya.


”Jangan khawatir, Ran,” kata Melly. ”Paling Amanda cuma mau ngenalin Ghevin sebagai kakak gue aja. Tadi kan ada dia juga waktu Tristan ngenalin gue ke bokap-nyokap mereka.”


Rani belum sempat menanyakan pada Melly mengenai hasil pertemuannya dengan orangtua Tristan. Sehingga ada yang bisa mengalihkan perhatiannya sesaat dari perbincangan antara Ghevin, Amanda, dan orangtua Amanda.

__ADS_1


”Gimana, Mell? Apa lo dan Tristan udah dapat restu dari bokap-nyokap Tristan?” goda Rani.


Melly tersipu. ”Bisa dibilang gitu deh,” tanggapnya. ”Nyokapnya bilang gue cantik. Beliau nggak henti-hentinya muji gue. Sedangkan bokapnya nggak begitu banyak ngomong.”


”Kalo beliau emang nggak begitu banyak ngomong, terus lo tahu dari mana lo dan Tristan dapat restu dari beliau?” tuntut Rani.


”Nebak aja,” kata Melly. ”Habis beliau juga senyum sama gue, meski cuma sekali.”


”Paling senyum basa-basi aja,” kata Rani menakut-nakuti Melly. ”Mungkin sebenarnya beliau nggak mau ngasih restunya ke lo dan Tristan.”


”Jangan nakut-nakutin ah!” omel Melly. ”Tristan aja bilang, dia kaget juga ngelihat bokapnya senyum sama gue, soalnya beliau tuh orangnya pelit senyum.”


”Tadi kan aku udah makan,” protes Melly.


”Makan lagi aja,” kata Tristan. ”Nanti kan kita bakal berdisko, jadi kamu butuh energi banyak.”


”Iya juga ya.” Melly setuju dan menerima piring itu dari Tristan dan mulai makan.

__ADS_1


Melihat Melly makan, Rani jadi sadar sebenarnya dia masih lapar. Daripada dia ngiler di situ sementara perbincangan antara Ghevin, Amanda, dan orangtua Amanda tidak selesai-selesai, dia pun memutuskan untuk makan lagi.


Rani makan sebanyak yang dia bisa, dan tahu-tahu saja, prosesi tiup lilin dan potong kue segera dimulai. Rani pun mencari-cari Ghevin, tapi kerumunan orang yang mulai menyemut di sekitar panggung menyulitkannya.


Selesai prosesi, seperti kata Tristan, waktunya untuk berdisko. Musik ingar-bingar memekakkan telinga Rani, sementara lampu disko bekerlap-kerlip menyinari orang-orang yang asyik berdisko. Rani belum juga berhasil menemukan Ghevin, dan yang membuatnya curiga, Amanda juga ikut menghilang. Amanda tidak terlihat lagi sejak turun dari panggung.


Belum mau menyerah, Rani sampai mengelilingi ballroom hingga dua kali, tapi tetap tidak ada tanda-tanda keberadaan Ghevin dan Amanda sedikit pun. Rani lalu berdiri di depan panggung, melongok ke sana kemari, dan saat itulah matanya tertumbuk pada pintu yang berada di samping panggung—pintu dimana Amanda muncul untuk yang pertama kalinya. Merasa Ghevin dan Amanda mungkin ada di dalamnya, dia pun memutuskan untuk memasuki pintu itu.


Ruangan berbentuk segi empat menyambut kedatangan Rani. Ada cermin besar di seberangnya, dan dua pintu di sebelah kiri dan kanannya. Dia kemudian membuka pintu yang kiri, dan langsung melihat Ghevin. Kaki Rani yang akan melangkah masuk langsung terhenti ketika menyadari Ghevin tidak sendirian, meski awalnya dia menyangka begitu. Ada Amanda di sana, tersembunyi di balik tembok, sementara hanya bagian bawah gaunnya yang mencuat keluar dari balik tembok yang memberitahukan keberadaannya.


Tak satu pun dari mereka berdua yang menyadari kehadiran Rani. Ghevin tampak mengangkat kedua tangannya ke depan, lalu kepalanya pun ikut menunduk ke arah Amanda. Dilihat dari posisinya, hanya ada satu hal yang terpikirkan oleh Rani.


"Oh, my god. Ghevin nyium Amanda!"


Rani hanya bisa berdiri terpaku dengan hati berdenyut-denyut nyeri. Tidak cukupkah dulu dirinya melihat mereka berpelukan, sehingga kini dia juga harus melihat mereka berciuman?


.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2