
Sore ini, setelah beberapa lama absen, Rani kembali berada di pelataran parkir SMA Garuda. Reaksi Martin ketika melihat Rani sedikit mengejutkan, karena dia terlihat... senang. Tidak jelas-jelasan, memang, melainkan hanya ada setitik rasa senang di wajah juteknya.
"Akhirnya lo nongol lagi," kata Martin.
"Kenapa emangnya? Lo kangen sama gue?" goda Rani.
Martin mendengus. "Gue pikir lo mati atau kenapa."
"Sialan Martin. Bisa-bisanya dia berpikir gue udah mati."
"Kemarin-kemarin gue nggak datang soalnya lagi sibuk." Sibuk memikirkan Ghevin, tepatnya. Dan ternyata, tebakan Martin juga menyerempet ke situ.
"Sibuk sama gebetan lo?" tebak Martin. "Apa hubungan lo dengan dia berjalan lancar?"
Sia-sia saja. Meski Rani tahu dirinya akan tetap teringat pada Ghevin saat sedang bersama Martin, tapi tidak disangka hal itu akan terjadi kurang dari semenit setelah dirinya bertemu dengan Martin. Lagi pula, apanya yang berjalan lancar? Hubungannya dengan Ghevin malah mandek. Macet. Tidak berlanjut lagi.
Rani kemudian bersandar pada mobil Martin, menunduk dan memandangi paving block. Setelah tadi semangatnya sempat muncul, dan bahkan membuatnya dengan entengnya bisa menggoda Martin, kini dia justru kembali sedih.
"Gue dibikin patah hati sama gebetan gue," aku Rani. "Seharusnya dulu, waktu lo nyuruh gue ngelupain dia, gue nurutin lo. Jadi gue nggak perlu sampai ditolak sama dia dan patah hati begini."
Sungguh memalukan, Rani menangis di depan Martin, menunjukkan kelemahannya. Martin pasti mengolok-oloknya.
Ternyata tidak. Dari sudut matanya, Rani bisa melihat Martin ikut bersandar pada mobilnya, di sebelah Rani. Dan setelah tangis Rani mereda menjadi isak-isak kecil, Martin lalu mengulurkan saputangan pada Rani.
__ADS_1
"Pakai aja," Martin mempersilakan. "Masih bersih, belum gue pakai."
Rani menerima saputangan itu. "T-thanks," gumamnya. Dia pun menggunakan saputangan itu untuk menghapus air mata dan mengeringkan hidung. Ketika dia mengulurkan saputangan itu kembali pada Martin, bukannya menerimanya, Martin malah hanya menatapnya dengan jijik.
"Cuci dulu, baru balikin ke gue," kata Martin.
Karena Martin sudah berbaik hati mau meminjamkan Rani saputangannya, Rani pun menurutinya dan akan mencucinya. Lagi pula, saputangan itu memang sudah penuh air mata bercampur ingusnya, jadi agak keterlaluan juga kalau Rani mengembalikannya begitu saja pada Martin.
"Jam tujuh nanti, lo siap-siap, gue mau ngajak lo nonton," kata Martin tiba-tiba. "Lagi-lagi, anggap aja sebagai penghiburan." Setelah itu, dia masuk ke mobilnya dan berlalu meninggalkan Rani.
Butuh beberapa saat bagi Rani untuk bisa mencerna kata-kata Martin, hingga akhirnya dia menyadari Martin baru saja mengajaknya berkencan.
"Nggak mungkin. Martin pasti bercanda."
Ternyata Martin tidak bercanda. Dia benar-benar muncul di luar rumah Rani malam ini. Rani masih saja terheran-heran, bahkan ketika mereka sudah sampai di mal dan memilih-milih film di bioskop. Hampir semua film yang sedang tayang adalah film romantis, padahal Rani sedang tidak ingin menonton film semacam itu—dan Martin pun tahu, karena jelas-jelas Rani mengatakan padanya bahwa dirinya sedang patah hati—jadi film yang mereka pilih adalah film horor.
Sementara Martin mengantre untuk membeli tiket, Rani berjalan menuju konter makanan dan minuman. Karena Martin sudah mentraktirnya menonton, jadi gantian Rani akan mentraktir Martin popcorn, mungkin ditambah akua.
Semakin mendekati konter makanan dan minuman, Rani baru menyadari kehadiran seseorang yang entah sejak kapan mengamatinya.
Ghevin.
Mereka berdiri berhadapan, dengan jarak tiga langkah. Sejauh penglihat Rani, Ghevin hanya sendiri. Kebetulan sekali dia memilih bioskop yang sama dengan Rani dan Martin. Tidak ada senyum, hanya mata mereka bertautan. Ingin rasanya Rani memeluk Ghevin erat-erat, untuk melampiaskan rasa rindunya yang meluap-luap. Tapi tidak. Itu tidak bisa, dan itu tidak boleh.
__ADS_1
"Kalo misalnya kita nggak sengaja ketemu, berpura-puralah kita nggak saling mengenal."
Rani sudah mengucapkan itu, dan karena itu harus menepatinya. Jadi dia pun berbalik, batal mentraktir Martin.
"Rani, tunggu!" Baru selangkah Rani berjalan, Ghevin sudah mencengkeram lengannya, memaksa Rani untuk kembali berbalik. "Jangan pergi begitu aja. Gue mau bicara sama lo."
Rani hanya berdiri dengan gelisah, terutama karena tangan Ghevin masih mencengkeram lengannya. Sentuhannya membuat Rani tidak bisa berpikir jernih. Untung tidak lama kemudian Ghevin melepaskan cengkeramannya dari lengan Rani.
"Kenapa lo masih ketemu Martin, Ran?" tuntut Ghevin. Ternyata dia sempat melihat Rani bersama Martin, mungkin saat Rani dan Martin sedang memilih-milih film. "Bukankah lo udah janji akan berhenti menjalankan tugas lo sebagai mata-mata gue?"
Tak perlu susah-susah mencari alasan, Rani memilih untuk jujur saja. Tiba-tiba ide melintas di benaknya. Rani akan menggunakan kesempatan ini untuk menunjukkan pada Ghevin bahwa dia, seakan-akan, sudah move on darinya.
"Lo salah paham, Ghev," kata Rani. "Gue emang masih ketemu Martin, tapi bukan buat menjalankan tugas gue sebagai mata-mata lo. Kami lagi dekat sekarang, dan bahkan hari ini kencan pertama kami. Hari-hari yang kami lalui bersama tanpa sadar membuat kami saling jatuh cinta."
Bahkan di telinga Rani sendiri, kata-katanya terdengar begitu palsu. Ghevin juga tampaknya antara percaya dan tidak percaya.
"Gue harus segera kembali ke Martin," pamit Rani. "Dia nggak boleh sampai ngelihat kita lagi berdua."
Langkah Rani membawanya meninggalkan Ghevin—sementara Ghevin tetap bergeming di tempatnya—terasa begitu berat. Rani kembali ke Martin, yang baru selesai membeli tiket. Sebelum Martin sempat bertanya kenapa Rani kembali dengan tangan kosong, Rani mengarahkan Martin ke teater. Film yang akan mereka tonton memang akan segera dimulai.
Mengetahui Ghevin masih mengikuti mereka dengan tatapannya, tanpa mengindahkan Martin yang mengernyit heran, Rani lantas menggandeng Martin. Rani sengaja melakukannya, karena berharap dengan begitu, bisa membuat Ghevin sepenuhnya memercayai kata-katanya tadi.
.
__ADS_1
Bersambung