
Keesokan harinya, lagi-lagi Martin muncul di luar rumah Rani. Saat itu hari sudah sore, dan Martin mengajak Rani pergi. Rani pun menerima ajakannya, meski Martin tidak mau memberitahu Rani mau pergi ke mana.
Ternyata yang menjadi tempat tujuan mereka adalah pabrik terbengkalai yang pernah didatangi Martin saat Rani menguntitnya dulu. Pabrik yang dicurigai Rani sebagai markas geng Chebol. Rani tidak menyadarinya sampai kemudian mobil Martin melewati daerah yang cukup sepi, yang tidak asing bagi Rani.
Perasaan tidak enak mulai menyelimuti Rani saat mobil Martin memasuki pelataran parkir pabrik itu. Ada beberapa mobil lain, beserta beberapa motor, yang parkir di sana. Tebakan Rani, milik anggota geng Martin. Tapi untuk apa mereka berkumpul di pabrik itu?
Setelah memarkir mobil, Martin meraih laptop dari jok belakang. Rani menatap Martin dan laptopnya secara bergantian dengan curiga. Tapi mungkin bukan Ghevin—atau lebih tepatnya, foto-foto Ghevin di dalamnya—yang membuat Martin ingin menggunakan laptop, jadi Rani berusaha mengusir kecurigaannya. Lagi pula, ada hal lain yang lebih Rani cemaskan.
"Ini tempat apa?" tanya Rani, seolah ini pertama kalinya dia ke situ. "Kenapa lo ngajak gue ke sini?"
__ADS_1
"Kalo mau tahu jawabannya, lo ikut gue ke dalam," sahut Martin. Dia keluar dari mobil seraya membawa serta laptop.
Tentu saja Rani ingin mengetahui jawabannya, tapi akan berbahayakah? Pilihan lain yang Rani punya adalah tetap di mobil, menunggu Martin, entah sampai kapan. Tidak ada angkutan umum yang bisa dinaiki, seandainya dia ingin pulang sendiri.
Pasti akan membosankan, jadi Rani memutuskan untuk mengikuti Martin keluar dari mobil. Martin sudah setengah jalan menuju pintu depan pabrik, yang dijaga dua preman, sementara Rani berusaha menyusulnya. Salah satu dari kedua preman itu mengedikkan kepalanya ke arah pintu, mengizinkan Martin masuk.
Ketika tiba giliran Rani, mereka menatap Rani dengan penuh minat. Rani pun langsung mempercepat langkah, berjalan sedekat mungkin dengan Martin. Di tempat yang penuh preman, hanya Martin yang bisa membuatnya merasa aman, karena dia tidak mengenal satu pun anggota gengnya.
Martin terus memimpin Rani berjalan mendekati bangku yang terdapat di ujung, menghadap ke pintu depan. Kemudian dia menyuruh Rani duduk di bangku itu, dan Rani pun menurutinya. Baru sebentar Rani duduk, tiba-tiba ada seutas tali yang melilit tubuhnya, hingga ke sandaran bangku. Sebelum benar-benar menyadari apa yang terjadi, Rani sudah terikat, menyatu dengan bangku. Tasnya, yang tadinya dia letakkan di pangkuannya, sampai jatuh dalam usaha tanpa hasilnya untuk melepaskan diri.
__ADS_1
"Apa-apaan sih ini?" seru Rani pada orang yang mengikatnya, yang ternyata salah satu anggota geng Martin. Anggota geng Martin itu hanya menatap Rani sekilas. Setelah mengambil laptop Martin yang diulurkan Martin, dia menaiki tangga yang terdapat di sudut kiri, lalu menghilang di baliknya.
Tidak mendapat respons dari anggota geng Martin, Rani segera beralih pada Martin. Dia merasa kesal melihat Martin hanya berdiri diam, membiarkan anggota gengnya mengikatnya, padahal seharusnya Martin menolongnya. Tapi, saat melihat tatapan dingin Martin, Rani pun sadar.
Martin memang menginginkan Rani diikat. Bahkan sepertinya Martin sendiri yang menyuruh anggota gengnya untuk
mengikat Rani. Mungkin diam-diam dia memberi tanda pada anggota gengnya sebelum Rani duduk tadi.
.
__ADS_1
(Bersambung)