Gejolak Masa Muda 2

Gejolak Masa Muda 2
Adu Tinju


__ADS_3

Rani mengira dia hanya akan makan berdua dengan Melly, jadi dia sedikit kaget ketika tiba-tiba Ghevin bergabung bersama mereka di meja makan. Rani yang sudah bersiap menghabiskan sate ayam dan lontong yang ada di meja dengan kecepatan cahaya, langsung bersikap alim dan makan dengan pelan.


"Kenapa sih lo selalu minta dibeliin sate ayam, Mell?" tanya Ghevin heran pada Melly.


"Karena gue suka," jawab Melly.


"Nggak mungkin kalo cuma suka doang," tukas Ghevin. "Lo sering banget makan sate ayam. Udah gitu dulu kan lo pernah nangis pas ngelihat sate ayam. Jadi lo ngaku aja deh. Ada apa antara lo dan sate ayam?"


Melly langsung memasukkan lontong banyak-banyak ke mulut sampai pipinya menggembung. Dia sengaja melakukan itu, karena kalau mulutnya penuh, dia tidak bisa bicara, yang berarti dia juga tidak bisa menjawab pertanyaan Ghevin.


Rani tahu kenapa Melly menolak menjawab pertanyaan Ghevin. Karena Melly tidak bisa menjawabnya tanpa membawa-bawa Tristan. Sedangkan kalau mendengar soal Tristan, mood Ghevin pasti menjadi jelek.


Sate ayam bagaikan simbol untuk Tristan dan Melly, karena itulah yang mereka makan saat kencan pertama dan saat Tristan meminta Melly menjadi pacarnya. Jadi tidak aneh kalau Melly begitu terobsesi pada sate ayam.


Meski Melly tidak menjawab pertanyaan Ghevin, kakaknya bisa menebak sendiri. Dia mengaitkan sate ayam dengan Tristan, sehingga membuat Melly langsung terbatuk-batuk karena nyaris tersedak lontong. Rani pun menepuk-nepuk punggung Melly dengan perlahan.


"Udah gue duga," dengus Ghevin. "Lama-lama si brengsek itu bisa bikin lo jadi gila, Mell."


Melly tidak menanggapi karena sibuk meneguk air putih banyak-banyak. Tetesan air sampai mengalir turun ke dagunya.


"Ran, apa Tristan pernah macem-macem sama Melly di sekolah?" tanya Ghevin pada Rani.


Yang Rani tahu, Tristan memang pernah mencium Melly di perpustakaan sekolah saat mereka baru kembali berpacaran. Melly sendiri malu-malu menceritakannya pada Rani. Tapi karena Rani sedang berbaik hati, dia tidak akan menceritakannya pada Ghevin. Apalagi Melly juga sudah memberinya tatapan penuh peringatan dari balik gelas.


"Nggak," dusta Rani, "paling mereka suka makan sepiring berdua."


Ghevin melotot mendengar Rani membeberkan kebiasaan norak Tristan dan Melly. "Mell, kalo Tristan emang pelit begitu ke lo, gue bisa bagi lo duit jajan gue," katanya. "Jangan kayak orang susah begitu."

__ADS_1


"Bukan begitu," sergah Melly. Lalu dengan suara pelan, sehingga hanya Rani yang bisa mendengarnya, dia menambahkan, "Kan biar lebih romantis aja."


Ghevin kembali berbicara pada Rani. "Ran, mulai sekarang lo laporin ke gue ya setiap hal yang berhubungan sama Tristan dan Melly."


"Lo mau gue jadi mata-mata?"


"Yah, semacam itu," kata Ghevin.


Rani mengacungkan jempol pada Ghevin. "Beres," cetusnya.


Mana mungkin Rani menolak permintaan Ghevin, apalagi Rani jadi punya alasan untuk sering-sering bicara padanya. Rani tidak memedulikan tatapan dasar-pengkhianat-ntar-gue-makan-juga-lo yang diberikan Melly padanya.


Mendadak terdengar bunyi ponsel. Ghevin mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dia menatap layar dengan kening berkerut sebelum mengangkatnya.


"Ya, siapa nih?" tanya Ghevin. Dia diam sejenak, mendengarkan si penelepon berbicara, lalu berkata, "Oh... Tania. Iya, ini aku Ghevin. Dari mana kamu tahu nomor HP-ku?"


Dari kata-kata Ghevin, jelas dia tidak memberitahukan nomor ponselnya pada cewek bernama Tania itu. Genit sekali sih, pakai acara mencari-cari nomor ponsel Ghevin segala. Memangnya apa yang ingin dibicarakannya dengan Ghevin? Dia pasti hanya ingin merayu Ghevin.


Mengetahui itu, darah Rani rasanya mendidih. Rani berharap Ghevin segera mematikan telepon dari Tania, tapi Ghevin malah mengambil makanannya dari meja dan membawanya ke kamar, sambil terus berbicara pada Tania. Rani hanya bisa menatap punggung Ghevin berlalu, dengan nanar.


"Siapa Tania?" tanya Rani pada Melly.


Melly mengangkat bahu. "Mana gue tahu?" sahutnya. "Gue kan nggak pernah kenal sama cewek-ceweknya Ghevin."


"Kalo gue nyampe ketemu Tania, pasti langsung gue tinju dia," geram Rani. "Ngeganggu acara makan malem orang aja."


"Lo yang bakal gue tinju," kata Melly.

__ADS_1


"Kok gue sih? Emang gue kenapa?" tanya Rani bingung.


"Lo pikir aja sendiri,"


Rani pikir Melly sedang membela Tania, tapi ternyata Melly masih dendam soal dirinya menjadi mata-mata Ghevin.


"Tega banget lo mengkhianati gue," kata Melly. "Padahal seharusnya kan lo berpihak sama gue, bukannya sama Ghevin."


Rani memasang tampang liciknya. "Sori, Mell," katanya. "Kalo disuruh milih antara lo dan Ghevin, gue pasti milih Ghevin."


Melly cemberut. "Ya udah," katanya kesal. "Sana lo pilih Ghevin, biar setiap hari lo ngedengerin dia telepon-teleponan sama cewek."


"Emang setiap hari dia telepon-teleponan sama cewek?"


"Iya," sahut Melly. "Udah gitu ceweknya selalu beda-beda, lagi. Syukurin, lo jadi punya banyak saingan."


Kini gantian Rani yang cemberut. Ternyata masih banyak Tania lain. Seharusnya Rani sudah bisa menduganya. Ghevin kan memang punya banyak penggemar.


"Cepet habisin sate lo," kata Melly ketika melihat Rani hanya bengong sambil memandangi sate. "Kita kan masih harus ngelanjutin tugas kita."


Rasanya Rani semakin tidak mood melanjutkan tugas mereka. Meski tidak mengerjakan apa-apa, Rani sudah berniat membantu Melly setelah selesai makan malam dengan Ghevin. Sayangnya Tania menelepon dan memupuskan niatnya.


Tapi demi Ghevin yang sudah mau membelikannya makanan, Rani memaksakan dirinya untuk kembali makan, sambil dalam hati merutuki Tania dan cewek-cewek lain yang sejenis dengannya.


(BERSAMBUNG)


saiki malam minggu, sing jomblo mending turu, rasah mlaku-mlaku, ndak ngebak-ngebaki dalan. 😂 guyon lho. Oke, selamat malam minggu untuk yang menunaikannya. Have A Nice Dream.

__ADS_1


__ADS_2