
Setelah Rani asyik bermesraan dengan iced cappuccino-nya. Dia merasa tubuhnya segar kembali, lalu dia mulai memikirkan kata-kata Martin tadi.
"Apa ya kira-kira yang mau diomongin Martin sama Tristan? Apa ada hubungannya sama Ghevin? Dan apa gue harus membujuk Tristan supaya mau ngomong sama Martin? Tapi gimana kalo mereka malah bersatu untuk menjatuhkan Ghevin?"
Berbagai macam pertanyaan bersarang di otak Rani. Dan dia pikir tidak ada gunanya bertanya-tanya sendiri. Dia pun memilih untuk meminta pendapat Miko tentang hal itu, sekaligus melaporkan hasil penyelidikannya hari ini.
"Menurut gue, Martin mau ngajak Tristan kerja sama untuk menghancurkan geng kami," kata Miko di telepon. "Tristan mungkin nggak tahu, dan menolak ngomong sama Martin hanya karena malas berurusan dengannya. Mungkin lo bisa coba bujuk Tristan supaya mau ngomong sama Martin. Meski kemungkinannya kecil, mungkin Tristan mau ngebantu kita. Martin pasti akan ngasih tahu rencananya ke Tristan, dan Tristan bisa meneruskannya ke kita."
"Tapi gimana kalo Tristan terpengaruh dan akhirnya malah bener-bener kerja sama dengan Martin untuk menghancurkan geng kalian?" tanya Rani khawatir.
"Nggak akan," kata Miko yakin. "Tristan mungkin membenci Ghevin, tapi demi Melly, dia nggak akan menyakitinya. Bahkan Melly juga yang membuat geng kami dan geng Tristan melakukan gencatan senjata."
Kalau Rani memang harus membujuk Tristan untuk berbicara dengan Martin, Rani sudah harus yakin Tristan melakukannya untuk membantu mereka. Mungkin Rani akan membawa-bawa Melly sedikit, untuk memastikan Tristan tidak akan berkhianat.
Masalahnya, sulit berbicara pada Tristan tanpa kehadiran Melly. Kalau tidak sedang bersama Rani, Melly pasti sedang bersama Tristan—atau bahkan bersama mereka berdua. Mungkin satu-satunya tempat yang bebas dari Melly adalah rumah Tristan. Rani tahu letak rumahnya sebab pernah mengantar Melly ke sana. Tapi kalau Rani ke sana, besar kemungkinan dia akan bertemu dengan Amanda, padahal itu hal terakhir yang dia inginkan di muka bumi ini.
Akhirnya Rani memutuskan untuk menemui Tristan di tengah-tengah jam pelajaran. Rani berpura-pura izin ke toilet, padahal sebenarnya dia menuju kelas Tristan. Di koridor yang mengarah ke kelas Tristan, dia melihat Vionna berjalan sendirian. Sepertinya Vionna baru dari toilet dan akan kembali ke kelasnya. Kebetulan sekali, jadi Rani bisa sekalian memintanya untuk memanggilkan Tristan.
"Vionna!" panggil Rani.
Vionna pun menoleh dengan gaya sangat lebay. Rambutnya sampai mengayun mengikuti gerakan kepalanya. Dia mengernyit tidak senang saat mengetahui Rani yang memanggilnya.
"Apa?" cetus Vionna.
"Panggilin Tristan dong," pinta Rani.
__ADS_1
Kernyitan Vionna semakin dalam. "Kenapa gue harus manggilin Tristan?"
"Karena gue ada urusan sama dia."
"Urusan apa?" tanya Vionna ingin tahu.
"Astaga, diminta buat manggilin Tristan aja kenapa nyampe harus dibikin ribet begini, sih?"
"Urusan yang berkaitan dengan Melly," dusta Rani. "Jadi kalo lo nggak buru-buru manggilin Tristan, bisa-bisa dia bakal ngamuk sama lo."
Dengan ancaman palsu itu, Vionna pun langsung masuk ke kelasnya. Rasanya baru sebentar Vionna menghilang di balik pintu kelasnya, sedetik kemudian Tristan sudah muncul di hadapan Rani.
"Ada apa dengan Melly?" tanya Tristan. Kepanikan terlihat jelas di wajahnya.
Rani sempat bengong sesaat. "Vionna bilang apa sih nyampe Tristan jadi panik begini?"
Tristan mendesah—setengahnya lega, dan setengahnya lagi sepertinya ingin mendamprat Rani karena berani-beraninya membuatnya panik.
"Ada hubungannya dengan Melly sih, sebenarnya, tapi sedikit," buru-buru Rani menambahkan, sebelum Tristan mendampratnya betulan. Menurutnya Ghevin kan kakak Melly, jadi memang benar ada hubungannya dengan Melly, kan?
"Kalo gitu cepet ngomong," perintah Tristan.
"Apa lo kenal Martin Julian?" tembak Rani langsung.
"Ketua geng SMA Garuda?" tanya Tristan memastikan, yang disambut dengan anggukan Rani. "Ya, gue kenal dia. Emang kenapa lo nanyain dia? Apa dia berbuat sesuatu pada Melly?"
__ADS_1
"Aduh, Melly lagi!"
"Bukan pada Melly, tapi kayaknya Martin emang mau berbuat sesuatu pada Ghevin," kata Rani.
Tristan mendengus. "Dan kenapa itu jadi urusan gue?"
"Martin punya rencana untuk menghancurkan geng Ghevin," kata Rani. "Karena itu gue berinisiatif menjadi mata-mata Ghevin dan mencari informasi mengenai rencananya. Kemarin gue ketemu Martin, dan begitu dia tahu gue anak SMA Galaxy, dia langsung nanyain lo. Dia bilang dia mau ngomong sama lo. Akan bagus kalo lo mau ngomong sama dia, karena dengan begitu lo bisa ngebantu kami. Dia pasti akan—"
"Nggak," potong Tristan.
"Apa?" tanya Rani tidak yakin.
"Nggak," ulang Tristan. "Gue nggak mau ngebantu kalian." Setelah itu Tristan langsung berbalik—berniat meninggalkan Rani.
"Tunggu!" seru Rani. Dia mengulurkan tangan dan mencengkeram lengan Tristan, tapi Tristan langsung menyampaknya dengan kasar.
"Oh iya, Melly kan pernah bilang, Tristan nggak suka disentuh. Tahu deeeh, cuma mau disentuh sama Melly."
"Sori," gumam Rani. "Gue cuma nggak ngerti kenapa lo nggak mau ngebantu kami. Ghevin kan kakak Melly, kalo dia sampai kenapa-kenapa, akan berpengaruh ke Melly juga."
"Ghevin emang kakak Melly," kata Tristan. "Tapi itu bukan berarti gue harus ngebantu kalian. Kalopun kalian mau gue ngebantu kalian, maka Ghevin sendiri yang harus memintanya. Dengan begitu, gue mungkin akan mempertimbangkannya."
Jelas mustahil Ghevin mau meminta bantuan pada Tristan. Setelah mengingatkan Tristan agar tidak memberitahu Melly soal pembicaraan mereka barusan, terpaksa Rani membiarkan Tristan kembali ke kelasnya.
Sikap cuek Tristan benar-benar membuat Rani kesal. Untung saja Tristan ganteng, jadi Rani bisa menahan hasrat untuk mencakarnya. Bisa-bisa Melly justru ngamuk pada Rani kalau tahu tubuh pacarnya jadi baret karena dia cakar.
__ADS_1
Sekarang, bagaimana cara Rani memberitahu hal itu pada Martin? Martin kan menunggu kabar baik dari Rani, padahal yang akan Rani beritahukan pada Martin jelas bukan kabar baik.
(BERSAMBUNG)