
Kurva keyakinan Rani bahwa Ghevin berpacaran kembali—atau setidaknya berniat untuk berpacaran kembali—dengan Amanda memang naik-turun, dan kini sedang dalam titik tertinggi karena ciuman itu. Ghevin jelas sudah berbohong padanya dan Melly mengenai dia tidak berpacaran kembali dengan Amanda. Andai saja Rani tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri, mungkin kebohongan Ghevin belum terungkap.
Tidak ingin lebih lama lagi membuat hatinya berdenyut-denyut nyeri, bahkan sampai berdarah-darah. Akhirnya, dengan susah payah Rani memaksakan dirinya untuk bergerak kembali ke pintu yang mengarah ke ballroom. Rani kemudian membuka pintunya, dan nyaris saja dia bertabrakan dengan Miko.
”Rani?” Miko tampak khawatir melihat wajah Rani yang pucat, seakan Rani baru melihat hantu. Terus terang saat ini Rani lebih memilih melihat hantu daripada ciuman itu. ”Lo kenapa?”
Rani hanya menggeleng dan mendorong tubuh Miko ke samping, agar dirinya bisa lewat. Bisa terdengar Miko memanggil namanya lagi, tapi dia tidak peduli dan mengacuhkannya. Untung saja Miko tidak mengejarnya, sebab dia memang sedang tidak ingin berbicara dengan Miko—atau lebih tepatnya, dengan siapa pun.
Sekembalinya ke ballroom, Rani terhuyung-huyung menuju meja bundar, yang di atasnya berjajar gelas-gelas berisi air putih. Dia mengambil satu gelas, lalu dengan cepat menandaskan isinya.
Sekujur tubuh Rani gemetaran, sehingga dia harus berpegangan pada tepi meja agar tidak terjatuh. Lama dia hanya berdiam diri, sampai kemudian menyadari tidak seharusnya dia berada lebih lama lagi di situ. Persetan dengan status Ghevin sebagai pacar Amanda, Rani akan meminta Ghevin untuk mengantarnya pulang.
__ADS_1
Setelah memastikan dirinya bisa berdiri dengan tegak, barulah Rani melepaskan pegangan pada tepi meja dan berjalan kembali ke pintu di samping panggung. Bersamaan dengan dirinya memasuki pintu itu, Ghevin, Amanda, dan Miko juga keluar dari pintu di sebelah kirinya. Mereka bertemu di tengah ruangan, sementara tatapan Rani hanya terpancang pada Ghevin.
”Ghev, gue mau pulang,” pinta Rani.
”Pulang?” ulang Ghevin. ”Kenapa?”
”Gue nggak enak badan,” kata Rani. Dia tidak sepenuhnya berbohong sebab dia memang mulai merasa tidak enak badan. Sepertinya efek melihat ciuman tadi.
”Apa lo butuh obat?” tawar Amanda.
Amanda mungkin bermaksud baik, tapi sayangnya, dia tidak akan menerima ucapan terima kasih dari Rani. Lagi pula, berani-beraninya Amanda berbicara pada Rani.
__ADS_1
Ketika Rani mengalihkan tatapannya pada Amanda dan berniat menjutekinya, tanpa sengaja Rani melihat sesuatu di leher Amanda yang tidak ada sebelumnya—kalung emas putih dengan liontin berbentuk mahkota. Entah kenapa, Rani yakin sekali kalung itu adalah kado ulang tahun spesial dari Ghevin, sehingga kemarahan Rani pada Amanda pun semakin menjadi-jadi.
”Nggak usah sok perhatian begitu!” bentak Rani. ”Gue nggak butuh apa pun dari lo.”
Bukan cuma Amanda, tapi Ghevin dan Miko pun terkejut mendengar bentakan Rani. Tapi untuk saat ini, Rani bahkan tidak berusaha untuk jaim di depan mereka, sebab yang terpenting adalah dia bisa melampiaskan kemarahannya pada Amanda.
”Oke, gue akan antar lo pulang,” kata Ghevin tiba-tiba, mungkin dia ingin secepatnya memisahkan Rani dari Amanda sebelum Rani menampar dan menyerang Amanda secara brutal.
Ghevin lantas berpamitan pada Miko dan Amanda, sedangkan Rani langsung berbalik pergi meninggalkan pesta itu.
.
__ADS_1
.
(Bersambung)