Gejolak Masa Muda 2

Gejolak Masa Muda 2
Membeli Kado


__ADS_3

Malam ini Rani dan Melly sudah berada di dalam sebuah mal. Seperti pembicaraan mereka ditelepon, mereka berniat membeli kado untuk ulang tahun Amanda.


"Lo serius mau beliin Amanda tas semahal itu?" tanya Rani pada Melly ketika mereka sedang memilih-milih tas di department store.


"Biarpun mahal, barangnya bagus," kata Melly. Dia tampak begitu mengagumi tas pink pucat yang sedang diamatinya.


"Janganlah, Mell," larang Rani. "Beliin Amanda yang palsu aja, dia juga nggak akan tahu."


"Masa buat Amanda, gue beliin yang palsu?" tukas Melly.


"Seenggaknya, jangan yang semahal itu lah," larang Rani lagi. "Buat beli tas itu, lo pasti kudu ngebobol tabungan, kan? Ntar lo nggak bisa beli abum terbaru EXO lho."


"Album terbaru EXO bisa gue beli kapan-kapan," kata Melly.


Meski mulut Rani sampai berbusa-busa melarangnya, Melly tetap saja membeli tas itu. Dia bahkan tampak sangat senang karena berhasil mendapatkan kado ulang tahun yang bagus untuk Amanda, tidak peduli besarnya jumlah uang yang baru saja dikeluarkannya.


"Lo sendiri mau beliin Amanda kado apa, Ran?" tanya Melly.


"Emang gue kudu beliin dia kado juga?" Rani balik bertanya.


Melly pun langsung melotot mendengar pertanyaan Rani. "Amanda kan ngundang lo ke pesta ultahnya, jadi jelas lo kudu beliin dia kado," tandasnya.


Rani mengerang. "Gue lagi bokek nih," keluhnya.


"Jangan banyak alasan," kecam Melly. "Sebokek-bokeknya lo, pasti lo tetap ada duit meski cuma sedikit. Lo kan nggak perlu beliin kado yang mahal-mahal kayak gue."

__ADS_1


"Siapa juga yang mau beliin kado mahal-mahal?"


Sebenarnya Rani memang hanya tidak ingin mengeluarkan barang sepeser uang pun untuk Amanda. Tapi melihat Melly begitu memaksa Rani agar membelikan kado untuk calon adik iparnya, sepertinya uang Rani akan melayang juga.


"Gue beliin dia boneka aja deh," putus Rani akhirnya.


Mereka pun menuju bagian mainan anak-anak. Di sana terdapat beraneka ragam boneka. Tadinya Rani ingin memilih boneka standar saja, seperti boneka beruang, tapi ketika dia melihat boneka yang berada di rak paling bawah membuat niat jailnya kumat.


"Ini boneka yang paling pas buat Amanda," kata Rani sembari menunjukkan boneka itu pada Melly. "Gue jamin dia pasti suka."


Melly sampai tercengang melihat boneka itu. "Boneka ular?" tuntutnya tidak percaya.


"Kan lucu," kata Rani membela diri.


"Nggak ada yang lucu dari boneka ular," sentak Melly. "Di sini kan banyak boneka yang bisa lo pilih. Kenapa mesti ular sih?"


"Apa enaknya meluk boneka ular?"


"—boneka ular juga punya kegunaan lain," kata Rani, tanpa memedulikan pertanyaan sinis Melly.


Rani lantas mengaitkan boneka ular itu ke sekeliling lehernya. "Lihat, bisa jadi syal juga, kan!"


Melly pun menatap Rani seolah-olah Rani sudah gila. "Terserah lo deh," kata Melly akhirnya, yang tampak putus asa dengan pilihan Rani.


Setelah membayar boneka ular, mereka pun keluar dari department store.

__ADS_1


Rani dan Melly sempat makan di food court, lalu pesan WhatsApp masuk di ponsel Melly. Dari Ghevin, memberitahu mereka bahwa dia akan menjemput mereka setengah jam lagi di selasar mal.


"Omong-omong, Ghevin kasih Amanda kado apa, Mell?" tanya Rani penasaran pada Melly dalam perjalanan menuju selasar.


Melly mengangkat bahu. "Ghevin nggak bilang," katanya.


Rani menghela napas. "Lo tahu, sebenarnya gue sedih banget," gumamnya. "Ghevin akan hadir di pesta ultah Amanda. Sedangkan gue, udah nggak ngadain pesta, Ghevin juga nggak akan hadir pada hari ultah gue. Padahal gue ingin banget ngabisin hari ultah gue seharian bareng Ghevin."


"Dan kenapa lo nggak ngejadiin itu kenyataan?"


Rani pun berpaling pada Melly dengan cepat. "Maksud lo?"


"Kalo lo emang mau Ghevin hadir saat hari ultah lo, kenapa lo nggak minta aja sama dia?" Melly memperjelas pertanyaannya.


"Emang dia bakalan mau?"


"Nggak ada salahnya dicoba dulu, kan? Ajak aja dia nge-date. Gue rasa dia nggak akan nolak, secara itu hari ultah lo."


Semangat Rani langsung meledak-ledak. "Lo benar," katanya. "Gue akan coba ajak dia nanti."


Tanpa terasa pembicaraan Rani dan Melly telah mengantar keduanya sampai di selasar. Di selasar terdapat beberapa bangku panjang, dan mereka pun duduk di salah satunya untuk menunggu Ghevin datang menjemput.


.


.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2