Gejolak Masa Muda 2

Gejolak Masa Muda 2
Kencan Dengan Ghevin


__ADS_3

Minggu akhirnya datang. Khusus untuk hari ini, Rani tidak ingin memikirkan Martin, tugasnya sebagai mata-mata Ghevin, ataupun hal lainnya.


Yang ada hanyalah Rani dan Ghevin.


Tepat pukul dua belas malam tadi, Papa, Mama, dan Billy memberikan Rani kejutan ulang tahun. Mereka bertiga masuk ke kamarnya sambil membawa kue, yang di atasnya terdapat lilin berangka enam belas—sesuai dengan usia Rani.


Sebagian kue itu berakhir di wajah dan rambut Rani karena ulah Billy, dan sebelum Rani sempat membalasnya, Billy sudah keburu diomeli Sang Mama karena mengacak-acak kue. Tapi di luar itu, mereka bertiga cukup membuat Rani terharu.


Rani nyaris tidak bisa tidur karena terlalu tegang. Tentu saja dia tegang karena ini adalah kencan pertamanya dengan Ghevin. Sudah lama Rani menanti-nantikannya, tepatnya sejak dia jatuh cinta pada Ghevin. Bahkan semakin mendekati pukul sembilan, waktu yang dijanjikan Ghevin untuk menjemputnya, perut Rani terasa semakin melilit.


Pakaian yang Rani kenakan hari ini adalah kaus hijau dengan gambar hati merah besar-besar, yang hampir memenuhi semua permukaan kaus. Kaus yang akan dipadankan dengan hot pants merah itu seakan berkata, ”Ini, Ghev, gue persembahkan hati gue buat lo.”


Begitu Ghevin sampai, Rani langsung setengah berlari keluar rumah. Ghevin berdiri di sebelah mobilnya. Dia mengenakan polo shirt putih dan celana jins biru selutut. Penampilan Ghevin terlihat santai, tapi tetap memukau. Senyumnya mengembang seiring dengan setiap langkah Rani mendekatinya.


"Happy birthday, Miss Adellia,” ucap Ghevin. Baru kali ini dia memanggil Rani ”Miss Adellia”, dan Rani menyukainya.


"Thank you, Mr. Alexander,” balas Rani. Baru kali ini juga Rani memanggilnya ”Mr. Alexander”, entah Ghevin menyukainya atau tidak.


"Ready to go?"


"Always."


Perjalanan menuju Dunia Fantasi mereka lalui dengan sangat menyenangkan. Ghevin banyak membuat Rani tertawa, sehingga ketegangan yang Rani rasakan berangsur-angsur menghilang. Bahkan pencarian tempat parkir yang memakan waktu lama pun tidak membuat mereka bete.

__ADS_1


Di loket, ketika Rani akan mengeluarkan dompet untuk membayar tiket masuk, Ghevin mencegahnya.


”Kan gue yang ultah,” protes Rani.


”Gue nggak biasa dibayarin cewek,” kata Ghevin.


Tidak ingin menyerang ego pujaan hatinya itu, akhirnya Rani membiarkan Ghevin yang membayar tiket masuk. Setelah masuk, mereka pun sibuk menentukan wahana pertama yang akan mereka naiki.


”Gimana kalo Halilintar aja?” usul Rani.


”Yakin mau langsung yang ekstrem?” komentar Ghevin.


”Kenapa? Takut?” tantang Rani.


”Halilintar mah nggak ada apa-apanya,” seloroh Rani. Dia memang sangat menyukai roller coaster. Bukan hanya roller coaster, melainkan semua permainan yang menantang adrenalin.


”Melly kalo ke sini paling cuma berani ke Istana Boneka,” cerita Ghevin, dalam perjalanan mereka menuju wahana Halilintar.


”Makanya gue paling malas ke sini bareng dia,” kata Rani. ”Habis kasihan dia-nya juga, kerjaannya ngejagain tas terus.”


Memang itu yang selalu terjadi tiap kali Rani ke Dunia Fantasi bersama Melly. Rani akan asyik-asyikan naik berbagai wahana sementara Melly hanya menjaga tas Rani. Lama-kelamaan Melly bosan sendiri dan merengek meminta pulang.


Kalau tidak perlu mengantre lagi, selesai naik Halilintar, Rani pasti akan naik lagi. Baginya, satu putaran tidaklah cukup.

__ADS_1


”Udah pernah nyoba naik Battlestar Galactica yang di Universal Studios Singapore belum?” tanya Rani pada Ghevin seraya merapikan rambutnya yang berantakan setelah naik Halilintar.


Ghevin mengangguk. ”Justru gue ke sana niatnya emang mau naik itu.”


”Lebih suka yang Human atau yang Cylon?” tanya Rani lagi.


”Yang Cylon dong,” pilih Ghevin. ”Soalnya kan treknya di atas.”


”Kapan-kapan kita harus ke sana berdua,” kata Rani bersemangat. Lalu, sadar dirinya seolah sedang mengajak Ghevin liburan ke luar negeri berdua, dia pun buru-buru menambahkan, ”M-maksudnya sama Melly juga.”


”Kayaknya bakalan seru,” kata Ghevin tak menyadari kegugupan Rani.


Wahana kedua yang mereka naiki adalah Hysteria, yang akan melontarkan mereka ke atas dengan kecepatan tinggi, dan kembali melontarkan mereka ke bawah dengan kecepatan yang tidak kalah tingginya.


Setelah naik itu, Rani sampai merasa jiwanya masih ketinggalan di atas, sementara raganya sudah sampai di bawah.


.


.


(Bersambung)


Masih banyak wahana-wahana lain yang akan mereka kunjungi di Dufan jadi tetap ikuti terus dan sabar menunggu. Thx

__ADS_1


__ADS_2