
Baru beberapa meter meninggalkan rumah Melly, Rani berpapasan dengan Miko. Mereka pun sama-sama menepikan motor.
"Hai, Mik," sapa Rani. "Mau ke rumah Melly, ya?"
Padahal dilihat dari arahnya, tanpa perlu Rani tanyakan pun, Miko sudah jelas mau ke rumah Melly.
"Iya," angguk Miko. "Gue mau ngobrol-ngobrol sebentar sama dia."
Tristan pasti tidak akan senang mendengarnya. Sebenarnya dia dan Melly sudah sering kali ribut masalah Miko. Tristan tidak suka kalau Melly terlalu dekat dengan Miko. Begitu-begitu, ternyata Tristan cemburuan juga. Tapi kalau dilarang, Melly pasti ngambek. Jadi Tristan terpaksa harus menahan cemburu. Lagi pula, kalau Ghevin sampai tahu Tristan membatasi pergaulan Melly, bukan tidak mungkin Ghevin akan mencabut restunya yang baru setengah itu.
Ada hal lain yang Rani ingat selain Tristan dan Melly saat melihat Miko yaitu tugasnya sebagai mata-mata Ghevin. Karena masalah Amanda, beberapa hari ini dia tidak pernah menemui Martin. Rani memang mata-mata payah.
"Sori ya, Mik," kata Rani tiba-tiba. "Gue belum dapat informasi apa-apa lagi dari Martin."
"Nggak apa-apa, Ran," tanggap Miko. "Jangan jadiin itu sebagai kewajiban."
"Gue kan udah memutuskan jadi mata-mata Ghevin, jadi itu emang udah kewajiban gue," kata Rani. Lalu dia bertanya, "Apa ada sesuatu yang terjadi di geng kalian beberapa hari ini?"
"Kok lo bisa tahu?" Miko malah balik bertanya.
__ADS_1
Rani hanya bisa bengong. Padahal dia hanya asal bertanya, karena mengira Martin melakukan sesuatu pada geng Ghevin selama dia tidak menemuinya. Tapi ternyata Rani benar.
"Memang ada sesuatu yang terjadi di geng kami," lanjut Miko. "Beberapa hari ini geng kami secara berturut-turut ditimpa masalah internal. Ada yang rebutan cewek, padahal sebelumnya mereka nggak tahu mereka suka sama cewek yang sama. Ada juga yang HP-nya hilang, dan begitu dicari, ternyata ada di tas anggota lainnya. Dan yang terakhir, baru aja terjadi kemarin, ada yang dilaporin ke bokapnya karena bawa mobil bokapnya. Bokapnya emang nggak pernah ngasih mobilnya dibawa sama dia, jadi dia bawa diam-diam, dan yang tahu cuma satu anggota kami. Semua masalah itu membuat gue berpikir bahwa ada orang yang dengan sengaja memecah belah geng kami. Gue curiga orang itu Martin. Tapi kalo emang benar dia, gimana cara dia melakukan itu?"
Rani juga jadi ikut berpikir. Mungkin Martin memiliki cara yang bisa membuatnya mengendalikan anggota geng Ghevin. Karena ingin mengetahui cara itu, Rani pun memutuskan untuk segera kembali pada tugasnya sebagai mata-mata Ghevin. Dia tidak ingin menundanya lebih lama lagi. Jadi besok dia akan menemui Martin.
Masalahnya, Rani tidak memiliki alasan lain untuk menemui Martin selain mentraktirnya. Apa Rani harus memakai alasan itu dengan risiko kembali didamprat oleh Martin? Tidak ada pilihan lain. Sepertinya dia harus mengambil risiko itu.
Jadi ketika Martin memasuki pelataran parkir SMA Garuda, Rani berdiri dengan tampang siap didamprat sambil bersandar pada pintu pengemudi mobil Martin. Martin mendengus saat melihat Rani. Dan itu tidak mengherankan.
Ketika Martin tiba di dekat Rani, Rani pun mulai berkata, "Gue ke sini lagi karena mau—"
"Wah, ternyata lo tahu," kata Rani, berpura-pura takjub.
Untuk kedua kalinya Martin mendengus. Dia berusaha menyingkirkan Rani dari samping mobilnya, tapi Rani tetap bertahan dan tidak mengizinkan Martin masuk ke mobilnya.
"Gue bertekad hari ini gue harus berhasil traktir lo," kata Rani.
Martin tidak peduli pada tekad Rani. "Minggir, atau gue bakal dorong lo," ancamnya.
__ADS_1
"Silakan aja dorong," tantang Rani.
Tak dinyana, Martin benar-benar mendorong Rani. Nyaris saja Rani terjerembap ke paving block kalau saja dia tidak buru-buru berpegangan pada mobil Martin.
"Cowok macam apa dia? Berani-beraninya ngedorong cewek! Gue tahu gue emang udah nantangin dia, tapi bukan berarti gue berharap dia benar-benar ngedorong gue."
Amarah Rani naik ke ubun-ubun, apalagi begitu melihat Martin dengan santai membuka pintu mobil seolah sebelumnya dia tidak membuat dirinya hampir mencium paving block. Cukup sudah dia memperlakukan Rani. Rani pun tidak bisa menolerirnya lagi.
"Kenapa sih mau traktir aja rasanya susah banget?" seru Rani marah. "Padahal kan gue yang mau traktir lo, bukan sebaliknya. Toh lo juga nggak rugi apa-apa. Malah seharusnya lo bersyukur karena gue tahu berterima kasih."
Lalu amarah Rani mulai melenceng dari soal traktir-mentraktir ke soal perasaannya. "Perasaan gue lagi buruk banget selama beberapa hari ini. Mau ngapa-apain juga rasanya nggak enak. Jadi tolong, jangan semakin memperparahnya dengan mempersulit gue kayak begini."
Martin hanya bisa terbengong-bengong mendengarnya. Mungkin dia tidak menyangka akan menjadi korban kemarahan Rani.
"Siapa suruh dia bikin gue marah saat nggak tepat seperti ini?"
Setelah berhasil menguasai diri, untuk ketiga kalinya Martin mendengus. Dia menutup kembali pintu mobil, menguncinya, dan langsung ngeloyor pergi. Meskipun tidak mengatakan apa-apa, Rani tahu itu tanda kalau Martin bersedia ditraktir olehnya.
.
__ADS_1
.(Bersambung)