
Bayangan Ghevin memeluk Amanda menemani Rani sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya. Dia bahkan sampai mempercepat laju motornya, berharap dengan begitu bayangan itu bisa segera terbang keluar dari kepalanya.
Kamar menjadi tujuan utama Rani begitu tiba di rumah. Tapi belum sempat dia membuka pintunya, dia sudah dikejutkan seruan Billy.
"Astaga, Ran!" seru Billy. "Lo ngapain pakai serba hitam begitu? Gue pikir lo maling. Hampir aja gue gebukin lo pakai kemoceng."
Mungkin akan lebih bagus kalau Billy benar-benar menggebuki Rani. Setidaknya rasa sakit di hati Rani bisa teralihkan ke anggota tubuhnya yang lain.
"Tadi gue ngelihat Ghevin meluk Amanda," kata Rani dengan tidak nyambungnya. Seperti kemarin malam, dia ingin berbagi kegelisahannya dengan Billy.
"Ghevin balikan sama Amanda?" tanya Billy kaget.
"Nggak tahu deh," sahut Rani, lemas. Dia mendudukkan dirinya di lantai, bersandar pada pintu kamarnya. "Gue harap nggak."
Billy pun mengikuti Rani, mendudukkan dirinya di lantai, juga bersandar pada pintu kamar Rani.
"Semoga aja emang nggak," imbuhnya. "Masa gue belum sekolah di SMA Garuda, tapi Amanda udah jadi pacar orang aja?"
Rani dan Billy berpandangan dengan nelangsa. Saat ini mereka merasa seperti dua kakak-beradik paling malang sedunia.
***
__ADS_1
Tampaknya Ghevin tetap tidak menceritakan tentang Amanda pada Melly, karena tentang dia memeluk Amanda pun, Melly mengetahuinya dari Rani. Tadinya Rani pikir mungkin Ghevin hanya perlu waktu, tapi sampai beberapa hari berlalu pun, nama Amanda tetap tidak pernah keluar dari mulut Ghevin.
Apa Ghevin tutup mulut tentang Amanda pada Melly karena tidak ingin hal itu turut didengar Tristan? Atau Ghevin menganggap hal itu tidak penting, sehingga Melly tidak perlu mengetahuinya?
Karena ikut penasaran, akhirnya Melly sendiri yang menanyakan itu pada Ghevin. Agak sulit baginya untuk mendapat jawaban, sebab Ghevin selalu menghindar kalau ditanyakan tentang Amanda. Akhirnya yang dapat Melly pastikan hanyalah bahwa Ghevin tidak kembali berpacaran dengan Amanda.
Meskipun Rani merasa lega mendengarnya, tetap ada secuil kekhawatiran kalau Ghevin berbohong pada Melly. Mungkin kekhawatiran itu merupakan efek luka di hati Rani yang belum sembuh betul karena melihat Ghevin memeluk Amanda.
"Gue tetap nggak yakin deh, Mell," kata Rani pada Melly saat dia berada di rumah sahabatnya itu pada hari Minggu.
"Nggak yakin kalo gue mau beli album terbaru EXO?" tanya Melly.
"Bukaaan," sahut Rani. "Kalo soal album terbaru EXO sih, lo minta beliin aja sama Tristan. Ngapain capek-capek nabung?"
"Lo mau ngajarin gue jadi matre?" sentak Melly.
"Sekali-kali bolehlah matre. Cowok lo kan tajir," kata Rani santai. "Tapi ini bukan soal album terbaru EXO. Maksud gue tadi, gue nggak yakin kalo Ghevin nggak balikan sama Amanda. Siapa tahu dia cuma bohong sama lo karena nggak mau lo cerita ke Tristan."
Melly berdecak. "Masih soal itu juga?" tuntutnya. "Rani, Ghevin jelas-jelas bilang ke gue bahwa dia nggak balikan sama Amanda. Lagian, dia juga masih nge-date sama banyak cewek kok."
"Mungkin itu keringanan yang dikasih Amanda asalkan Ghevin mau balikan sama dia," tebak Rani.
__ADS_1
"Cewek waras mana yang ngizinin pacarnya nge-date sama cewek lain?" tukas Melly.
"Amanda kan nggak waras," umpat Rani.
"Kalo lo yang jadi pacar Ghevin, emang lo bakal ngizinin dia nge-date sama cewek lain?" Melly membalikkan, tanpa memedulikan umpatan Rani pada Amanda.
Rani pun menimbang-nimbang sejenak. Belum sampai pada jawabannya, dia sudah keburu dijitak oleh Melly.
"Tuh kan, lo juga nggak waras," kata Melly. "Masa masih dipertimbangin juga sih? Jawabannya kan udah pasti nggak."
"Yah, emang nggak," tegas Rani. "Enak aja. Ghevin cuma milik gue seorang. Tapi Amanda kan mungkin aja beda pemikirannya. Dia kan habis patah hati. Kesempatan sekecil apa pun pasti diembat sama dia."
Tahu kalau Rani tidak akan mau kalah soal Amanda, Melly pun memutuskan untuk mengembalikan pembicaraan mereka ke album terbaru EXO. Tapi Rani tetap saja membuatnya kesal karena lagi-lagi mengungkit soal kekayaan Tristan.
Akhirnya Melly menyuruh Rani pulang, karena dia mulai kesulitan menahan hasratnya untuk menggembok mulut Rani. Jadi, mau tidak mau Rani pun segera pulang, sebelum Melly benar-benar menggembok mulutnya.
.
.
(Bersambung)
__ADS_1