Gejolak Masa Muda 2

Gejolak Masa Muda 2
Adu Mulut


__ADS_3

Ternyata Tristan sudah datang dan menunggu di selasar restoran. Melly langsung menghampirinya dan mereka pun sibuk berbisik-bisik—mungkin mendiskusikan cara menghadapi Ghevin.


Saat Ghevin muncul, tampak Tristan dan Melly begitu fokus satu sama lain sehingga hanya Rani yang menyadari kehadirannya. Tatapan Ghevin turun ke tangan Tristan yang menggenggam tangan Melly, dan dia pun langsung melotot.


"Si Tristan juga cari masalah aja, pakai acara ngegenggam tangan Melly segala. Udah tahu ada Hulk alias Ghevin yang siap ngehajarnya kapan aja."


Tanpa banyak bicara, Ghevin berjalan di antara Tristan dan Melly, dan dengan sengaja menabrakkan bahunya ke bahu Tristan—membuat Tristan terpaksa melepaskan tangannya dari tangan Melly. Tristan bahkan sampai terhuyung ke samping. Mungkin ditabrak Ghevin rasanya seperti ditabrak truk.


"Nggak ada pegang-pegangan tangan di depan gue," Ghevin memperingatkan tanpa menoleh ke belakang.


Tristan tampak luar biasa keki. Untung Melly dengan sigap menggantikan Ghevin meminta maaf pada Tristan. Tanpa memedulikan peringatan kakaknya barusan, Melly malah menggenggam tangan Tristan.


Rani berjalan melewati pasangan Tristan-Melly dan menyusul Ghevin yang sudah memasuki restoran. Sepertinya Ghevin sering datang ke restoran itu, dilihat dari cara pramusaji—omong-omong, pramusaji itu cewek—menghampiri Ghevin dan berbincang-bincang akrab dengannya.


Dengan sedikit genit, kalau boleh Rani tambahkan. Pramusaji itu bahkan sempat mencari-cari kesempatan memegang Ghevin dengan memukul pelan lengannya. Sebenarnya biasa saja Rani melaporkan pramusaji itu ke manajernya. Mana boleh dia bersikap segenit itu pada tamu, tidak peduli tamu itu ganteng dan seksi macam Ghevin.

__ADS_1


Pramusaji itu mengantarkan mereka ke sisi kanan restoran. Di sana berjajar beberapa ruang VIP, dan mereka memasuki salah satunya. Meja untuk delapan orang, tapi saat ini hanya mereka berempat yang mengisinya. Rani duduk di sebelah Ghevin, sementara Tristan dan Melly di seberang mereka.


Sepertinya Ghevin sudah terlebih dulu memesan makanan, karena tidak lama kemudian beberapa jenis makanan tiba di meja mereka. Ada brokoli saus tiram, udang goreng mayones, dan ayam garam. Perut Rani sudah berdemo minta diisi. Selain dia, tampaknya tidak ada yang berniat mengambil makanan.


"Duh, gue kan nggak mungkin makan sendirian."


Suasana di ruangan itu terasa begitu... canggung. Melly terlihat resah—matanya terus berpindah-pindah antara Ghevin dan Tristan. Ghevin dan Tristan sendiri justru terlihat lebih santai, meskipun bahasa tubuh mereka menandakan mereka tetap waspada, seolah kalau salah satu dari mereka lengah sedikit saja, maka yang lainnya akan segera


menyerang.


"Maaf mengecewakan, tapi gue mengatur makan malam ini buat Melly, bukan buat lo," balas Ghevin, tak kalah sinisnya.


Jelas itu bukan awal yang baik. Mungkin karena mereka tidak bisa adu tinju di tempat itu, mereka jadi memilih untuk adu mulut. Rani dan Melly berpandangan pasrah. Sepertinya kehadiran Rani tetap tidak bisa membuat Ghevin lebih menjaga sikap. Tapi mungkin seperti itulah cara Ghevin menjaga sikap. Kalau tidak ada Rani, mungkin saat ini Ghevin dan Tristan sudah berguling-guling di lantai sambil hantam-hantaman.


"Jadi, apa lo mau memulai proses interogasinya sekarang?" tanya Tristan. "Walau sebenarnya gue udah tahu apa yang mau lo tanyakan."

__ADS_1


"Oh, ya? Kalo begitu apa yang mau gue tanyakan?" tantang Ghevin.


"Yang pasti lo mau tahu bagaimana gue memperlakukan Melly," sahut Tristan. "Lo tenang aja soal itu, karena gue memperlakukan Melly dengan sangat baik. Lo bisa tanya sendiri ke dia."


"Baguslah," komentar Ghevin. "Gue hanya ingin mastiin lo nggak akan bikin Melly nangis lagi, seperti yang pernah lo lakukan dulu."


"Tunggu, tunggu." Tristan mengangkat tangan, menyuruh Ghevin berhenti berbicara. "Seperti yang pernah gue lakukan dulu? Kenapa kesannya seolah-olah cuma gue yang salah? Kalo gue nggak salah ingat, lo juga bikin dia nangis."


"Jadi lo nyalahin gue?" tuntut Ghevin.


"Seenggaknya, setengahnya emang salah lo," tandas Tristan.


"Lupain aja soal yang dulu," Melly langsung menengahi. "Yang penting kan sekarang kalian nggak bikin gue nangis lagi."


Kalau adu mulut antara Ghevin dan Tristan terus berlanjut, Melly mungkin akan menangis lagi. Dia tampak begitu putus asa mengharapkan kakaknya dan pacarnya berhubungan baik.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2