
Ternyata semua memang sudah direncanakan, dan karena itu Martin mengajak Rani ke pabrik itu. Rani merasa dirinya benar-benar bodoh karena tadi dia sempat menganggap hanya Martin yang bisa membuatnya merasa aman.
"Martin...," gumam Rani. "Kenapa?"
"Berhentilah berpura-pura, Rani," tukas Martin. "Lebih baik lo akui aja identitas lo yang sebenarnya."
"Identitas gue yang sebenarnya?" ulang Rani bingung. "Identitas apa?"
"Identitas lo sebagai mata-mata Ghevin."
Kalau dulu Rani sudah begitu kaget karena ternyata Ghevin tahu tentang tugasnya sebagai mata-mata, itu tidak sebanding dengan kekagetannya saat ini. Ghevin jelas tahu dari Miko, tapi kalau Martin? Dari mana dia tahu? Dan yang tidak kalah penting, sejak kapan dia tahu?
"B-bukan," sangkal Rani. "Gue bukan mata-mata Ghevin. Gue bahkan nggak mengenalnya."
__ADS_1
Martin hanya mendengus. Jelas, apa pun yang Rani katakan, dia tidak akan memercayainya. Tampaknya dia begitu yakin bahwa Rani benar mata-mata Ghevin. Jadi percuma saja Rani menyangkalnya, karena memang tidak ada gunanya.
"Lo mungkin menganggap gue jahat," kata Martin. "Tapi yang jahat sebenarnya Ghevin. Lo tahu apa yang udah dilakukannya?"
Yang diketahui Rani mengenai hal yang sudah dilakukan Ghevin—tentunya yang berhubungan dengan alasan Martin ingin menghancurkan gengnya—hanya sebatas yang pernah Rani dengar dari Miko. Tapi sekarang Rani penasaran ingin mendengarnya dari Martin juga. Dengan begitu dia akan mendengar ceritanya dari kedua sisi. Rani pun memasang wajah bingung, yang segera ditangkap oleh Martin.
"Kalo lo emang nggak tahu, maka gue akan menceritakannya sama lo," kata Martin. "Lagi pula, dengan keadaan lo yang terikat seperti itu, lo emang berhak mendapatkan penjelasan."
"Gue akan menceritakannya dari awal, dari kejadian sekitar dua bulan lalu," mulai Martin. "Waktu itu ada anggota geng gue yang ngelihat anggota geng Ghevin dipalak preman. Selain diambil duitnya, anggota geng Ghevin itu juga dipukulin sampai babak belur. Anggota geng gue berusaha menolongnya, tapi preman itu keburu kabur. Hanya karena mereka berada di tempat yang sama, anggota geng Ghevin jadi salah paham dan mengira anggota geng gue bekerja sama dengan preman itu untuk malak dia. Dia lantas ngadu ke Ghevin, bilang bahwa anggota geng gue mukulin dia, tanpa menyebut-nyebut soal preman itu. Lalu Ghevin, tanpa mengonfirmasi kebenaran cerita itu terlebih dulu, langsung balas mukulin anggota geng gue. Anggota geng gue menceritakannya ke gue belakangan, jadi baru seminggu setelahnya gue mendatangi Ghevin, menuntutnya supaya minta maaf sama anggota geng gue. Meski akhirnya Ghevin tahu kebenarannya, dia tetap nggak mau minta maaf. Gue terus memaksanya, dan akibatnya, gue juga ikut dipukulin dia—ditambah dua anggota gengnya."
Cerita Miko tidak selengkap cerita Martin, karena Miko sendiri pun tidak diberi tahu kebenarannya oleh Ghevin. Ghevin mungkin tahu sebenarnya dia memang harus meminta maaf, tapi tetap tidak melakukannya, dan tidak ingin Miko tahu.
"Gue jadi begitu membenci Ghevin, juga anggota gengnya, yang suka seenaknya mukulin orang," kata Martin. "Karena itu gue pun mulai menyusun rencana untuk menghancurkan gengnya. Gue tahu gue nggak bisa melakukannya hanya dengan mengandalkan geng gue, jadi gue mencari geng lain yang bisa gue ajak kerja sama. Pilihan pertama gue adalah geng Tristan, karena gue tahu dia musuh bebuyutan Ghevin. Sayangnya Tristan menolak bicara sama gue. Bahkan lo juga nggak berhasil membuat Tristan bicara sama gue. Jadi gue beralih ke pilihan kedua yaitu geng Bastian. Dia sempat ragu, minta waktu beberapa hari untuk berpikir. Tapi kalo dibujuk terus, gue yakin dia bakal mau kerja sama dengan gue. Dan dia emang hampir mau, ketika tiba-tiba aja dia nelepon gue buat ngasih tahu bahwa dia nggak mau kerja sama dengan gue. Gue curiga, entah bagaimana pasti Ghevin tahu gue ngajak Bastian kerja sama. Dia mungkin ngancam Bastian, tapi gue nggak punya bukti."
__ADS_1
Ghevin tahu dari Rani, tentu saja, dan dia memang mengancam Bastian. Tak ada yang bisa membuktikannya, kecuali Bastian sendiri yang membuka mulut. Tapi Bastian terlalu takut pada Ghevin untuk melakukannya.
"Gue belum menetapkan pilihan ketiga gue," lanjut Martin. "Tapi sementara itu gue berusaha melemahkan geng Ghevin dari dalam. Kebetulan ada anggota gengnya yang adiknya sekolah di SMA Garuda, jadi dengan memanfaatkan adiknya, gue ngancam anggota gengnya itu untuk ngebantu gue memecah belah geng mereka. Awalnya dia mau nurutin gue, tapi kemudian berhenti begitu aja, dan nggak takut lagi dengan ancaman gue. Lagi-lagi gue curiga, Ghevin tahu gue ngancam anggota gengnya itu, dan menyuruhnya berhenti."
Ghevin juga tahu dari Rani, karena Shandy—anggota geng Ghevin yang dimaksud Martin itu—tidak mau mengambil risiko sehingga akhirnya jujur pada Ghevin. Entah apa Martin tahu Ghevin menugaskan preman kenalannya untuk membantu menjaga adik Shandy.
"Gue mulai bertanya-tanya, dari mana Ghevin tahu rencana gue?" kata Martin. "Kalo bukan karena ada anggota geng gue yang berkhianat, mungkin ada orang luar yang menjadi mata-mata Ghevin. Lalu gue ingat, memang ada orang yang sebelumnya nggak ada, tapi kini sering sekali muncul di sekitar gue. Dan orang itu, gue yakin lo juga bisa menebaknya..."
Rani menelan ludah. "Apa cuma gue satu-satunya kandidat yang dicurigai sebagai mata-mata Ghevin?"
.
Bersambung...
__ADS_1