
Melly begitu sibuk dengan ponselnya sehingga tidak menyapa Ghevin yang berpapasan dengannya di pintu pagar. Ghevin menyempatkan diri untuk mengacak-acak rambut Melly, membuat Melly mendelik sebal padanya.
"Hai, Ran," sapa Ghevin begitu melihat Rani.
"Hai, Ghev," balas Rani sambil tersenyum penuh cinta.
"Kok tumben lo yang ngantar Melly pulang?" tanya Ghevin.
"Soalnya kami mau ngerjain tugas," jawab Rani.
"Oh," tanggap Ghevin. "Gue pikir si brengsek itu udah malas nganterin Melly pulang."
"Nggak kok," kata Rani. "Malah dia maksa banget mau nganterin Melly pulang. Dia khawatir kalo Melly pulang naik motor."
Entah kenapa, Rani malah membela Tristan. Tapi menurutnya, itu tidak apa-apa, dan menganggap itu untuk membantu Melly agar Ghevin mau sepenuhnya merestui hubungannya dengan Tristan. Ghevin tampak cukup terkesan dengan kekhawatiran Tristan. Meski begitu dia tidak mengatakan apa-apa untuk memujinya.
"Ya udah deh," kata Ghevin sambil beranjak mendekati mobilnya. "Selamat ngerjain tugas ya."
"Tunggu," cegah Rani, sebelum Ghevin sempat membuka pintu mobil. "Boleh gue nanya satu hal sama lo?"
__ADS_1
Tentu, yang ingin Rani tanyakan adalah soal Amanda. Meski sudah mendengar jawabannya dari Melly, dia baru bisa yakin setelah mendengar jawabannya dari Ghevin sendiri.
"Boleh," kata Ghevin. "Mau nanya apa?"
"Apa benar lo nggak balikan sama Amanda?"
Ghevin malah tersenyum mendengar pertanyaan Rani. "Sepertinya lo dan Melly tertarik pada hal yang sama," komentarnya. "Dan seperti jawaban gue ke Melly: nggak, gue nggak balikan sama Amanda. Tapi gue emang cukup sering ketemuan sama dia."
"Maksud lo, setelah pertemuan kalian di Restoran Sirosoppo itu?"
Sebenarnya, yang dimaksud Rani adalah pertemuan kedua antara Ghevin dan Amanda di Restoran Sirosoppo, saat Rani mengawasi mereka. Tapi karena Ghevin tidak tahu Rani sudah tahu soal pertemuan kedua mereka itu, tentu Ghevin mengira yang dimaksud Rani adalah pertemuan pertama mereka di sana—pertemuan yang tak disengaja.
Setelah mendengar jawaban Ghevin sendiri, apakah kini Rani bisa yakin? Mungkin, kalau saja Ghevin tidak menambahkan soal pertemuannya dengan Amanda yang ternyata sudah beberapa kali. Kalau memang mereka tidak berniat untuk berpacaran kembali, untuk apa mereka bertemu? Jangan-jangan, keputusan mereka untuk berteman hanya taktik untuk memulai kembali hubungan mereka.
Rani jadi tidak bisa berkonsentrasi mengerjakan tugas kelompok biologinya. Untungnya, setelah Rani menceritakan alasannya, Melly bisa mengerti. Dia yang menyelesaikan tugas mereka, dan dengan cepat pula.
Tidak ingin tugas mata-matanya kembali terhambat oleh perasaannya, sepulangnya dari rumah Melly, Rani memutuskan untuk berangkat ke SMA Garuda. Hari memang sudah sore, tapi siapa tahu Martin masih berada di sekolah.
Sayangnya, Rani terlambat beberapa menit. Yang dilihat sesampainya di SMA Garuda adalah mobil Martin sudah meluncur keluar dari pelataran parkir sekolah. Tadinya Rani ingin putar balik dan pulang saja, tapi setelah dipikir-pikir, itu kesempatan bagus untuk menguntitnya. Meskipun, besar kemungkinan kalau yang dituju Martin adalah rumahnya, tapi itu juga tidak buruk. Bukan berarti Rani mau bertandang ke rumahnya. Tapi sekadar ingin tahu saja.
__ADS_1
Tapi rupanya Martin tidak menuju rumahnya. Dia berhenti di depan warnet dan memarkir mobilnya di sana. Mulanya Rani pikir Martin mau masuk ke warnet itu, tapi ternyata malah berjalan ke pohon besar yang berada tidak jauh dari sana. Kalau saja Rani tidak melihat cowok yang sedang berjongkok di bawah pohon besar itu dan segera berdiri begitu melihat Martin, dia pasti menyangka Martin sudah kebelet dan mau pipis di sana.
Rani pun mengintip dari balik pohon lain. Martin terlihat berbicara serius dengan cowok itu. Sayangnya, karena jarak mereka agak jauh, Rani jadi tidak bisa mendengar isi pembicaraan mereka. Pembicaraan tersebut berlangsung singkat, diwarnai kemarahan Martin dan ketakutan cowok itu. Bahkan setelah Martin pergi meninggalkannya pun, ketakutan masih saja menguasai cowok itu.
Ketika cowok itu berjalan ke arah Rani, Rani pun segera keluar dari balik pohon—berniat untuk mengajaknya berbicara dan menyelidiki identitasnya.
"Hai," sapa Rani pada cowok itu. "Lo anak SMA Galaxy, ya?"
Tentu saja cowok itu bukan anak SMA Galaxy. Rani hanya memancingnya supaya dia meralat dan memberitahukan nama sekolahnya. Dia sempat bingung sejenak, mungkin tidak fokus karena ketakutannya, sebelum akhirnya mampu menyerap pertanyaan dari Rani.
"Bukan," sahut cowok itu. "Gue anak SMA Ganesha."
Rani begitu kaget mendapati cowok itu anak SMA Ganesha, sampai-sampai dia lupa menanyakan namanya. Begitu dia ingat, cowok itu sudah menghilang bersama angin.
Kenapa anak SMA Ganesha bisa berurusan dengan Martin? Sudah begitu, Martin membuatnya ketakutan, lagi. Apa ini cara yang dimiliki Martin, memanfaatkan cowok itu untuk memecah belah geng Ghevin? Tapi kalau benar begitu, kenapa cowok itu mau-mau saja dimanfaatkan Martin? Apa Martin mengancamnya, yang menjelaskan ketakutan cowok itu? Dan yang lebih penting lagi, cowok itu hanya sekadar anak SMA Ganesha, atau juga anggota geng Ghevin? Kalau dia memang anggota geng Ghevin, berarti dia sudah mengkhianati Ghevin.
Rentetan pertanyaan itu mengisi benak Rani, sehingga dia tidak menyadari ada yang berdiri di belakangnya. Dan ketika dia berbalik, ternyata dia berhadapan langsung dengan Martin.
.
__ADS_1
(Tbc)