
Setelah bel tanda masuk berbunyi, Rani dan Melly bersiap mengikuti pelajaran. Hari ini mereka ada pelajaran biologi, dan menjelang akhir pelajaran, lagi-lagi mereka diberi tugas kelompok. Berbeda dengan teman-teman sekelas Rani yang mengeluh, Rani justru merasa senang, karena dia sekelompok lagi dengan Melly. Karena dengan begitu, dia jadi bisa sekalian melihat Ghevin saat mengerjakan tugas di rumah Melly nanti.
"Kita langsung kerjain aja ya, Ran, sepulang sekolah nanti," kata Melly. "Tugasnya kan nggak sebanyak yang kemarin, jadi seharusnya bisa langsung selesai hari ini juga."
"Ngerjainnya di rumah lo, kan?" tanya Rani penuh harap.
"Terserah," sahut Melly. Kemudian dia memelototi Rani. "Awas ya kalo berani nunda-nunda ngerjain tugas kayak dulu lagi."
"Ah, si Melly tahu aja rencana gue."
Meskipun Melly bilang tugas mereka bisa selesai hari ini juga, tadinya Rani berencana untuk menunda menyelesaikannya sampai beberapa hari ke depan, jadi dia bisa lebih sering melihat Ghevin.
Karena mereka akan mengerjakan tugas di rumah Melly, maka Melly memutuskan untuk pulang bersama Rani. Tapi hal itu di tentang habis-habisan oleh Tristan. Mereka berdebat di luar kelas saat Rani dan Melly bersiap-siap pulang.
"Aku nggak mau kamu naik motor," larang Tristan. "Gimana kalo nanti kamu jatuh?"
Rani jadi tersinggung mendengarnya. Selama ini dia merasa selalu berhati-hati mengendarai motor, kecuali beberapa kali saat dirinya kebut-kebutan. Yang jelas, dia tidak pernah menabrak sepeda tukang siomay seperti Billy. Lagi pula, sebelum mereka kembali berpacaran dulu, Melly juga sering naik motor dengannya. Dan mungkin Tristan tidak tahu, waktu bertengkar dengannya dulu, Melly naik ojek ke sekolah. Dibanding dengan tukang ojek, Rani yakin Melly akan lebih aman bersamanya.
"Rani jago kok naik motornya," bela Melly. "Jadi nggak apa-apa, aku pulang sama Rani aja. Lagian Rani kan emang mau ke rumahku."
__ADS_1
"Kamu tetap pulang sama aku, dan biar Rani sendiri aja ke rumahmu," kata Tristan. "Ujung-ujungnya kan tetap aja kalian ketemu di rumahmu."
"Aku nggak mau Rani sendiri."
"Melly, kamu bandel banget sih kalo dibilangin!"
"Kalo kamu khawatir, nanti begitu sampai di rumah aku langsung telepon kamu," kata Melly, mencoba bernegosiasi. "Jadi aku boleh kan pulang sama Rani?"
Tristan menghela napas. Ditatapnya Melly dengan jengkel bercampur sayang. Sepertinya hatinya mulai luluh.
"Oke," kata Tristan akhirnya. "Tapi kamu janji ya, begitu sampai di rumah kamu akan langsung telepon aku."
Dengan janji Melly itu, Tristan pun melepaskan mereka pergi. Tapi sebelum itu dia sempat berbicara pada Rani.
"Lo harus benar-benar berhati-hati bawa motornya," kata Tristan memperingatkan. "Jangan sampai jatuh."
"Nggak bakal jatuh kok," kata Rani yakin. "Gue kan nggak kalah walaupun dibandingin sama pembalap profesional."
Kalimat terakhir Rani langsung membuat Tristan waswas. "Nggak usah berlagak kayak pembalap profesional," katanya. "Lo mau boncengin Melly, jadi nggak boleh kebut-kebutan. Lain halnya kalo lo sendiri. Mau lo ngebut sampai ke Samudra Atlantik juga gue nggak akan peduli."
__ADS_1
"Siapa juga yang mau ngebut sampai ke Samudra Atlantik?"
Sebelum Tristan menyuruh Rani ngebut sampai ke samudra lainnya, Melly pun buru-buru menyeret Rani pergi. Untuk menyenangkan Tristan, meskipun dia tidak bisa melihatnya, Rani mengendarai motornya dengan sepelan mungkin—begitu pelannya sampai-sampai Melly menjadi gerah sendiri.
"Ran, lo pelan amat sih bawa motornya?" omel Melly. "Bahkan orang yang jalan kaki aja lebih cepat dari kita."
"Kan biar aman," kata Rani. "Bisa berabe kalo kita jatuh beneran. Nanti gue direbus, lagi, sama Tristan."
"Yah, tapi nggak pelan banget kayak gini juga, kali," protes Melly.
Mendapat protes dari Melly, Rani pun langsung menambah kecepatan laju motornya. Tapi dia tetap berhati-hati dan mengutamakan keselamatan. Rani yakin, begitu Tristan dan Melly bertemu, hal pertama yang akan dilakukan Tristan adalah memeriksa Melly dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kalau sampai ada lecet sedikit saja, meski harus sampai ke dasar neraka sekalipun, Tristan pasti akan mengejarnya.
Mendekati rumah Melly, Rani bersorak dalam hati ketika melihat mobil Ghevin teparkir di depan. Baru saja motornya berhenti, terdengar lagu EXO—yang menandakan ponsel Melly berbunyi. Rani tidak perlu menjadi peramal untuk tahu yang menelepon Melly adalah Tristan.
Sebegitu khawatirnyakah Tristan pada Melly, sehingga dia bahkan tidak bisa menunggu Melly meneleponnya? Meskipun Melly sudah berjanji akan meneleponnya.
.
.
__ADS_1
(Bersambung)