
Miko sudah tidak ada di bangkunya, dan sejauh mata Rani memandang, Miko tidak ada di mana pun. Padahal Rani ingin memintanya untuk sementara menempati bangku Ghevin, untuk mencegah pembicaraan dirinya dengan Amanda melebar dari soal pesta ulang tahunnya ke soal pribadi lainnya. Selain Miko, pasti tidak ada cowok lain yang berani. Kalaupun ada yang berani, ada dua kemungkinan: entah cowok itu memang terlalu percaya diri, atau terlalu nekat.
Akhirnya Rani memutuskan untuk ke toilet saja. Karena tidak ingin pipis, dia hanya berdiri di depan wastafel sambil
merapikan riasan. Setelah puas dengan hasilnya, dia menghabiskan banyak waktu untuk mengaca. Saat sedang asyik-asyiknya melatih senyum yang dianggap cukup menawan untuk Ghevin, tiba-tiba Rani mendengar pembicaraan dua anggota gengnya di luar toilet.
"Cewek yang ke sini bareng Miko kalo nggak salah Rani Adellia Lyn, sahabat Melly, kan?" tebak cowok yang pertama.
"Wah, kok cowok di luar itu tahu nama gue?"
Untuk menyenangkan hatinya, Rani menganggap dia tahu namanya dari Ghevin.
"Kayaknya sih," tanggap cowok kedua.
"Dia ceweknya Miko atau ceweknya Ghevin sih?"
"Lho, kenapa gue bisa digosipin dengan Miko?"
"Ghevin, yang lebih mungkin," kata cowok kedua sementara Rani mengangguk-angguk setuju.
"Kalo begitu Amanda siapanya Ghevin?"
__ADS_1
"Amanda mah mantan ceweknya."
"Gila ya si Ghevin," komentar cowok pertama. "Nggak mantan ceweknya, nggak ceweknya yang sekarang, cantiknya sama-sama selangit."
Cengiran bangga spontan terpampang di wajah Rani. Mmm... karena dirinya dianggap cantik oleh anggota geng Ghevin.
"Lihat kan, Ghev. Gue nggak malu-maluin kok kalo lo mau ngejadiin gue cewek lo."
Sekembalinya Rani dari toilet, Ghevin dan Amanda sudah bersiap-siap pulang. Ternyata benar, Amanda memang datang bersama Ghevin. Dengan panik Rani segera menghampiri mereka.
"Kok cepat banget udah mau pulang, Ghev?" tuntut Rani pada Ghevin.
"Gue mesti ngantar Amanda pulang," kata Ghevin.
Ketika Rani sadar dirinya bisa nebeng pulang bareng Ghevin—sekaligus mencegah Ghevin dan Amanda berduaan saja di dalam mobil—ternyata dia sudah terlambat. Mobil Ghevin sudah berlalu pergi.
Saat itulah Miko baru muncul kembali. Kebetulan sekali, karena sedari tadi ada yang ingin Rani tanyakan padanya.
"Kenapa Ghevin bisa ngajak Amanda ke sini?" tanya Rani.
Miko langsung terlihat salah tingkah. "Mmm... nggak tahu deh."
__ADS_1
Jelas ada yang dirahasiakan oleh Miko. Karena tidak biasanya dia terlihat salah tingkah seperti itu. Dia bahkan berusaha menghindari mata Rani.
"Jujur aja, Mik," desak Rani.
"Beneran," tandas Miko. "Gue nggak tahu."
Mendadak, Rani pun sadar. Miko pasti tahu ada sesuatu di antara Ghevin dan Amanda. Dan satu-satunya alasan kenapa Miko memilih untuk merahasiakannya dari Rani karena dia tidak ingin Rani patah hati. Miko kan tahu Rani mencintai Ghevin.
Benar, pasti begitu. Miko sahabat Ghevin. Tidak mungkin dia tidak tahu. Kalau soal Amanda, dibanding pada Melly, sepertinya Ghevin bisa bicara lebih jujur dan terbuka pada Miko.
"Mik, gue mau pulang sekarang deh," kata Rani. Dia sudah tidak bersemangat untuk berkenalan dengan anggota geng Ghevin, padahal itu salah satu tujuannya datang ke situ.
"Oke," kata Miko. "Gue antar lo pulang."
"Lo tetap di sini aja," tolak Rani. "Biar gue pulang naik taksi."
"Nggak bisa begitu," tukas Miko keberatan. "Gue yang udah ngajak lo ke sini, jadi gue juga yang akan antar lo pulang."
Karena Miko berkeras, akhirnya Rani pun mau diantar pulang olehnya. Sepanjang perjalanan pulang, Miko mengajak Rani berbicara soal Shandy, mungkin untuk mengalihkan perhatian Rani dari Ghevin dan Amanda. Dan meski sedikit, Rani akui dia berhasil.
.
__ADS_1
.
(Bersambung)