
Setelah menuruni tangga—mungkin Melly atau Amanda yang memberitahu Tristan dari mana mereka masuk—mereka bertiga mengarah ke pintu tempat masuk tadi.
Berbeda dengan mereka bertiga, Rani justru terdiam di kaki tangga. Tatapannya terarah ke depan rak terdekat—tempat Martin berbicara dengan beberapa anggota gengnya dan seorang preman yang dicurigai Rani sebagai ketua geng Chebol. Di sana Ghevin sedang dipegangi dua preman sementara Martin memukulinya. Kondisi Ghevin cukup parah. Darah mengalir dari pelipisnya, juga dari bibirnya.
Seiring dengan aliran darah Ghevin, air mata Rani juga ikut mengalir. Terang saja. Melihat Ghevin dipukuli saja Rani sudah begitu panik, apalagi ditambah dengan darah. Anggota gengnya dan anggota geng Tristan masih sibuk dengan lawan masing-masing, sehingga tidak bisa membantunya.
Jadi, itulah kenapa sekarang Rani seorang diri berlari menembus kerumunan, berusaha menolong Ghevin. Laptop Martin bahkan sampai dijatuhkannya begitu saja.
Samar-samar Rani bisa mendengar Melly memanggilnya, tapi dia terus saja berlari. Nyaris saja Rani terkena tonjokan nyasar dari salah satu preman, karena anggota geng Ghevin yang akan ditonjok preman itu berada terlalu dekat dengannya.
Melly benar. Rani memang ceroboh, bego, dan nekat. Memangnya apa yang akan dia lakukan begitu berhadapan dengan Martin dan kedua preman itu? Toh mereka tetap tidak akan melepaskan Ghevin meskipun dia memintanya.
Martin berdiri membelakangi Rani, sehingga tidak melihat Rani yang berlari menghampirinya. Yang melihat Rani, dengan sedikit terlambat, adalah kedua preman itu. Tapi sebelum mereka sempat memperingatkan Martin, Rani sudah keburu tiba tepat di belakang Martin, dan langsung menahan tangan Martin yang akan memukul Ghevin untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
”Jangan!” cegah Rani.
Dengan satu sentakan keras, Martin melepaskan tangannya dari Rani. Tubuh Rani sampai limbung, dan menabrak rak di belakangnya. Akibat insiden itu, Rani merasakan punggungnya seperti sedang dibelah-belah saking sakitnya.
Erangan kesakitan yang keluar dari mulut Rani langsung menyadarkan Ghevin. Dengan menggunakan sisa-sisa tenaganya, Ghevin memberontak, melepaskan dirinya dari pegangan kedua preman itu. Tampaknya kemunculan Rani membuat kedua preman itu lengah.
Ghevin bersiap menerjang Martin, tapi perhatiannya teralihkan sesuatu di atas Rani. Wajah Ghevin berubah ngeri, dan dia langsung berteriak memperingatkan Rani.
”RANI, AWAAASSSS!!!” teriak Ghevin.
Meski ingin menghindar, tapi Rani tidak mampu bergerak. Dia justru menutup mata, menanti rasa sakit itu tiba.
Saat itulah Ghevin menubrukkan tubuhnya ke tubuh Rani, menjatuhkan Rani ke lantai. Sebelah tangan Ghevin melindungi belakang kepala Rani, sehingga tidak langsung menghantam lantai.
__ADS_1
Tubuh Rani terjepit di bawah tubuh Ghevin, sementara potongan-potongan kayu itu menimpa Ghevin. Beberapa potongan kayu yang terjatuh ke lantai menimbulkan suara yang memekakkan telinga, tapi Rani bahkan tidak bisa menutup telinganya. Jangankan untuk menutup telinga, untuk sekadar bernapas saja rasanya dia kesulitan.
Setelah semua potongan kayu itu jatuh, Ghevin mengangkat tubuhnya sedikit. Buru-buru Rani mengambil kesempatan itu untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya.
”R-rani...,” gumam Ghevin. Setetes darahnya jatuh ke pipi Rani. ”Lo ng-nggak apa-apa?”
Merasa tidak mampu bersuara, Rani hanya mengangguk.
Ghevin tersenyum samar. ”S-syukurlah...,” gumamnya lagi.
Lalu senyum Ghevin perlahan menghilang, berganti dengan kernyit kesakitan. Tubuhnya kembali jatuh menimpa tubuh Rani, dan kali ini dia hanya diam, tidak bergerak.
.
__ADS_1
Bersambung...