
Ujung koridor sudah mulai terlihat, menampakkan jendela berteralis. Di sisi kiri dan kanan terdapat pintu. Rani kemudian mencoba membuka pintu kiri. Ternyata terkunci. Begitu pun pintu kanan.
"Gawat, kayaknya gue terjebak."
Kalaupun jendela yang berada di ujung koridor itu tidak berteralis, Rani tetap tidak mungkin melompat ke bawah. Bisa-bisa dia patah tulang, atau yang lebih parah, mati. Rani juga tidak mungkin berlari kembali dan mencoba membuka pintu-pintu lain yang tadi dilewatinya, karena itu sama saja dirinya berlari menyambut preman itu.
Preman itu mulai memperlambat larinya begitu menyadari Rani terjebak. Kini dia malah berjalan, selangkah demi selangkah, mendekati Rani.
Rani mendekap erat laptop Martin di dada, seolah laptop itu bisa melindunginya. Mungkin laptop itu memang bisa melindunginya. Setidaknya dia bisa menggunakan laptop itu untuk memukul kepala preman itu kalau berani macam-macam padanya.
”Nggak bisa lari lagi ya, Neng Cantik?” goda preman itu. Seringai mengerikan tidak pernah meninggalkan wajahnya. ”Makanya, daripada lari, mendingan sini Abang sayang-sayang.”
Digoda seperti itu, rasanya Rani ingin muntah saja. Preman itu semakin mendekatinya. Hanya tinggal tiga langkah, dan dia akan mencapai tempat Rani berdiri.
”Berhenti!” Tiba-tiba terdengar suara Melly. Preman itu langsung berhenti—bukan karena dia menuruti Melly, tapi lebih karena kaget—lalu dia berbalik, dan mendapati Melly berdiri gemetaran sambil membawa potongan kayu. Melly pun mengangkat potongan kayu itu, bersiap memukul. ”K-kalo lo terus mendekat, gue bakal p-pukul lo.”
”Neng Cantik berani mukul Abang?” tantang preman itu. Dia maju selangkah mendekati Melly, dan Melly spontan bergerak selangkah—tapi mundur—membuat preman itu tertawa meremehkan. ”Kok Neng Cantik malah mundur?”
Rani tahu pasti, seumur-umur Melly belum pernah memukul orang, jadi jelas dia tidak akan berani memukul preman itu. Tapi Rani salut padanya, karena bukannya bersembunyi, Melly justru datang untuk menyelamatkannya.
__ADS_1
Disaat perhatian preman itu tidak tertuju pada Rani, Rani mencoba menyelinap melewatinya. Baru saja Rani bergerak sedikit, preman itu kembali berbalik. Ternyata usahanya untuk melewati preman itu gagal. Preman itu benar-benar awas.
Ah, ralat. Ternyata dia tidak seawas itu. Mungkin preman itu hanya kebetulan berbalik. Buktinya, dia bahkan tidak menyadari kemalangan yang akan segera menimpanya.
Seseorang muncul dari belakang Melly, mengambil potongan kayu yang dipegang Melly—posisi tangan Melly tetap tidak berubah meskipun potongan kayu itu tidak lagi di tangannya, menandakan dia tidak menyangka akan ada yang mengambilnya—lalu orang itu memukulkannya ke kepala preman itu. Tanpa permisi lagi, preman itu langsung jatuh pingsan.
Tidak dengan laptop Martin, preman itu malah dipukul dengan potongan kayu. Pingsan pula.
”Tristan!” seru Melly panik. Memang Tristan yang tadi memukul preman itu. ”Kamu membunuhnya!”
”Aku nggak memukulnya sekeras itu, sampai bisa membunuhnya,” bantah Tristan. Dia melemparkan potongan kayu yang dipegangnya ke lantai. ”Dia cuma pingsan.”
”Kalo aku nggak memukulnya, bisa-bisa dia memanggil bantuan.” Tristan membela diri. ”Lagi pula, lebih baik kamu berhenti mengkhawatirkan preman itu, dan mulai mengkhawatirkan dirimu sendiri. Aku lagi marah banget sama kamu. Apa-apaan sih kamu, muncul di sini seenaknya? Aku hampir aja kena serangan jantung waktu ngelihat kamu dan Amanda naik tangga tadi. Untung aja aku yang ngelihat, gimana kalo anggota geng Martin atau anggota geng Chebol?”
Diomeli begitu, Melly langsung cemberut. Tapi mungkin karena dia tahu dirinya memang salah, dia tidak melawan Tristan.
”Omong-omong, di mana Amanda?” tanya Tristan.
”Di sini.” Terdengar jawaban Amanda. Dengan takut-takut, dia menghampiri mereka. Ke mana saja dia dari tadi, baru muncul sekarang?
__ADS_1
Omelan Tristan segera berpindah ke adiknya. ”Pasti lo nguping pembicaraan gue dengan Ghevin, lalu menyampaikannya ke Melly,” tuduhnya. ”Apa lo nggak tahu betapa berbahayanya datang ke sini?”
Amanda juga tidak melawan Tristan. Dia hanya menunduk.
”Dan lo!” sentak Tristan pada Rani. Astaga, ternyata Rani kena semprot juga! ”Ghevin mati-matian berusaha melindungi lo, tapi lo malah seenaknya jalan-jalan di sini, kayak ini mal aja. Pakai acara ngajak-ngajak Amanda dan Melly, lagi.”
"Ih, mentang-mentang Ghevin udah meminta Tristan untuk membantunya, sekarang dia malah membela Ghevin. Dan apa katanya tadi? Jalan-jalan? Apa dia nggak lihat laptop siapa yang sekarang lagi gue pegang?"
Tristan memang tidak tahu itu laptop Martin, dan foto-foto siapa yang ada di dalamnya. Kalaupun tahu, tetap saja dia akan marah.
Serangan balasan siap untuk dilancarkan oleh Rani, tapi akhirnya diurungkan. "Melly dan Amanda aja bisa nahan diri untuk nggak melawan Tristan, masa gue nggak bisa?"
”Ayo, kalian harus segera pergi dari sini!” perintah Tristan. Tangan kirinya menggamit lengan Amanda, sedangkan tangan kanannya menggamit lengan Melly. Tanpa memedulikan protes keduanya, dia mulai menyeret mereka pergi.
Tidak ingin sendirian berada di tempat itu, Rani pun segera mengikuti.
.
Bersambung...
__ADS_1