
#POV RANI
Reaksi Billy dan Melly sangat bertolak belakang ketika aku menceritakan pada mereka tentang Ghevin yang menyatakan cinta padaku. Aku baru menceritakan pada mereka keesokan paginya, karena tadi malam Billy sudah tidur—menyebalkannya, lagi-lagi dia mengunci pintu kamarnya—dan aku merasa sudah terlalu malam untuk menelepon Melly.
Billy masih belum sepenuhnya bisa memaafkan Ghevin karena pernah membuatku patah hati. Dia bertekad tetap akan memberi Ghevin satu-dua pukulan. Aku berusaha meyakinkannya bahwa dia tidak perlu memberi Ghevin satu-dua pukulan karena toh sekarang aku sudah tidak patah hati lagi.
Melly, di lain pihak, sampai terharu mendengar ceritaku. Dengan mata berkaca-kaca, dia mengatakan padaku bahwa dia ikut bahagia untukku. Sebenarnya aku sempat mengira dia sudah tahu lebih dulu dari Ghevin. Tapi karena harus sekolah, dia belum sempat menjenguk Ghevin. Ponsel Ghevin juga dipegang oleh mamanya, supaya Ghevin bisa beristirahat dengan lebih maksimal, dan bukannya memusingkan hal-hal di luar kesehatannya. Hal-hal itu, aku yakin, berkaitan dengan masalah gengnya.
Ketika Billy dan Melly dengan kompak bertanya, apakah itu berarti sekarang aku dan Ghevin berpacaran, aku hanya bisa menggeleng. Ghevin memang sudah menyatakan cinta padaku, tapi belum memintaku menjadi pacarnya.
Selama berhari-hari aku menemani Ghevin di rumah sakit, dia tidak pernah lagi mengungkit soal perasaannya padaku lagi. Sempat tercetus rasa takut di hatiku, Ghevin pura-pura lupa karena menyesal sudah menyatakan cinta padaku.
Sebenarnya aku ingin bertanya langsung pada Ghevin, tapi takut dia menganggapku agresif. Oke, aku tahu Ghevin menganggapku agresif, karena bagaimanapun aku yang lebih dulu menyatakan cinta padanya. Tapi sekarang kami sudah sampai pada tahap ini, jadi jangan sampai dia malah jadi ilfil padaku.
Kejutan datang seminggu setelah Ghevin keluar dari rumah sakit—dia mengajakku berkencan ke Dunia Fantasi. Tempat yang sama seperti kencan pertama kami, dan mungkin dia memilihnya karena begitu menikmati kebersamaan kami di sana.
Setelah puas menaiki berbagai wahana yang ada—termasuk wahana Tornado, yang akhirnya bisa kami naiki—wahana terakhir yang kami naiki sama seperti dulu yaitu wahana Bianglala. Ghevin, entah kenapa, begitu bersikeras ingin menaiki wahana itu.
"Gue udah membuat keputusan," kata Ghevin tiba-tiba, dalam perjalanan kami menuju Bianglala. "Gue akan sepenuhnya merestui hubungan Tristan dan Melly."
"Serius?" tuntutku. "Terus Melly udah tahu?"
__ADS_1
"Belum," geleng Ghevin. "Nanti gue akan mengatur makan malam lagi, untuk ngasih tahu Melly, sekaligus ngasih tahu Tristan juga. Buat Tristan, terutama, akan gue tambahkan beberapa peringatan. Sedikit aja dia berbuat kesalahan, akan gue cabut restu gue itu."
"Apa gue boleh ikut makan malam itu?" tanyaku meminta izin. "Jadi kan kita berempat bisa double date lagi."
"Rencananya gue emang mau ngajak lo," kata Ghevin. "Bahkan lo boleh pilih restorannya."
Restoran Sirosoppo jelas tidak akan kupilih, karena terlalu mengingatkanku pada Amanda, tentu ketika aku masih membencinya. Bukan berarti sekarang aku tidak membencinya. Hanya saja, sudah tidak sebesar dulu.
"Gue jadi penasaran apa alasan lo membuat keputusan itu," kataku. "Apa itu karena Tristan udah mau ngebantu lo?"
"Salah satunya itu," aku Ghevin. "Tapi gue juga ngerasa emang udah waktunya aja. Lagi pula, Tristan sebenarnya, yah, boleh juga."
Untuk ukuran Ghevin, "boleh juga" sudah lumayan, bahkan mungkin yang terbaik yang bisa didapat Tristan. Lengkaplah sudah kebahagiaan Melly. Bukan hanya dia yang ikut bahagia untukku, aku juga ikut bahagia untuknya.
"Apa lo ingat apa yang pernah lo katakan di sini?" tanya Ghevin.
Butuh sedikit waktu bagiku untuk bisa mengingatnya, karena banyak yang kukatakan pada Ghevin pada kencan pertama kami, sedangkan aku agak lupa-lupa ingat yang mana kukatakan di mana. Tapi akhirnya aku bisa mengingatnya, apa yang kukatakan beberapa saat sebelum Ghevin menceritakan tentang Pacar-Tiga-Bulan dan Pacar-Tiga-Jam-nya.
"Kalau nanti ada cowok yang mau nembak gue, gue ingin deh ditembak di sini."
Ya Tuhan... itukah sebabnya? Itukah sebabnya Ghevin mengajakku berkencan di Dunia Fantasi, dan begitu bersikeras ingin menaiki wahana ini? Bukan sekadar karena dia begitu menikmati kebersamaan kami di sini dulu, tapi karena dia ingin memintaku menjadi pacarnya di wahana ini, seperti keinginanku?
__ADS_1
Tubuhku menegang, dipenuhi antisipasi. Mungkin wajahku seperti orang yang kebelet, karena Ghevin sampai tersenyum geli melihatnya.
"Santai aja dong mukanya." Ghevin menggoda sembari menjawil ujung hidungku dengan gemas.
Aku langsung tersipu. Bahkan saat segenting ini pun, masih saja aku bersikap memalukan.
Ghevin kembali serius. Dia menggenggam tanganku, mengirimkan kehangatan yang luar biasa, hingga ke dalam hatiku. Matanya, yang tidak pernah lepas dariku, menatapku dengan sorot penuh... cinta. Sungguh tidak kusangka, akan datang hari dimana Ghevin menatapku dengan cara yang sama seperti aku menatapnya.
”So, Miss Adellia,” kata Ghevin, dengan suara selembut beledu. ”Will you be my girlfriend?”
.
.
TAMAT
Tamat?
Iya tamat, emang mau ngapain lagi. Rani jelas lah mau jadi pacar Ghevin. Itu kan impiannya selama tiga setengah tahun belakangan ini.
Yang belum baca kisah Melly dan Tristan bisa mampir di Gejolak Masa Muda.
__ADS_1
Terima kasih untuk yang sudah memberikan Like, Komen, Rate, Gift, dan Vote. Sampai jumpa lagi dikisah Amanda dan Miko. Insyaallah.