Gejolak Masa Muda 2

Gejolak Masa Muda 2
Mengawasi


__ADS_3

Pukul tujuh kurang sepuluh malam, Rani sudah berada di restoran Sirosoppo. Di restoran itu, dia tidak masuk ke dalam, melainkan hanya mengintip dari luar melalui kaca.


Tadinya dia sudah khawatir saja kalau Ghevin dan Amanda akan makan di ruang VIP—yang artinya Rani tidak bisa mengawasi pertemuan mereka—tapi kemudian dia melihat Amanda duduk sendirian di meja yang berada di tengah-tengah restoran. Berkali-kali Amanda melihat jam tangannya, mungkin takut Ghevin batal datang.


"Semoga aja Ghevin emang nggak datang."


Kalau itu sampai terjadi. Rani pasti akan terbahak-bahak melihat Amanda menunggu Ghevin sampai lumutan di restoran itu. Tapi sayangnya keinginan dirinya untuk melihat Amanda lumutan tidak kesampaian, karena beberapa saat kemudian dia melihat Ghevin memasuki restoran.


Amanda langsung berdiri saat menyadari kehadiran Ghevin. Wajahnya tampak luar biasa lega. Setelah duduk dan memesan makanan, mereka pun mulai berbicara. Pembicaraan yang serius, kalau dilihat dari wajah mereka. Andai saja Rani bisa membaca gerak bibir...


"Apa lebih baik gue masuk dan duduk di meja yang berada di dekat meja mereka aja, ya? Dengan begitu gue akan bisa menguping pembicaraan mereka. Tapi jangan, itu terlalu berisiko."


Makanan mereka datang, dan mereka pun lanjut berbicara sambil makan. Perut Rani jadi keroncongan melihatnya. Seharusnya sebelum berangkat tadi dia makan dulu.


"Permisi, Mbak." Tiba-tiba Rani mendengar suara seseorang. Dia kaget sekali sampai-sampai lidah topinya membentur kaca. Rani pun menoleh untuk melihat siapa yang mengagetkannya, dan ternyata orang itu pramusaji genit yang kemarin malam mengantar mereka ke ruang VIP. Apa dia mengenali Rani? Sepertinya tidak. "Apa Mbak mau makan di sini?"


Rani pasti terlihat mencurigakan, makanya si genit bertanya begitu.

__ADS_1


"Iya," dusta Rani. "Tapi saya mau nunggu teman saya dulu."


"Mbak bisa nunggu di dalam aja," kata pramusaji itu.


"Ah, bawel banget sih! Apa dia nggak bisa lihat kalo gue nggak mau masuk?"


Rani tahu pramusaji itu bermaksud baik. Tapi tetap saja, dia sudah mengganggunya.


"Nggak apa-apa," kata Rani. "Biar saya nunggu di luar aja."


Akhirnya pramusaji itu pergi juga. Rani kembali mengawasi Ghevin dan Amanda. Rasanya lama sekali mereka makan. Begitu selesai makan pun, mereka masih saja berbicara.


Setelah dua jam, barulah Ghevin dan Amanda keluar dari restoran. Amanda berjalan sambil menunduk, agak sedikit di belakang Ghevin. Ghevin sampai berkali-kali menoleh ke belakang untuk memastikan Amanda masih mengikutinya.


Mungkin Amanda masih ingin berada di restoran itu, sebab dua jam dirasanya belum cukup baginya. Rani juga selalu merasa seperti itu setiap kali bersama Ghevin. Berapa jam pun rasanya tidak pernah cukup. Atau mungkin ada hal lain yang tidak memuaskan Amanda, misalnya hasil pembicaraan mereka yang dianggapnya tidak sesuai dengan keinginannya.


Ghevin mengantar Amanda sampai ke mobilnya. Tapi Amanda tidak langsung masuk, melainkan memanfaatkan waktu yang sempit itu untuk kembali mengajak Ghevin berbicara. Rani sampai gerah melihat betapa sulitnya Amanda melepaskan diri dari Ghevin.

__ADS_1


Rani menutup mata sejenak, berharap ketika dia membukanya kembali Amanda sudah masuk ke mobilnya dan pergi selamanya dari hidup Ghevin. Tapi kenyataannya, Rani justru melihat Amanda menangis. Dalam pelukan Ghevin.


"Kenapa gue harus ngelihat Ghevin memeluk Amanda? Dan kenapa juga gue nggak bisa memalingkan wajah gue dari mereka?"


Sementara Amanda sesenggukan, Ghevin terus berbisik di telinga Amanda sambil membelai rambutnya. Setiap kali tangan Ghevin membelai rambut Amanda, setiap kali itu pulalah hati Rani serasa diiris. Hati Rani yang terluka dibuat semakin berdarah-darah saat melihat Ghevin menghapus air mata Amanda dengan tangannya, setelah Ghevin melepaskan pelukannya.


Ghevin mengatakan sesuatu pada Amanda, yang disambut dengan anggukan Amanda. Masih ada sisa-sisa air mata di wajah Amanda. Dengan satu belaian terakhir Ghevin pada rambut Amanda, Amanda pun masuk ke mobilnya. Ghevin menunggu sampai mobil Amanda lenyap dari pandangan, barulah kemudian dia masuk ke mobilnya sendiri.


Rani langsung jatuh terduduk ke paving block. Topinya sampai ikut jatuh karena gerakan yang tiba-tiba itu, tapi dia bahkan tidak memiliki tenaga untuk mengambilnya. Dibiarkan saja topi tersebut tergeletak di sampingnya.


Rani sungguh terganggu dengan tangis Amanda. Apa itu tangis kesedihan karena Ghevin menolaknya? Atau justru tangis kebahagiaan karena Ghevin menerimanya kembali?


"Permisi, Mbak." Lagi-lagi Rani mendengar suara seseorang, dan lagi-lagi orang itu adalah pramusaji genit yang tadi. "Apa teman Mbak udah datang?"


Rani hanya menatap garang sebagai jawabannya. Dia sedang tidak ingin meladeninya. Jadi dia memungut topi, dan segera berlari ke motornya.


.

__ADS_1


.


(Bersambung)


__ADS_2