Gejolak Masa Muda 2

Gejolak Masa Muda 2
Pertempuran


__ADS_3

Pertempuran dimulai dalam sekejap mata. Bagai dalam film kolosal, semua orang saling menyerang. Ada yang menonjok, menendang, dan bahkan memukul dengan potongan kayu. Teriakan marah bercampur dengan teriakan kesakitan. Dalam suasana yang begitu kacau, Rani merasa heran mereka masih dapat membedakan yang mana kawan dan yang mana lawan. Kalau dia yang berada di tengah-tengah pertempuran itu, mungkin dia akan menonjok ke sana kemari, tidak peduli siapa yang akan dikenai. Bisa-bisa Ghevin juga ikut kena tonjok.


Rani mencari-cari Ghevin. Sulit baginya untuk menemukan Ghevin, padahal tadi dia berdiri paling depan. Mungkin dia terdorong-dorong hingga tenggelam ke dalam kerumunan itu. Yang ditemukan Rani malah Miko, sedang menghindari tendangan salah satu anggota geng Martin, dan kemudian balas menendangnya.


Setelah Rani menyaksikan beberapa tonjokan, tendangan, dan pukulan, akhirnya Ghevin keluar juga dari dalam kerumunan. Dia berlari ke arah Rani, sambil tangannya merogoh-rogoh saku celananya, dan ternyata yang dikeluarkannya adalah pisau lipat. Tentunya pisau lipat itu bukan untuk menusuk Rani—yang benar saja—melainkan untuk memotong tali yang mengikat Rani, yang langsung Ghevin lakukan begitu tiba di dekat Rani.


Dari jarak sedekat itu, Rani bisa melihat ada luka di dekat alis Ghevin. Hanya luka kecil, tapi membuatnya nyaris menangis, karena membayangkan penyebabnya.


"Ghev," panggil Rani, lirih. "Lo terluka."


Ghevin tidak menanggapi Rani. Dia begitu fokus dalam usahanya untuk melepaskan Rani, sehingga tidak memedulikan keadaannya sendiri. Setelah berhasil melepaskan Rani, dia memasukkan kembali pisau lipat ke saku celananya, pada saat yang sama, Rani mengambil tasnya dari lantai, beserta ponselnya yang berada di atasnya, lalu Ghevin menariknya berdiri.


"Ayo," ajak Ghevin, sambil menggandeng tangan Rani, dan memimpin Rani berlari menuju pintu depan. Gandengannya terasa mantap, membuat Rani merasa aman. Pertempuran yang sedang terjadi bahkan tidak mampu menghentikan debaran jantung Rani, yang saking kerasnya sampai seperti akan mendobrak rongganya. Tapi itu wajar saja, karena ini pertama kalinya Ghevin menggandeng tangannya.


Mereka berlari menembus kerumunan. Belum setengah jalan, tiba-tiba ada seorang preman menghadang mereka. Preman itu menyeringai begitu melihat Rani berdiri di belakang Ghevin. Ghevin pun melepaskan gandengannya dari Rani. Sebelum preman itu sempat melakukan apa pun, Ghevin sudah terlebih dulu menyerang. Dihantamkannya tinjunya ke preman itu, tepat di rahangnya, membuat preman itu langsung tersungkur jatuh.

__ADS_1


Rani tahu kenapa Ghevin begitu ditakuti. Lihat saja, hanya dengan satu pukulan, Ghevin mampu merobohkan preman yang berbadan bak troll itu. Dia tahu Ghevin memang kuat, tapi tidak menyangka akan sekuat itu.


Tampaknya Ghevin mengubah rencana dalam pikirannya. Pintu depan masih jauh, sedangkan akan berbahaya jika mereka tetap meneruskan berlari ke sana, sebab dia membawa Rani. Preman itu pasti bukan satu-satunya yang akan menghadang mereka. Jadi, setelah kembali menggandeng Rani, Ghevin berbalik dan memimpin Rani berlari menuju salah satu pintu yang berada di sisi kiri. Pintu itu dalam keadaan tertutup, dan berada paling dekat dengan tangga. Setelah Ghevin membukanya, mereka berdua masuk, lalu dia buru-buru menutupnya kembali.


Ruangan di balik pintu itu, sama seperti ruangan-ruangan lainnya yang sempat dilihat Rani tadi, penuh dengan kotak kayu. Kotak-kotak kayu itu terbagi menjadi beberapa tumpukan yang begitu tingginya hingga hampir mencapai langit-langit.


"Rani, dengar," kata Ghevin. Mereka berdiri berhadapan, tangannya tidak lagi menggandeng Rani. "Di balik tumpukan


kayu itu—" dia mengedikkan kepalanya ke arah tumpukan kayu yang berada di depan mereka "—ada pintu samping. Lo bisa keluar dari sana."


"Begitu lo berada di luar," lanjut Ghevin, "cari motor Miko, dan langsung pulang. Jangan ke mana-mana lagi."


Ghevin pun menyerahkan kunci pada Rani, yang pastinya kunci motor Miko. Meski dia berharap Rani segera berlari ke pintu samping, nyatanya Rani hanya diam di tempatnya berdiri.


"Kenapa, Ghev?" gumam Rani. "Kenapa lo datang ke sini?"

__ADS_1


"Nggak mungkin gue nggak datang, apalagi setelah gue tahu lo disandera di sini," kata Ghevin.


"Tetap aja, seharusnya lo nggak datang," sergah Rani. "Lo nggak usah peduliin gue. Mau Martin nyakitin gue pun, lo biarinin aja."


"Rani, ayolah," desah Ghevin. "Jangan bodoh."


Dan tiba-tiba saja, Rani jadi histeris sendiri. "Iya, gue emang bodoh!" seru Rani. "Gue bodoh karena nggak bisa ngelupain perasaan gue sama lo. Gue bodoh karena masih aja ngarepin lo mau nerima gue. Gue bodoh karena—"


Kata-kata Rani langsung terhenti begitu Ghevin menariknya mendekat, dan seketika saja Ghevin mencium kening Rani.


"Ya Tuhan, ini nyata kan? Bukan mimpi kan?"


.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2