
Mendengar anggota geng-nya digebukin oleh bapak-bapak berkumis, Martin langsung meletakkan laptopnya begitu saja ke pangkuan Rani.
"Lo tetap di sini," kata Martin pada Rani, lalu dia segera berlari ke arah pintu gerbang bersama anggota gengnya.
Rani menatap laptop Martin dengan berbinar-binar. Entah yang menggebuki si Zayn pria berkumis lebat itu atau bukan, tapi buat Rani yang jelas pria berkumis itu sudah memilih waktu yang tepat untuk melakukannya. Kebetulan sekali kan, Martin jadi meninggalkan laptopnya bersama Rani saat Rani ingin memeriksanya?
Rani memang sangat beruntung. Setelah memastikan Martin dan anggota gengnya sudah menghilang dari pandangannya, barulah dengan semangat '45 dia membuka laptop Martin, dan mendapati laptop itu ternyata... dikunci password.
"Sial. Ternyata keberuntungan gue cuma sampai di sini."
Bagaimana Rani bisa mengetahui password laptop Martin selain dari orangnya sendiri? Padahal Martin tidak mengizinkan Rani meminjam laptopnya.
Dengan asal-asalan namun tetap berharap, Rani mengetikkan nama cowok itu. MARTIN. Lalu MARTINJULIAN. Keduanya gagal. Rani juga mencoba memasukkan nama sekolah Martin: GARUDA. Gagal lagi. Karena kesal, Rani pun mencoba kata-kata acak, yang tentu saja hasilnya tetap gagal.
"Aaaaaahhh... apa password-nyaaaa???"
Rani menyentak-nyentak laptop Martin hingga kembali menutup. Isi laptop Martin yang ingin diketahuinya berada begitu dekat, tapi juga begitu jauh, hingga membuatnya benar-benar gemas.
Martin kembali dengan cepat. Dia hanya sendirian, tidak bersama anggota gengnya. Untung saja Rani sudah berhenti mengutak-atik laptopnya.
"Apa lo balas gebukin bapak-bapak kumisan itu?" tanya Rani, berpura-pura penasaran.
Martin menggeleng. "Udah keburu kabur," sahutnya. "Tapi awas aja kalo besok-besok dia berani datang ke sini lagi."
"Gue rasa dia nggak bakal berani."
"Jelas, kecuali kalo dia mau mati."
Rani mengernyit mendengarnya. Entah kenapa dia beranggapan Martin tidak main-main dengan kata-katanya. Mungkin wajah jutek Martin membuatnya terlihat lebih serius.
__ADS_1
"Gue harus pulang sekarang," kata Martin seraya mengambil laptop dari pangkuan Rani. Dan kalimat terakhirnya sebelum meninggalkan Rani duduk sendirian di situ adalah "Lo diperkenankan melihat-lihat sekolah ini."
Cara Martin mengucapkan kata "diperkenankan" seolah-olah jika dia tidak memperkenankannya, maka ujung jempol kaki Rani pun tidak akan bisa melewati pintu gerbang sekolah itu.
Karena tidak berniat melihat-lihat sekolah itu. Rani pun beranjak ke pelataran parkirnya. Rani sudah naik ke motor dan baru akan menyalakan mesinnya, ketika ponselnya berbunyi. Dia pun mengambil ponselnya dari saku rok dan melihat nama Melly tertera di layarnya.
"Halo, Mell? Ada apa?"
"Ran, undangan dari Amanda buat lo udah di gue nih."
Rani mendengus mendengar nama Amanda. Padahal sejak pulang sekolah tadi dia berhasil tidak memikirkan Amanda, karena memikirkan Amanda hanya membuat perasaannya tidak keruan.
"Terus kenapa?"
"Yeee... kok malah kenapa sih? Yah, gue mau kasih undangan ini ke lo nanti sore. Kita sekalian ke mal yuk, beli kado ultah buat Amanda."
"Lha, terus yang kemarin waktu lo milih-milih baju online dan ujung-ujungnya nyuruh gue yang bayar, apa?"
"Emangnya itu buat kado ultah gue?"
"Ya iya lah. Kalo bukan buat kado ultah lo, mana mau gue bayarin lo? Mending gue beli baju buat gue sendiri."
"Jiah, tahu begitu, gue pilih banyakan."
"Lo mau bikin gue bangkrut, ya?" sungut Melly. "Jadi gimana, Ran? Mau pergi nggak, nih?"
"Naik motor gue?" tawar Rani.
"Boleh, kalo lo mau diomelin Tristan lagi," kata Melly santai.
__ADS_1
"Oh iya, Tristan pasti nggak akan ngizinin Melly pergi naik motor. Gue rasa motor musuh terbesar kedua Tristan setelah Ghevin."
"Terus Tristan mau nganterin kita, gitu?" tebak Rani. Kalau tidak mengizinkan Melly pergi naik motor, setidaknya kan Tristan harus mengantarkan mereka.
"Berarti lo mau kita pangku-pangkuan?" balas Melly.
Mulanya Rani tidak mengerti maksud Melly, tapi kemudian dia ingat Melly pernah bilang kalau Tristan sudah mengganti mobil Honda Jazz merahnya dengan Toyota 86 merah. Yang jadi masalah adalah mobil Toyota 86 milik Tristan hanya muat untuk dua orang. Dan jelas, Rani tidak ingin pangku-pangkuan dengan Melly.
"Apa Ghevin bisa nganterin kita?" tanya Rani penuh harap.
"Dia ada kencan," sahut Melly.
"Bukan sama Amanda, kan?" selidik Rani. Aneh, memang, tapi saat ini dia tidak keberatan Ghevin berkencan dengan cewek mana pun kecuali Amanda.
"Nggak tahu," kata Melly. "Tapi kayaknya sih bukan."
"Pulangnya deh gitu dia yang jemput," usul Rani, belum mau menyerah.
"Coba nanti gue minta sama dia," kata Melly. "Perginya kita naik taksi aja, ya. Biar gue yang pesan taksinya, habis itu baru jemput ke rumah lo—mungkin sekitar jam tujuh."
"Sip," jawab Rani setuju.
Setelah mematikan telepon, Rani pun menyalakan mesin motor dan mengarah pulang ke rumah—bersiap untuk acaranya bersama Melly malam ini.
.
.
(Bersambung)
__ADS_1