Gejolak Masa Muda 2

Gejolak Masa Muda 2
Ingin Punya Anak


__ADS_3

Masih di salah satu ruangan VIP restoran Sirosoppo. Ghevin dan Rani tampak sibuk dengan makanan mereka masing-masing. Tiba-tiba Ghevin bertanya pada Rani di tengah-tengah acara makan mereka.


"Lo sendiri gimana, Ran?" tanya Ghevin. "Sejak kenal sama lo, kayaknya gue nggak pernah ngelihat lo punya pacar."


"Soalnya gue kan nungguin lo," ceplos Rani tanpa sadar.


"Apa?" Entah Ghevin tidak dengar, atau merasa salah dengar.


Rani buru-buru meralatnya. "Cuma bercanda," gumamnya, meskipun sebenarnya dia tidak bercanda. "Habis nggak ada cowok yang mau sama gue."


Akan sangat menyedihkan jika itu benar, tapi untungnya tidak. Nasib Rani tidak semalang itu, dan Ghevin pun tahu itu.


"Nggak mungkin," tukas Ghevin. "Lo cantik dan menyenangkan. Pasti banyak cowok yang mau sama lo."


Perasaan Rani langsung sepenuhnya membaik. Ghevin menganggapnya cantik dan menyenangkan, dan itu pujian tertinggi yang pernah Ghevin katakan padanya. Rasanya Rani jadi ingin menari-nari di atas meja saking senangnya.


"Tapi kok lo nggak mau sama gue, Ghev?" tanya Rani nekat.


"Lo terlalu baik buat gue," jawab Ghevin.


Kenapa jawaban Ghevin jadi seperti alasan yang diberikan seseorang waktu mengakhiri hubungan dengan pacarnya? Dan bagaimana bisa Ghevin menganggap Rani terlalu baik untuknya?


Apa itu hanya untuk menutupi kenyataan bahwa Rani tidak memenuhi standar untuk bisa menjadi pacarnya?

__ADS_1


"Cari pacar, sana," kata Ghevin. "Jangan terlalu milih."


"Ntar kalo gue punya pacar, lo patah hati, lagi," goda Rani.


"Iya deh. Kalo gitu lo jangan punya pacar, ya," Ghevin balas menggoda Rani.


Rani memang tidak bisa membayangkan punya pacar lain selain Ghevin. Bahkan untuk jatuh cinta pada cowok lain pun rasanya sulit sekali.


"Lo niat banget ya, sampai mengatur makan malam buat Melly segala," kata Rani, berusaha mengalihkan pembicaraan sebelum Ghevin lagi-lagi menyuruhnya mencari pacar. Kalau dia mau menjadi pacar Rani sih boleh-boleh saja.


"Gue cuma takut Melly dapat cowok yang salah," kata Ghevin. "Dari kecil Melly bergantung banget sama gue. Kemana pun gue pergi, dia selalu mau ngikut. Susah banget memisahkan dia dari gue. Maka itu gue juga jadi terbiasa melindungi dia. Sekarang setelah dia punya pacar, gue merasa kehilangan."


Tiba-tiba Rani tertawa. Tawanya sangat-sangat menggelegar, sampai-sampai ayam garam yang sudah mati nyaris hidup kembali karena tawa Rani. Rani tahu seharusnya dirinya tidak tertawa karena Ghevin sedang sangat serius, tapi dia tidak bisa menahan diri.


"Lo tahu nggak, lo udah kayak bokapnya aja, bukan kakaknya."


"Kalo sama adik lo aja lo kayak begitu, apalagi kalo ntar lo punya anak cewek."


"Makanya gue ingin punya anak cowok aja," kata Ghevin.


"Oh, jadi Ghevin pengen punya anak cowok. Tapi gue pengennya anak cewek..."


Pikiran Rani malah melantur ke anak segala. Padahal dia masih SMA, dan seharusnya dia lebih memikirkan sekolah. Dia bahkan tidak punya bayangan sama sekali tentang masa depannya nanti, kecuali bagian dirinya menikah dengan Ghevin. Rani baru sadar betapa dangkal dirinya. Bagaimana dia bisa menjadi orang sukses kalau isi otaknya Ghevin semua? Rani harus mulai membenahi dirinya. Tapi tidak sekarang. Itu bisa dilakukan kapan-kapan. Yang terpenting saat ini dia harus fokus menghabiskan makanan yang sudah tersaji.

__ADS_1


Masalahnya, Rani mulai kenyang. Dia terus makan hanya karena ingin memperlama waktunya bersama Ghevin. Dia berharap perutnya kuat menampung semua makanan yang dipaksakan masuk.


"Kalo emang udah kenyang, lo nggak usah maksain makan, Ran," kata Ghevin tiba-tiba. Sepertinya dia bisa melihat Rani terancam jadi balon udara sekeluarnya dari restoran itu. "Dibungkus aja."


"Tapi dibagi dua, ya." usul Rani.


"Nggak usah, buat lo semua aja." tegas Ghevin.


"Siapa tahu Melly belum makan."


Ghevin tidak mendebat lagi setelah Rani menyebut nama Melly, tapi dia juga tidak melewatkan kesempatan untuk mengumpat Tristan. "Gue gepengin si brengsek itu kalo nyampe bikin adik gue kelaparan."


Setelah sisa makanan dibungkus dan Ghevin selesai membayar, dengan berat hati Rani mengikuti Ghevin berjalan ke luar. Rani bahkan rela kalau dirinya harus bantu-bantu cuci piring di restoran itu asalkan bisa tetap bersama Ghevin.


"Gue ke toilet dulu, ya," kata Ghevin sewaktu mereka melewati toilet.


"Jangan nyasar ya di dalam," canda Rani. "Ntar nggak ada yang nganterin gue pulang, lagi."


"Kalo gue nggak keluar dalam waktu satu jam, lo kirim tim SAR aja," balas Ghevin sebelum menghilang di balik pintu toilet.


Rani pun menunggu Ghevin sembari bersandar di dinding antara toilet cowok dan toilet cewek.


.

__ADS_1


.


(Bersambung)


__ADS_2