Gejolak Masa Muda 2

Gejolak Masa Muda 2
Identitas Bastian


__ADS_3

Masih di kafe 69. Sepeninggal Martin, Rani mengeluarkan ponselnya. Dan sambil minum dia pun menelepon Miko. Dia bermaksud akan memberitahukan pada Miko soal Martin menyebut-nyebut nama Bastian. Menurutnya, mungkin Bastian berhubungan dengan rencana Martin. Dan sepertinya dugaan Rani itu benar, sebab ternyata Miko tahu identitas Bastian.


"Setahu gue, Bastian ketua geng SMA Veteran," kata Miko.


Ketua geng lagi? Apa anak SMA zaman sekarang punya geng semua atau bagaimana? Mungkin ini semacam tren.


"Harusnya gue dan Melly ikut-ikutan punya geng juga. Gue yang jadi ketua geng, dan Melly wakilnya. Tapi siapa yang jadi anggotanya? Masa cuma kita berdua? Hm... kayaknya harus gue pikirin lagi rencana ini."


"Emang sih, bukan cuma ketua geng SMA Veteran yang namanya Bastian, tapi yang paling mungkin berhubungan dengan Martin ya cuma dia," lanjut Miko. "Lagi pula, Bastian juga bukan nama yang terlalu umum, bukan?"


Rani sendiri bahkan tidak pernah mengenal siapa pun yang bernama Bastian sebelumnya. Tapi kalau dia memang ketua geng SMA Veteran, ya pasti dialah yang dimaksud Martin.


"SMA Veteran emang merupakan salah satu sekolah yang dicurigai Ghevin akan diajak kerja sama oleh Martin," kata Miko. "Dulu Martin dan Bastian selalu kerja sama saat mereka lagi ada masalah dengan geng lain."


"Tapi kalo begitu, kenapa dulu Martin nggak langsung ngajak Bastian kerja sama aja?" tanya Rani. "Kenapa dia malah ngajak Tristan?"

__ADS_1


"Geng Bastian nggak sebesar geng Tristan," kata Miko. "Dan yang jadi musuh bebuyutan Ghevin kan Tristan. Jadi lebih masuk akal kalo dia ngajak Tristan. Selain itu, Martin juga tahu kalo Bastian respek sama Ghevin."


"Respek atau takut?" pancing Rani.


Miko terkekeh. "Takut sih sebenarnya," akunya. "Yah, selain Tristan, geng lainnya emang pada takut sama Ghevin. Dulu Martin juga sebenarnya takut, tapi nggak tahu deh kenapa sekarang dia malah mau nyari masalah begitu. Ghevin sengaja belum bertindak dulu, sebab kepingin tahu sampai sejauh mana rencana Martin. Siapa tahu Martin punya rencana cadangan. Jadi kalo sampai Ghevin bertindak sekarang, takutnya Martin malah menggunakan rencana yang belum kita ketahui."


Rani merasa bangga mengetahui orang-orang takut pada Ghevin. Di mata Rani dan para penggemarnya, Ghevin mirip dewa Yunani yang tak bercela. Tapi di mata cowok-cowok lain, Ghevin mungkin mirip Megatron.


Rani pun jadi membayangkan seandainya dia menjadi pacar Ghevin. Orang-orang pasti juga akan takut padanya. Siapa coba yang berani macam-macam pada pacar Megatron? Jangan-jangan Ghevin juga akan menyuruh anggota gengnya untuk mengawal Rani ke mana-mana.


Tanpa disadari, Rani jadi cengar-cengir sendiri. Dia bahkan tidak mendengarkan apa yang sedang dikatakan oleh Miko. Rani baru menyadari tingkah memalukannya ketika melihat orang-orang di sekitarnya menatap dirinya dengan tatapan mendingan-gue-buru-buru-cabut-dari-sini-sebelum-jadi-ikutan-gila. Rani pun segera menghilangkan cengirannya dan kembali fokus pada Miko.


"Sori, Mik, barusan lo nanya apa?" tanya Rani, ketika menyadari Miko sedang menanyakan sesuatu padanya tapi dia tidak mendengarnya.


"Gue tanya, apa tadi lo bilang belum ada jawaban dari Bastian untuk Martin?" Miko mengulangi pertanyaannya.

__ADS_1


"Iya," sahut Rani. "Mungkin dia ragu karena takut sama Ghevin. Nah, karena itu lo dan Ghevin harus bergerak cepat. Temuin Bastian dan yakinkan dia supaya nggak kerja sama dengan Martin. Kalo bisa lakukan malam ini juga, karena Martin mau besok udah ada jawaban dari Bastian."


"Gue akan bicara dengan Ghevin setelah ini," kata Miko.


Rani pun menutup telepon dengan perasaan puas. Kalau sampai Ghevin yang ditakutinya menemui Bastian, pasti Bastian akan berpikir seribu kali untuk kerja sama dengan Martin.


Rani segera menghabiskan iced cappuccino-nya dan mengambil uang Martin yang masih tergeletak di meja. Lumayanlah, Rani jadi bisa minum gratis hari ini. Mana masih ada kembaliannya pula. Tapi Rani tidak berencana menilapnya. Dia akan mengembalikannya pada Martin saat mereka bertemu lagi nanti. Rani berharap semoga saja Martin tidak mau menerimanya, jadi dia bisa menggunakan sisa uang itu untuk mentraktirnya. Sehingga Rani pun menjadi tidak rugi.


"Heran, sebenarnya gue niat nggak sih jadi mata-mata Ghevin? Masa gue nggak mau keluar uang sama sekali? Kalo jadi mata-mata, seharusnya kan gue modal sedikit. Kasihan juga Ghevin, punya mata-mata kere kayak gue."


Selesai membayar, Rani pun mengantongi kembaliannya dengan tekad mengembalikan sisa uang itu pada Martin saat mereka bertemu kembali di lain waktu.


.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2