
Hari-hari setelah itu bagai datang dan pergi begitu saja bagi Rani. Sudah tak terhitung berapa kali dia menangis. Ghevin selalu ada dalam pikirannya. Baru beberapa hari Rani tidak bertemu dengan Ghevin, tapi Rani sudah begitu merindukannya.
"Lagi apa Ghevin sekarang? Apa dia lagi nge-gym? Atau mungkin dia lagi berkencan dengan cewek? Apakah dia sudah makan? Gue harap dia nggak telat makan, karena gue nggak mau dia sakit."
Terkadang saat rasa rindu nyaris membunuhnya, Rani akan memandangi fotonya dengan Ghevin di Dunia Fantasi. Dia bersyukur karena tidak menghapusnya. Sedangkan gelang kado ulang tahun dari Ghevin, kini berada di bawah tumpukan pakaiannya.
Melly sangat mengkhawatirkan Rani. Tidak ada lagi teman sebangkunya yang selalu ceria dan membuatnya sering diomeli guru karena ketahuan mengobrol. Bahkan, karena Rani selalu berada di kelas pada jam istirahat, dia ikut-ikutan di kelas juga. Membuat Tristan jadi seperti cacing kepanasan karena sering ditinggal Melly.
Hari itu, ketika Rani lagi-lagi hanya mendekam di kelas pada jam istirahat, Melly untuk pertama kalinya kembali mengungkit soal Ghevin setelah beberapa hari kemarin menghindari topik itu.
"Sebenarnya gue ragu apa gue harus ngomong soal ini atau nggak," kata Melly. "Gue nggak mau lo semakin sedih karena Ghevin. Tapi gue rasa lo perlu tahu."
Nama Ghevin sukses membuat Rani langsung duduk dengan tegak, setelah sebelumnya hanya bersandar malas-malasan ke bangkunya. Rani lantas menatap Melly, tidak sabar menunggu Melly melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
"Ghevin nanyain lo terus," lanjut Melly. "Dia khawatir banget sama lo."
Seharusnya Rani senang mendengarnya, tapi nyatanya tidak. Dia justru ingin Ghevin berhenti mengkhawatirkan dirinya.
"Sekarang dia juga nggak pernah nge-date sama cewek lagi," kata Melly. "Bahkan sekadar telepon-teleponan juga nggak pernah. Dia malah lebih sering ada di rumah. Atau kalo keluar pun, paling cuma buat nonton sendirian."
"Salah gue... Itu semua salah gue! Gue yang menyebabkan Ghevin jadi seperti itu. Mungkin dia akan merasa semakin bersalah kalo bersenang-senang dengan cewek lain setelah nolak gue. Dia melakukan itu untuk menghukum dirinya sendiri."
Melly terlihat ragu. "Ghevin mana percaya sih kalo lo move on secepat itu?" protesnya.
"Pokoknya lo harus ngeyakinin dia bahwa nggak ada yang perlu dia khawatirin dari diri gue," tandas Rani. "Ya, Mell? Please?"
Melly masih terlihat ragu, dan setelah Rani mempererat cengkeramannya pada tangan Melly, barulah dia menyahut, "Oke."
__ADS_1
Rani tidak bisa hanya mengandalkan Melly. Dia juga harus bisa mengatasi patah hatinya, karena hanya dengan begitu, Ghevin bisa membebaskan dirinya dari rasa bersalah.
Apa yang bisa membantu Rani mengalihkan pikirannya dari Ghevin? Lalu yang terpikirkan oleh Rani adalah tugasnya sebagai mata-mata Ghevin. Dia tahu hal itu memang masih
berhubungan dengan Ghevin, tapi dia tidak bisa memikirkan hal lain. Lagi pula, tugasnya memang belum selesai, dan mungkin masih banyak informasi yang bisa dia korek dari Martin.
Masalahnya, Rani sudah berjanji pada Ghevin untuk tidak lagi menjalankan tugasnya itu. Haruskah Rani melanggar janjinya? Dan masih maukah Miko menjadi rekannya? Rani memang belum memberitahu Miko bahwa Ghevin menyuruhnya berhenti—sekaligus memarahi Miko karena sejak awal dia membongkar soal Rani menjadi mata-mata Ghevin pada Ghevin-nya sendiri, dan membohongi Rani selama ini–tapi bisa jadi Miko sudah mengetahuinya dari Ghevin.
Cukup lama Rani berpikir, sampai akhirnya dia memutuskan untuk melanggar janjinya dan akan kembali menjalankan tugasnya itu—dengan atau tanpa Miko. Meskipun Ghevin tahu tidak apa-apa. Karena bagi Rani semua demi kebaikan Ghevin juga.
.
(Tbc)
__ADS_1