
Sepertiga malam Desi bangun membersihkan diri
kemudian melaksanakan Shalat sunah dua rakaat
memohon ampun kepada Allah,Tuhan Pencipta Alam Semesta.Tidak lupa mendo'akan kedua orang tua juga memohon untuk diberikan yang terbaik untuk diri nya.
Fa'at terbangun mendengar lantunan Ayat suci yang Desi baca.Fa'at menatap Desi dengan rasa bersalah"Maaf..."lirih nya.
Desi terus melantunkan ayat suci hingga waktu subuh.Suara adzan berkumandang di tempat tempat ibadah menyeru umat muslim untuk beribadah mengingat Tuhan Yang Maha Esa.
Desi pun melaksanakan kewajiban nya sebagai seorang muslim.
Fa'at turun dari ranjang membersihkan diri di kamar mandi kemudian meraih baju koko juga sarung disana,mengenakan kopyah menuju masjid terdekat.
Pagi ini maimunah yang biasa disapa mai itu sedang bertempur menggunakan alat alat dapur terdengar hingga ke telinga Desi yang kebetulan sedang berjalan menuju dapur mengambil air minum.
Seketika Desi teringat restoran Aisyah di Kairo kala pagi hari sibuk dengan kegiatan di resto yang terkadang mengheboh kan.Dentingan alat dapur yang seolah seirama dengan hati nya ketika membantu chef memasak atau mengganggu nya dengan ocehan khas Desi kala itu.Desi teringat teman teman disana juga tidak terkecuali Kristian.
Desi menghela keluar dari lamunan nya menuju dapur."Kau sedang apa mai?"Sapa Desi ramah.
"Kau sudah bangun nona?eh..maaf,maksud ku mba Desi."ujar nya.
" Panggil saja Desi...D..E..S..I.."Desi mengeja menerangkan nama nya.
"Tidak,mba Desi saja.Anda tetap lah istri mas Fa'at yang harus saya hormati." pungkas nya.
Desi meraih pisau disana,membuka Freezer mengeluarkan daging disana.
"Mba Desi,anda kekamar saja.Biar aku yang memasak." mai merasa tidak enak pada Desi yang ingin membantu nya.
"Kau meragukan kemampuan ku?Baik lah..."Desi menarik kursi kemudian mendudukan mai disana.
" Diam disini jangan berkata apapun!!Diam dan hanya bernafas.!!"tegas Desi.
Mai mengangguk mengiya kan."Apa yang akan anda perbuat nona?Aku masih ingin bekerja,jangan buat masalah nona,kumohon.."gumam Mai dalam hati mengingat kejadian semalam.
Desi memulai aksi nya,membuka kulkas mengeluarkan beberapa sayuran, kelapa dan rempah rempah juga bahan bahan lain nya.
Desi memasak dengan sangat cekatan seperti seorang chef di acara televisi.Karena memang maimunah tidak pernah bertemu atau melihat secara langsung.
Mulut Mai menganga ketika masakan telah siap untuk dihidang kan.Desi menyuapkan rendang buatannya ke mulut mai,benar benar lezat seperti masakan padang yang ada di restoran.
"Subhanallah..ini lebih enak dari masakan padang yang waktu itu nyonya pernah mengajak ku makan di restoran.
Desi dan Mai menyiapkan hidangan di meja makan.Desi mengajari cara menata meja makan.
Mai antusias mengikuti yang Desi ajar kan.
" Anda luar biasa nona,ini seperti di restoran."
"Bukan nona,tapi DESI." ujar nya menekan kan kalimat.
__ADS_1
"Eh iya maaf,maksud ku Desi."ujar nya.
Desi berlalu meninggalkan tempat itu menuju kamar nya.Fa'at pulang dari masjid langsung menuju kamar." Assalamu'alaikum."ucap Fa'at membuka handle pintu disana.
"Wa'alaikumsalam." jawab Desi yang sedang duduk di meja rias memoles wajah nya.
"Maaf..."
"Untuk apa?" tanya Desi.
"Kau kecewa?" Fa'at balik bertanya.
"Tidak ada,aku tidak apa apa." Senyum Desi pada suami nya.
"Terimakasih untuk pengertian mu.Aku akan berusaha mengobati nya." lirih nya.
Keluarga besar Fa'at sudah berkumpul di meja makan."Mai,panggil kan mas Fa'at."ucap ibunda Fa'at.
"Baik nyonya." mai bergegas meninggalkan ruang makan menuju kamar Fa'at dan Desi.
tok..tok..
"Mas Fa'at dan mba Desi dipanggil nyonya."
Fa'at membuka pintu."Mas,ditunggu di meja makan."ujar Mai.
"Baik lah mai,tunggu di meja makan."
"Sayang,kita dipanggil ibu." ucap Fa'at pada istri nya.
Desi bangun dari duduk mengikuti suami nya.
Tatapan tidak suka terlihat dari sorot mata seluruh anggota keluarga kecuali oma. Desi menghela."Sabar Desi..sabar..."gumam desi dalam hati.
Fa'at sangat memahami situasi kemudian menggenggam tangan Desi agar berjalan di samping nya.
Desi dan Faat menuju kesana kemudian duduk berdampingan.
"Begini kah mantu mu mbak yu?jam segini baru keluar dari kamar." ucapan bibi Fa'at benar benar menusuk.
"Tatapan mereka semakin menyebal kan." geram Desi dalam hati.
"Bismillah." Faat kemudian memimpin Do'a makan
segera untuk menghindari mereka yang ingin terus membuat masalah pada Desi.
Semua menikmati hidangan di meja makan.
"Enak sekali masakan mu Mai,Lihat mbak yu..
Ajari juga mantu mu masak!!jangan hanya wajah terus yang di poles!!" ujar bibi lagi.
__ADS_1
"Benar itu,wanita itu harus pinter masak?! mulai besok belajar lah sama Mai?!" ucap ibu mertua meninggikan suara.
Desi hanya tersenyum mengangguk mengiyakan.
"Ini masakan ku..!!" gumam desi dalam hati.
"Enak kan nyonya?jauh lebih lezat dari ketika nyonya mengajak ku makan di restoran padang waktu itu.Tapi maaf sebelum nya nyonya.Ini semua mba Desi yang memasak,bukan saya."
Bla..bla..bla...Mai menceritakan kejadian tadi pagi.
"Saya hanya duduk diam dan bernafas,begitu kata mba Desi."
Oma tertawa geli."Bagaimana mantu ku?cucuku tidak salah memilih istri bukan?."ucap oma pada ibu Fa'at menantu nya.
Desi menarik ujung bibir nya samar.Tanpa Ia berkata apapun semua nya sudah bungkam dengan sendiri nya.
"Terimakasih sayang,ini enak sekali." ucap Fa'at pada istri nya dengan lembut.
\*\*\*
Disisi lain Kristian bergegas untuk pergi ke kantor dengan stelan jas dan sepatu mengkilap disana menuruni tangga rumah dengan tergesa sambil mengenakan arloji di tangan nya.
"Kau terburu buru sekali nak,sarapan lah bersama kami." ucap Nyonya Ramadhian.
Kris menghampiri mereka meraih sepotong roti
"Aku pergi dulu tuan,maaf tidak mengantar mu."
ujar nya sambil berlalu dengan tergesa menuju mobil sport yang telah disiap kan di depan pintu utama.
Nyonya Ramadhian menggelengkan kepala melihat tingkah Kris yang seperti biasa gila akan pekerjaan.Sikap profesional nya tercermin ketika Ia tidak pernah terlambat sedetik pun.
"Mana kunci nya,aku ingin pergi sendiri."ujar Kris pada sopir yang telah siap untuk mengantar.
" Ini tuan."Sopir memberikan kunci mobil,secepat itu Kris meraih nya.
"Bismillah" Kris menginjak pedal gas melaju meninggalkan tempat itu,Seorang security membuka Gerbang utama,Sedikit membungkuk memberi hormat.Kris membunyikan klakson dan menurunkan kaca"Terimakasih, ini untuk mu."
Kris memberikan sepotong roti yang Ia ambil di meja makan tadi.
"Terimakasih tuan." Antusias security menerimanya dengan sangat gembira.
Kris menaik kan kaca mobil menginjak pedal gas melaju meninggalkan kediaman tuan Ramadhian.
-
-
Terimakasih sudah membaca..maaf jika banyak kesalahan dan tempo bertebara...like..like..like..
Terimakasih
__ADS_1