Goodbye KRISTIAN

Goodbye KRISTIAN
honeymoon part 3


__ADS_3

Di dalam gedung rumah sakit di kota Tokyo, Tim medis bergegas mendorong Kristian menuju ruang operasi.


Pakaian yang berlumuran darah telah di tanggalkan, alat alat medis telah di pasang.


Desi tidak di perkenankan masuk, menunggu dengan air mata yang terus bercucuran berkomat Kamit terus membaca do'a do'a.


Pengamanan super ketat disana. Mr Tsaichi mengerahkan semua bodyguard nya untuk berjaga-jaga.


Ia duduk menunggu di ruang tunggu operasi, meremas tangan nya gemetar dengan dada yang terus berdebar, berharap tidak terjadi apapun, sesuatu yang Ia takutkan dengan suami nya karena kehabisan darah.


Desi meremas ponsel nya, ingin sekali menghubungi mertua nya namun Ia urungkan.


Tentu akan terjadi kepanikan luar biasa di kediaman tuan Ramadhian jika mengetahui kabar sang putera.


Desi mondar mandir panik hingga terasa lelah terjongkok sambil menyandar di dinding.


Terus berdo'a untuk keselamatan Kristian.


Jarum Jam di dinding terus berputar, jam berganti menit pun terus berganti.


Seorang Dokter bedah keluar dari kamar operasi.


Desi bergegas mendekati Dokter itu.


"Doctor, how is my husband doing? Her is okay"


"Mr. Kristian is fine, you can see him in an hour"


Jawab Dokter kemudian berlalu dari sana.


Desi bernafas lega, kembali duduk menunggu lagi hingga satu jam kedepan sesuai anjuran Dokter tadi.


Desi bangkit dari duduknya setelah nama keluarga Kristian di panggil oleh perawat mengizinkan untuk Kristian di jenguk.


Desi melangkah masuk. Perlahan mendekati Kristian yang terbaring dengan jarum infus masih melekat di tangan nya. Nasal oxygen cannula masih terpasang di sana.


Mata Kristian masih memejam, beberapa alat medis masih terpasang di dada bidang nya.


***


Orang yang berhasil lolos dari Bodyguard Mr Tsaichi melesatkan mobil nya melewati jalan lain memutar dan memastikan tidak ada yang mengikuti, kembali menghadap tuan nya


Memasuki Kediaman itu dengan tergesa melaporkan kejadian tadi tanpa terlewat sedikitpun. Hingga tembakan yang meleset dan salah sasaran akibat Kristian menyelamatkan istrinya.


"BODOH!!."


Pllaakkk!!


"Ampun tuan."


Pria itu berlutut setelah mendapatkan tampar*n yang cukup pedih di pipi nya.


"Bedebah! Kenapa bukan kau saja yang mati. Bodoh!!".


"Ampun tuan."


Ucapan itu yang berkali kali keluar dari bibir nya setelah mendapatkan makian dari tuan nya karena gagal menjalankan misi.


"Aku menyuruhmu menghabisi istrinya tanpa jejak, bukan menembak Kristian dan mengejar nya. BODOH!!."


Prang!!


Melempar gelas yang berada di meja.


"Kita dalam masalah besar! Buat rencana B, Pastikan Kristian tewas atau habisi saja kedua nya."


"Lacak rumah sakit yang merawat nya, dan pastikan Ia tewas disana!"


"Baik tuan."

__ADS_1


Sedikit membungkuk masih dengan berlutut di hadapan tuan nya itu.


Mulai bangkit ketika tuan nya telah berlalu dari hadapannya kemudian bergegas keluar dari tempat itu dengan pelayan mulai membersihkan bekas pecahan gelas disana.


***


Kristian membuka mata setelah di pindahkan ke ruang perawatan dengan fasilitas VVIP.


Desi menggenggam tangan Kristian, mengulas senyum sambil mengusap air mata nya.


"Maaf"


Lirih Kristian menatap Desi kemudian memejamkan mata.


"Untuk apa, Kau begini karena aku. Akulah yang bersalah disini."


Desi mengusap pipi Kristian.


"Aku membuat mu menangis"


Berkata dengan mata yang masih memejam.


"Bisa bisa nya berfikir seperti itu di saat begini. Aku hanya takut terjadi sesuatu pada mu ".


Menyentuh lengan kekar yang tertutup perban.


"Ini pasti sakit kan."


"Tidurlah di samping ku. Ini sudah hampir pagi, bahkan sedikitpun kau belum memejam."


Kristian meringsut menggeser tubuhnya, menepuk bantal agar Desi berbaring di samping nya.


Desi pun mengikuti keinginan Kristian, Tidur di sampingnya, Mengecup dada bidang itu perlahan pun ahirnya perlahan mata Desi memejam.


Aku mencintaimu Kristian


"Kau pasti sangat lelah dan ketakutan tadi, maaf seharusnya aku menjagamu dengan baik."


Kristian meraih ponsel, Mengetik melakukan panggilan.


"Jangan temui aku hingga esok pagi, segera temukan otak dibalik semua ini. dan perketat penjagaan untuk istri ku."


"Baik tuan."


Asisten Mr Tsaichi menjawab di sana.


Melaporkan pada tuan nya yang hendak menuju ke rumah sakit.


"Kita putar arah, lakukan perintah Mr Kristian esok pagi aku akan menjenguk nya. Seperti nya Dia tidak ingin di ganggu."


"Baik tuan."


Asisten itu kembali mengantar tuan nya menuju hotel, menghela nafas karena pekerjaan nya semakin bertambah berat.


"Tuan istirahat lah di hotel."


Membukakan pintu mobil untuk tuan nya.


"Segera laporkan siapa siapa yang terlibat"


Menepuk bahu asisten nya. Kemudian melangkah lebar memasuki hotel.


"Baik tuan."


Pria itu membungkuk mengerti.


"Apa tidak sebaiknya kita beritahu saja tuan Ramadhian?."


Berkata sambil mengikuti tuan nya dari belakang.

__ADS_1


"Tidak, aku yakin Mr Kristian pun tidak akan melakukan nya. Kita dalam masalah besar jika Mr Ramadhian murka"


Menekan tombol di samping kemudian lift khusus itu terbuka.


"Baik tuan aku mengerti."


Diam sejenak hingga lift yang mengantarkan mereka berhenti.


"Kembali lah, aku tunggu laporan mu selanjutnya."


Mr Tsaichi keluar dari lift setelah pintu kubaikel besi itu terbuka.


"Akan aku pastikan sendiri anda masuk kedalam kamar dan beristirahat dengan tenang seperti biasanya tuan."


"Dasar bodoh! Tidak akan ada yang mencelakai ku di dalam hotel ku sendiri."


"Tapi aku harus memastikan itu."Asisten Mr Tsaichi membukakan pintu kamar, sedikit membungkuk sebelum pintu kamar itu tertutup.


Asisten Mr Tsaichi kembali ke lantai bawah, bergegas menuju mobil nya melesat kan dengan kecepatan tinggi di sana.


Sinar matahari sudah mulai nampak dan sial nya pria yang sedang melajukan mobil nya ini belum juga memejam.


Terus melesatkan mobilnya meski rasa kantuk mulai menjalar.


Ciiiittttttt


Memarkirkan mobil nya sembarangan di depan gudang tua milik Mr Tsaichi.


"Selamat datang tuan."


"Apa yang terjadi?Mereka mau buka mulut?."


Melangkah dengan tergesa memasuki gudang tua itu.


"Brraakk!!."


Asisten menendang pintu melampiaskan kemarahannya membuat semua orang terperanjat menelan Silva.


Glek.


Menarik Krah leher pria itu yang berdiri terikat dengan tangan tergantung ke atas dan mulut yang tersump*l.


Bugh.. Bugh..Bugh..


Hantam*n bertubi tubi melampiaskan kekesalan nya menghilangkan rasa lelah dan kantuk disana.


"Kata kan apapun yang kau ketahui. Bicara atau jika tidak kalian tetap aku habisi."


Mmmm mmmm


Mulut ku tersumpal mana mungkin bisa bicara brengs*k!!


"Hahaha"


Asisten itu terbahak bahak.


"Kau tidak bisa bicara?Apa kau sedang mengumpat dan menyumpahi ku! Brengs*k!!."


Bugh . Bugh.. Bugh..


Asisten menarik kain yang menyumpal mulut mereka.


"Uhuk uhuk"


Mereka terbatuk batuk.


Bugh..!! Bugh..,!!


Asisten terus melampiaskan kemarahan nya membabi buta, hingga seorang Bodyguard mencegah nya " Dia bisa mati boss"

__ADS_1


-


Next


__ADS_2