
Hengki masih termenung didalam kamar Abah hanya Dia yang Abah izinkan masuk selama Abah pergi.
Menyentuh figura mengingat baik baik pesan Abah pada nya.
Hengki menarik nafas nya dalam, entah apa yang membebani fikiran nya mengingat ketika
pagi tadi Ia mengantar Abah bersama rombongan jama'ah haji lain berangkat menggunakan bis dengan senyum yang teduh mengiringi langkah Abah.
"Berhati hati lah, jaga adik mu dengan baik. Perbaiki ibadah mu setiap hari nya,"
Abah menepuk bahu Hengki.
" Jagalah Amanah Abah dengan baik, Abah bangga pada mu."
"Abah yang hati hati, mudah mudahan Abah memperoleh haji yang mabrur."
"Hengki akan berusaha menjaga amanah Abah, untuk berhati-hati terhadap wanita.
Kalau tentang jodoh Hengki belum memikirkan ke arah itu.
Namun seperti yang Abah harap kan, Hengki ingin mencari wanita muslimah yang taat."
Hengki memeluk Abah dan mempererat pelukannya sebelum Abah berlalu menaiki bis tanpa menoleh ke belakang.
Tok.. tok...
"Mas, kau masih di dalam?."
terdengar suara Harli mengetuk pintu kamar Abah.
Seketika Hengki bangkit dari duduk menyimpan figura di tempat biasa Abah meletak kan nya kemudian bergegas meraih handle pintu.
"Jika mau bicara, langsung ke kamarku saja."
Ujar Hengki menemui Adik nya sambil menutup dan mengunci pintu kamar Abah kemudian memasukkan kunci kamar Abah kedalam saku celana nya.
Harli hanya mengherdikan bahu sambil mengikuti Hengki yang berjalan menuju kamar nya tanpa bertanya.
Meski penasaran mengapa hanya Hengki yang diizinkan masuk ke dalam kamar Abah.
Apa yang Abah sembunyikan ya?
Meskipun tadi Harli ikut mengantar Abah, namun Abah tidak mengatakan apapun selain agar Harli menjaga ibadah nya dengan baik. Kata kata yang selalu Abah ucapkan hampir setiap harinya tidak ada yang istimewa bagi Harli.
"Mas tidak bekerja?."
Harli merebahkan diri di ranjang di kamar Hengki.
"Tidak, izin satu hari tidak masalah. Kau sendiri?."
"Tidak juga. ingin menghormati pergi nya Abah, jadi izin satu hari juga."
"Harum sekali kamar mu mas."
Harli menghirup aroma maskulin di kamar itu.
"Aku ingin tidur disini sebentar."
"Tidurlah, jangan menggangguku."
Hengki menarik kursi duduk di meja kerja nya membuka layar lipat menyelesaikan tugas tugas nya.
Harli pun membiarkan Hengki dengan kesibukan nya memilih membuka ponsel dan membaca komentar dari para penggemar komik nya.
***
Di dalam rumah sakit Ibu dan Anak, tepat nya di ruangan VIP perawatan Ibu bersalin.
Mai duduk menyandar di atas bed rumah sakit rambut panjang nya tergerai sambil menyusui putri nya dengan selang infus masih terpasang di tangan.
"Dia cantik, tapi mirip sekali dengan ku."
__ADS_1
Ujar Faat sambil mengusap usap pipi lembut putri kecil nya.
Kemudian mengecup pucuk kepala istri nya sambil menyelipkan rambut panjang nya di telinga.
"Mudah mudahan sifat nya pun menurun dari mas Faat."
Mai tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia, terus tersenyum dan menciumi tangan kecil putri nya yang Ia genggam.
"Mas pria yang baik, sabar, Sosok suami yang semua wanita rindukan. Mas juga seorang anak yang patuh. Yang paling penting Akidah mas selalu terjaga. Kelak aku ingin anak kita seperti mu."
Mengecup tangan mungil putri nya lagi dan lagi.
"Dan juga penyayang seperti mu, "
Mencubit pipi istri nya.
Faat membuka tas Mai mengeluarkan ikat rambut membantu Mai mengikat rambut nya.
"Aku bantu ikat ya, Biar kau terlihat lebih nyaman."
Mai mengangguk "Terimakasih."
"Kenakan hijab nya, Ayah sebentar lagi datang."
Faat membantu Mai memasangkan hijab nya.
Meletakkan tangan di pipi, mengecup bibir Mai kemudian.
"Mas! ada anak kita, jangan cium aku sembarangan.'
"Dia masih bayi, belum mengerti kan."
"Terimakasih Sayang, kau berjuang untuk anak ku dan keluarga ku selama ini."
"Mas, itu sudah kewajiban. Aku senang melakukan nya, ada kebahagiaan tersendiri saat kalian semua membutuhkan aku."
Mai tersenyum pada Faat suami nya.
"Kau sangat baik Mai, maaf terlambat menyadari nya. Aku bersyukur Almarhumah Ibu meminta ku menikahi mu, Ini lah alasan nya karena kau mampu membahagiakan semua orang. Maaf semua baru aku sadari setelah menikah dengan mu "
"Aku mencintaimu Mai."
"Mas Faat.."
***
Sementara Ayah Jaya sedang berdo'a di tempat ibadah. Berkali kali berucap syukur Ia panjatkan pada Allah Tuhan Yang Maha Penyayang dengan berlinang Air mata.
Mengingat kejadian semalam ketika cucunya lahir di dalam mobil.
Sedangkan tembuni (placenta) nya masih tertinggal di dalam sana.
Tentu saja panik nya bukan kepalang Ayah Jaya saat itu.
Oe..oe..
Bayi Mai terus menangis, kemudian Faat meraih putri mungil nya perlahan yang masih berlumuran darah sedangkan tali pusar masih menghubung ke dalam sana.
"Ayah, Percepat mobil nya! Placenta nya masih di dalam."
"Oh ya Tuhan.. Cucuku."
Ayah jaya menginjak pedal gas melesat mobil nya.
tinn...
tiiiinnn...
tiiiinnn...
Ayah membawa mobil nya melaju kencang melewati mobil di depan nya.
__ADS_1
"Bertahan lah sayang.."
oe..oe..
Bayi Mai terus saja menangis membuat Ayah dan Faat semakin panik.
Sedangkan Mai terus berucap istighfar dengan sedikit tenaga Ia melafadz kan nya.
"Bertahan lah sebentar lagi, maafkan aku.."
Faat mengucapkan do' a Do'a dengan berlinang air mata memohon agar diselamatkan putri dan istri nya
"Kita hampir sampai Nak Mai, bertahan lah sebentar lagi."
Ujar Ayah.
Mobil melesat melewati mobil mobil di depan nya menuju rumah sakit memarkirkan mobil itu de depan IGD.
Ayah turun dari mobil bergegas meminta bantuan pada perawat.
"Bu, tolong anak dan cucu saya.Ia melahirkan di dalam mobil "
Seketika tim medis mendekati mobil mendorong bed dan bergegas mengeluarkan Mai dan bayi nya dari sana membawa kedalam ruangan IGD.
"Mohon tunggu di luar tuan."
Seketika perawat menutup pintu.
Faat sangat gusar, mondar mandir kesana kemari menunggu di luar.
Faat tidak perduli lagi dengan tangan dan tubuh nya yang terdapat banyak darah bekas menggendong putri nya tadi
Hampir satu jam sudah Mai berada di dalam, hingga seorang perawat keluar mengatakan
"Anak dan istri anda baik baik saja."
"Alhamdulillahirobil'alamin."
*****
Tok..tok..
"Apa Ayah boleh masuk Nak,?."
Terdengar suara Ayah di balik pintu.
"Masuk lah Ayah."
Jawab Faat.
Ayah Jaya membuka pintu, masuk kedalam ruang perawatan Mai dengan senyum mengembang di wajah yang tidak lagi muda itu.
Tangan kanan Ayah mebawa parsel berisi buah buahan sedangkan tangan kiri membawa paper bag mendekati Mai dan Faat.
"Ini hadiah dari Opa untuk cucu ku.,"
Menyerahkan paper bag itu pada Mai.
Mengecup pipi cucunya kemudian.
"Terimakasih Opa,"
Mai menerima paper bag itu dengan senyum yang manis.
"Kalau yang ini untuk Ibu nya."
Menyerahkan parsel pada Faat.
"Kau bisa kupaskan buah nya kan Faat?!."
Mai tertawa bahagia, melihat ekspresi Faat yang dibuat buat seperti di anak tirikan.
__ADS_1
Alhamdulillah... puji syukur selalu aku panjat kan untuk Engkau ya Tuhan.
Yang memberiku kebahagiaan melebihi yang aku impikan.